Impor Pangan Cara tak Cerdas Kendalikan Harga | Villagerspost.com

Impor Pangan Cara tak Cerdas Kendalikan Harga

Peternakan sapi lokal. DPR minta pemerintah kembangkan peternakan sapi lokal (dok. lampungprov.go.id)

Peternakan sapi lokal. DPR minta pemerintah kembangkan peternakan sapi lokal (dok. lampungprov.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Anggota Komisi VI DPR RI Aria Bima mengatakan, kebijakan impor bahan pangan untuk kebutuhan dalam negeri adalah cara yang tidak cerdas. Menurutnya pemerintah harus mencari cara agar negara bisa memenuhi secara mandiri, segala kebutuhan dalam negeri.

“Impor saja semua. Enggak perlu cerdas-cerdas amat menyelesaikan hal itu,” sindir Aria seperti dikutip dpr.go.id, Selasa (31/5).

(Baca juga: Impor Bawang Merah Hancurkan Petani)

Dia mengatakan, kebijakan impor harus diperhitungkan lagi, harus ada solusi cerdas mengatasi masalah ketersediaan pangan. “Contohnya hari ini, harga gabah di tingkat petani, jeblok. Harga kering panen, harga kering hilir, jeblok kabeh. Terus gimana menyikapinya?” keluh Aria.

Menurutnya, kenaikan harga pangan kebutuhan pokok saat memasuki bulan puasa dan masa lebaran, harus dicarikan solusi yang permanen, yang bisa digunakan dalam jangka waktu yang panjang. Permasalahan yang diatasi dengan cara yang tidak tepat bisa jadi hanya menutup masalah untuk sementara waktu, dan akan timbul masalah yang sama di kemudian hari.

“Ketersediaan pangan untuk mencukupi ramadan dan lebaran, pemerintah harus mengacu pada konsep makronya dalam kaitan kita mengarah pada kedaulatan pangan,” ungkap Aria.

Dia mengingatkan agar pemerintah jangan selalu membuat panik dan heboh masyarakat dalam upaya mengendalikan harga pangan, khususnya jika menyangkut impor. Menurutnya mengimpor kebutuhan bahan pokok bukanlah solusi permanen.

“Itu hanya bisa mengatasi masalah untuk sementara waktu, sehingga semuanya diselesaikan dibikin impor-impor dan impor, gampang,” kata Aria.

Pada kesempatan berbeda, Sekretaris Kabinet Pramono Anung menegaskan, Presiden Joko Widodo saat ini tengah berupaya keras untuk membalik image bahwa harga pangan saat puasa dan lebaran harus tinggi. Dia menilai, naiknya harga pangan di saat-saat tertentu merupakan upaya “tangan-tangan kuat” yang ingin mempermainkan harga tersebut.

Pramono menegaskan, Presiden sudah berulang kali memberikan instruksi kepada menteri pertanian, menteri perdagangan, menteri BUMN untuk menurunkan harga beberapa komoditas utama. “Itu harus bisa turun, bukan lagi harga stabil, karena harganya sudah tinggi, tetapi harga harus diturunkan,” kata Pramono, usai mengikuti Rapat Terbatas, di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (30/5) sore.

Dia mencontohkan harga daging yang di pasaran sudah menyentuh angka Rp120 ribu per kilogram, bahkan sudah ada Rp130 ribu/kg. “Presiden mematok harus bisa di bawah Rp80 ribu/kg, demikian juga dengan harga gula yang sudah di beberapa daerah bahkan sudah Rp15 ribu/kg. Itu harus bisa turun,” tegasnya.

Presiden, kata Pramono, menargetkan pada saat puasa dan lebaran saat ini komoditas utama seperti beras, gula, bawang merah, bawang putih, daging, daging ayam maupun daging sapi harganya harus turun. Untuk daging, pemerintah akan mengimpor 10 ribu ton untuk menurunkan harga hingga Rp80 ribu/kg.

Pemerintah rencananya akan membuka kran impor daging dari Selandia Baru, Australia dan India. Pramono mengatakan, impor daging sapi itu tidak akan mengganggu fiskal dalam negeri, karena tidak menggunakan APBN.

Selain itu proses impor juga mengikuti mekanisme pasar, sehingga BUMN atau siapapun yang akan melakukan impor dipastikan akan mendapatkan keuntungan. Untuk daging sapi, menurut Pramono, di ketiga negara itu harganya jauh lebih murah.

Di Australia misalnya, hanya sekitar Rp58 ribu/kg, sementara di Malaysia atau Singapura bisa dijual seharga Rp70 ribu-Rp75 ribu/kg. “Jadi impor daging ini tidak akan mengganggu mekanisme pasar,” pungkasnya.

Ikuti informasi terkait impor pangan >> di sini <<

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *