Ilham Habibie: Terdapat Dua Kelompok Kota dari Ekosistem Startup di Indonesia | Villagerspost.com

Ilham Habibie: Terdapat Dua Kelompok Kota dari Ekosistem Startup di Indonesia

Ilham Habibie memaparkan laporan tentang tren Ekosistem Startup di Indonesia di kantornya di Mega Kuningan, Rabu (8/8). (dok. berkarya institute)

Jakarta, Villagerspost.com – Berkarya Institute yang diketuai oleh Ilham Habibie, memberikan laporan tentang tren Ekosistem Startup di Indonesia di kantornya di Mega Kuningan, hari ini, Rabu (8/8). Lembaga ini adalah sebuah think tank (wadah pemikir) tentang Inovasi yang terdiri dari para pemikir, praktisi industri dan akademisi yang bekerja sama untuk menumbuhkan pemahaman lebih baik tentang peluang dan tantangan yang muncul karena teknologi disruptif serta emerging technology.

Lembaga ini bertujuan untuk menciptakan analisis serta informasi yang dapat diterapkan yang akan berpengaruh secara langsung terhadap kegiatan-kegiatan di tingkat akar rumput.

Melalui siaran persnya, didapatkan laporan tentang dua kelompok kota yang menjadi ekosistem startup di Indonesia. Kelompok kota ini ditemukan setelah melalui survei mendalam di tingkat nasional, dan Berkarya Institute yang bekerja sama dengan Natio Cultus, menemukan sejumlah indikasi tren.

Pemetaan ekosistem startup Indonesia dilakukan dalam dua fase. Fase pertama dilakukan selama tujuh bulan dan didapatkan hasil adanya sebuah ekosistem startup yang dinamis dengan dua kelompok kota yang memiliki perbedaan jelas dalam hal demografi pendiri, sebaran industri, kematangan model bisnis dan skala operasi.

Kelompok ekosistem startup pertama terdiri dari kota-kota yang cukup matang seperti Jakarta, Denpasar, Yogyakarta, dan Surabaya. Jakarta, Denpasar dan Yogyakarta merupakan kota yang menjadi pusat startup Layanan Teknologi Informasi. “Meskipun tidak sama, Surabaya juga bisa dimasukkan ke dalam daftar kelompok ekosistem ini,” demikian, ungkap Ilham.

Kelompok pertama ini memiliki kesamaan karakteristik. Di antaranya adalah memiliki pendiri dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi, serta proporsi yang lebih tinggi untuk perusahaan yang didirikan sebagai PT atau CV. “Kelompok ini memiliki persentase pendiri wanita per perusahaan yang lebih rendah, tetapi persentase yang lebih tinggi untuk rata-rata jumlah pendiri per perusahaan,” jelas Ilham.

Selain itu, kelompok pertama ini juga memiliki persentase yang lebih tinggi untuk perusahaan yang telah menerima paten dan merek dagang. Startup di kota-kota ini juga mendapatkan pendanaan eksternal yang lebih baik dan memiliki rata-rata permintaan investasi yang lebih tinggi.

Kelompok kedua terdiri dari kota-kota yakni Padang, Batam & Bandung. Kota Batam dan Bandung memiliki proporsi besar untuk perusahaan yang bergerak di industri Makanan & Kuliner serta Pakaian & Ritel, diikuti oleh kota Padang.

Karakteristik kelompok kedua adalah memiliki persentase tertingi untuk perusahaan perseorangan serta proporsi yang lebih tinggi untuk pendiri yang berpendidikan tertinggi setara SMA. Kelompok kedua ini juga memiliki persentase yang sangat tinggi untuk pendiri wanita per perusahaan dan rata-rata yang lebih rendah untuk jumlah pendiri per perusahaan.

“Startup yang berasal dari kota-kota dalam kelompok ini memiliki proporsi yang tinggi untuk pendanaan sendiri atau pendanaan dari kerabat dan keluarga, serta permintaan investasi yang jauh lebih kecil,” papar Ilham.

Hal yang jelas membedakan kedua kelompok tersebut memberikan masukan secara strategis untuk pemangku kepentingan, dalam menciptakan hub/pusat industri yang spesifik serta menyediakan keterampilan dan pelatihan teknis yang sesuai.

Sachi Gopalan, CEO Chairos Consulting mengatakan, “Kondisi ekosistem startup Indonesia saat ini, sangat mirip dengan ekosistem startup di India pada tahun 2008.” Sachi Gopalan merupakan salah satu rekan dari Berkarya Institute.

Nalin Singh, penulis buku “Get Funded Now”, yang turut hadir di acara ini menyatakan, tantangan selanjutnya adalah memberikan pemahaman yang lengkap mengenai hal-hal yang diperlukan untuk mengembangkan perusahaan.

“Masalah yang ditangkap bukannya kurangnya jumlah karyawan, tapi juga dasar-dasar literasi keuangan dan investasi, serta kurangnya fokus produk. Selain itu, yang menjadi masalah juga tidak memadainya ekosistem pendanaan dari para investor High Net Worth dan Angel, sehingga menciptakan kesenjangan investasi,” ujarnya.

Hasil dari laporan ini akan ditindaklanjuti dengan diadakannya ‘Indonesia Fund Fest’ pada tanggal 20 September 2018. Sedianya acara ini akan menjadi festival pendanaan yang menjadi peluang bagi startup untuk mengajukan permohonan dan menyampaikan pitch kepada sejumlah investor secara langsung.

Laporan: Hesti Al Bastari

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *