Jumlah Petani Miskin Terus Meningkat | Villagerspost.com

Jumlah Petani Miskin Terus Meningkat

Petani mengangkut hasil panen. BPS mengungkapkan, jumlah petani miskin terus meningkat (dok. field indonesia)

Petani mengangkut hasil panen. BPS mengungkapkan, jumlah petani miskin terus meningkat (dok. field indonesia)

Jakarta, Villagerspost.com – Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada Senin (1/8) kemarin mengungkapkan terjadinya penurunan Nilai Tukar Petani (NTP) pada bulan Juli sebesar 0,08 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin mengatakan, penurunan NTP terjadi karena indeks harga yang diterima petani mengalami kenaikan 0,48 persen.

Angka ini lebih kecil dari kenaikan indeks harga yang dibayar petani sebesar 0,56 persen. Sedangkan Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) pada Juli sebesar 110,02 atau naik 0,36 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya. Selain itu, Suryamin juga menilai kenaikan angka inflasi pedesaan juga ikut punya andil dalam penurunan nilai tukar petani.

Angka inflasi pedesaan pada Juli lalu mencapai 0,76 persen. Hal ini disebabkan oleh masih mahalnya biaya transportasi barang poduksi industri pengolahan dari kota untuk didistribusikan ke desa. Kondisi ini membuat harga barang produksi manufaktur menjadi lebih mahal di pedesaan dan mendongkrak inflasi di pedesaan lebih tinggi dibandingkan inflasi umum Juli sebesar 0,69 persen.

“Ini yang bisa mempengaruhi nilai tukar petani (NTP). Karena ada barang dari kota yang harganya bisa lebih mahal dikarenakan adanya transportasi yang harus dilalui dari kota ke desa,” kata Suryamin dalam paparannya di kantor BPS, Jakarta.

(Baca juga: Reshuffle Kabinet Jokowi Tetap Punggungi Petani dan Pertanian)

Menanggapi hal ini, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Fadli Zon mengatakan, pemerintah harus memperhatikan fakta terjadinya penurunan nilai tukar tersebut, mengingat penurunan itu telah berlangsung sejak tahun lalu. Menurut Fadli, sepanjang tahun 2016, hanya sekali nilai tukar petani naik, yaitu pada bulan Mei. Itupun lebih karena dipengaruhi oleh kenaikan harga komoditas pertanian menjelang puasa.

“Sebelumnya, sejak November 2015, NTP terus-menerus turun. Begitu juga yang terjadi pada bulan Juni lalu. Jadi, dalam sembilan bulan terakhir, NTP hanya sekali naik. Saya kira data ini harus diperhatikan betul oleh pemerintah,” ujar Fadli dalam siaran persnya, di Jakarta, Selasa (2/8).

Sejak Januari 2016, secara berturut-turut nilai tukar petani mengalami penurunan 0,27 persen (Januari); 0,31 persen (Februari); 0,89 persen (Maret); 0,51 persen (April); naik 0,43 persen (Mei); turun 0,08 persen (Juni); dan turun kembali 0,08 persen pada Juli lalu.

Fadli menilai, data penurunan itu mengkhawatirkan karena data itu konsisten dengan naiknya indeks kedalaman kemiskinan di pedesaan yang juga dirilis BPS. BPS mengunggkapkan, indeks kedalaman kemiskinan naik dari 1,84 pada September 2015 menjadi 1,94 pada Maret 2016. “Ini berarti orang miskin makin jatuh pada jurang kemiskinan,” tegas Fadli Zon.

Sementara itu, indeks keparahan kemiskinan secara nasional juga meningkat dari 0,51 ke 0,52. Di desa, angkanya lebih tinggi lagi, karena indeks keparahan kemiskinan naik dari 0,67 menjadi 0,79. “Jadi, turunnya nilai tukar petani yang konsisten sejak akhir tahun lalu itu sebangun dengan meningkatnya indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan, terutama di perdesaan,” imbuh Fadli.

Hal serupa, kata Fadli, juga terjadi di perkotaan, terutama di DKI Jakarta. Data BPS dan Bank Indonesia mengungkapkan, jumlah penduduk miskin di Jakarta juga meningkat sebesar 15,63 ribu, atau naik 0,14 persen, dibanding September 2015, yang tercatat 368,67 ribu orang. “Artinya, baik di desa maupun di kota, kondisinya sama-sama tidak bagus,” katanya.

Karena itu, kata dia, sangat aneh jika pemerintah menyatakan hal sebaliknya yaitu angka kemiskinan mengalami penurunan. Pernyataan pemerintah itu tidak konsisten dengan angka pertumbuhan ekonomi yang turun, turunnya harga komoditas, serta melemahnya perekonomian global. “Pemerintah harus jujur jika angka kemiskinan terus meningkat, terutama di pedesaan, di kalangan petani,” tegas Fadli.

Dia mengatakan, naiknya indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan petani di pedesaan terjadi karena selama ini kebijakan ekonomi pemerintah sangat bias perkotaan dan banyak mengabaikan sektor pertanian dan perdesaan. Belum lagi jika memperhatikan adanya jurang yang dalam antara kebijakan budidaya dengan kebijakan tata niaga di sektor pertanian.

“Para petani hanya disuruh berproduksi, tapi insentif yang diterimanya tidak diperhatikan. Itu sebabnya NTP terus-menerus turun,” tegas Fadli.

Ikuti informasi terkait pertanian >> di sini <<

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *