Janji Konservasi Pengusaha Sawit Bukan Ajang Cuci Dosa | Villagerspost.com

Janji Konservasi Pengusaha Sawit Bukan Ajang Cuci Dosa

Buruh Perkebunan Sawit (Dok. Sawit Watch)

Buruh Perkebunan Sawit (Dok. Sawit Watch)

Jakarta, Villagerspost.com – Para pengusaha perkebunan sawit, khususnya perusahaan besar saat ini banyak yang menyatakan berkomitmen untuk menerapkan High Conservation Value (HCV) dan High Carbon Stock (HCS). Dengan komitmen itu, pihak perusahaan sawit tidak akan lagi membuka lahan di kawasan yang memiliki kekayaan hayati yang tinggi dan lahan gambut yang menyimpan stok karbon tinggi.

Hanya saja menurut lembaga swadaya masyarakat Sawit Watch semua komitmen tersebut tidak membuat semua persoalan lingkungan dan sosial terkait industri sawit telah selesai. Direktur Eksekutif Sawit Watch Jefri Gideon Saragih mengatakan, berbagai problem sosial dan lingkungan yang selama ini telah muncul tidak dapat begitu saja dianggap clear ketika komitment penerapan HCV/HCS tersebut digelontorkan oleh beberapa industri kelapa sawit.

“Masih banyak tanggung jawab masa depan dan masalah masa lalu yang harus diurai hingga selesai,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Senin (17/11).

Persoalan penting yang harus diselesaikan antara lain adalah penegasan terhadap hak-hak masyarakat dan perbaikan terus menerus terhadap lingkungan dan alam. Selain itu, harus diselesaikan pula masalah sistem pengelolaan perkebunan kelapa sawit yang ramah terhadap masyarakat local (local friendly) dan ramah lingkungan (environment friendly). “Termasuk ketaatan tanpa syarat terhadap hukum dan peraturan yang berlaku, baik peraturan local, nasional ataupun ketentuan adat setempat,” kata Jefri.

Implementasi HCV/HCS oleh industri besar kelapa sawit jangan hanya dijadikan sebagai “image building” sementara dalam praktik masih terus menerus muncul masalah-masalah dilapangan. Harus juga ditekankan komitmen tindakan berupa sanksi apabila komitment tersebut dilanggar. “Baik itu sanksi ekonomi dipasar minyak sawit maupun sanksi sosial seperti kesediaan untuk menerima tangungjawab secara adat dan hukum jika terjadi pelangaran atas komitmen tersebut,” ujar Jefri menegaskan.

Sawit Watch Indonesia menegaskan dan mengerti betul bahwa selama ini berbagai komitmen yang sudah dikeluarkan bahkan hukum formil yang harusnya dijalankan masih banyak yang dilanggar. Karena itu, menurut Staf Departemen Lingkungan Sawit Watch Maryo Saputra Sanuddin, apapun yang terjadi kedepan, pihaknya memastikan akan melakukan upaya-upaya serius mempengaruhi pasar dan publik serta kebijakan terkait dengan komitmen HCV/HCS tersebut.

Sawit Watch, kata Maryo, sudah sangat siap untuk melakukan upaya kampanye internasional dan advokasi, baik bersifat litigasi maupun non-litigasi untuk memastikan kedepan dapat ditekan lebih serius praktik-praktik buruk yang terjadi dalam rantai industri kelapa sawit. “Kami akan mencatat setiap langkah dan gerak dari praktik-praktik atas komitmen yang disampaikan,” ujarnya.

Sawit Watch juga telah memetakan situasi lapangan dari berbagai masukan yang disampaikan oleh banyak pihak. Diantaranya dalam Pertemuan Para Pihak yang membicarakan mengenai perlindungan kawasan hutan dan hak kelola masyarakat melalui penerapan HCV/HCS oleh industri perkebunan kelapa sawit, yang dilaksanakan di Kuala Lumpur tanggal 16 November 2014.

Dalam kesempatan itu, berbagai pihak menyampaikan bahwa status hukum HCV/HCS belum jelas. Diantaranya, tidak melibatkan masyarakat dalam penetapan wilayah yang terindikasi HCV/HCS berdampak pada konflik baru yang terjadi antara masyarakat dengan perusahaan. “Selain itu komitmen tersebut juga tidak membahas hilangnya hak kelola masyarakat serta akses terhadap kawasan kelola tradisonal masyarakat dari hutan,” ujar Maryo.

Oleh karena itu, Sawit Watch, ujar Maryo, memandang penting untuk semua pihak serius dan terus menerus memastikan praktik-praktik industri perkebunan kelapa sawit dimanapun agar mentaati peraturan yang berlaku. “Industri sawit juga harus menghormati masyarakat adat dan budayanya serta konsisten dengan komitmenya sendiri,” katanya. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *