Indonesia Dorong Penangkapan Tuna Berbasis Kuota | Villagerspost.com

Indonesia Dorong Penangkapan Tuna Berbasis Kuota

Ikan tuna hasil tangkapan kapal perikanan Indonesia diturunkan di pelabuhan (dok. kkp.go.id)

Ikan tuna hasil tangkapan kapal perikanan Indonesia diturunkan di pelabuhan (dok. kkp.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan Narmoko Prasmadji mengatakan, pemerintah akan mendorong penangkapan ikan tuna berbasis kuota. Hal itu ditegaskan Narmoko saat membuka 2nd Bali Tuna Conference (BTC-2) dan 5th International Coastal Tuna Business Forum (ICTBF-5) di Bali, Kamis (19/5).

Dia mengatakan, saat ini permintaan tuna meningkat tajam dari berbagai negara. Dengan adanya sistem penangkapan berbasis kuota, diharapkan dapat menjawab tantangan terhadap keberlangsungan tuna yang setiap tahun tereksploitasi. “Selain kuota penangkapan, cara tangkap yang benar dan baik serta menjaga habitat tuna merupakan pengelolaan konservasi tuna yang dibahas dalam kenferensi tersebut,” jelas Narmoko.

(Baca juga: Jaga Habitat, KKP Kembali Gelar Konferensi Tuna)

Hal ini dilakukan sejalan dengan permintaan pasar yang memerlukan sejumlah persyaratan ketat sebelum komoditas tersebut dijual ke pasar internasional. Indonesia pantas diperhitungkan dalam bisnis tuna. Data resmi FAO mencatat pada 2014, kurang lebih 6,8 juta metrik ton tuna dan sejenis tuna ditangkap oleh banyak negara di seluruh dunia, dan Indonesia berhasil memasok lebih dari 16% total produksi dunia dengan rata-rata produksi tuna, cakalang dan tongkol Indonesia mencapai lebih dari 1,1 juta ton/tahun.

Komoditas ikan tuna memang sudah menjadi salah satu produk unggulan produk kelautan dan perikanan. Selain itu, tuna juga telah menjadi primadona produk perikanan dunia. Permintaan tuna dunia yang tinggi (cenderung overcapacity) dan hampir disukai semua kalangan membuat nilai jual tuna kian melambung.

Namun, seiring jalannya waktu, Indonesia dihadapkan pada satu status pemanfaatan tuna dengan kompleksitas permasalahan yang tinggi. FAO mencatat, sepertiga (1/3) stok tuna yang ada saat ini diperkirakan telah ditangkap pada kondisi biologically unsustainable levels. Sementara stok tuna sisanya yang berjumlah 66,7 % telah ditangkap pada kondisi maksimum.

Sementara itu, menurut Menteri Koordinator Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli yang juga hadir di acara itu, Indonesia memiliki kontribusi cukup signifikan dalam bisnis tuna dengan mengekspor sekitar 209,410 ton dengan nilai produksi mencapai US$768,4 juta pada tahun 2013. “Tentunya nilai ekonomi dari perdagangan produk perikanan tuna Indonesia ini sangat besar dan menjadi peluang yang baik bagi para pelaku usaha tuna Indonesia,” ujar Rizal dalam sambutannya. (*)

Ikuti informasi terkait komoditas tuna >> di sini <<

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *