Kampoeng Anggrek: Komitmen Swasta Berdayakan Perekonomian Warga Desa Sempu | Villagerspost.com

Kampoeng Anggrek: Komitmen Swasta Berdayakan Perekonomian Warga Desa Sempu

Pengunjung melihat-lihat koleksi anggrek di Kampoeng Anggrek (dok. villagerspost.com/m. agung riyadi)

Kediri, Villagerspost.com – Kampoeng Anggrek obyek wisata yang cukup terkenal di Kediri, Jawa Timur. Obyek wisata yang dikelola pihak swasta ini, berada di kawasan Desa Sempu, Kecamatan Ngancar. Dampak keberadaan sebuah obyek wisata di sebuah kawasan, khususnya kawasan pedesaan umumnya terbatas pada pemasukan dai sektor pajak. Namun, pihak swasta engelola obyek wisata di Desa Sempu ini punya komitmen lebih, untuk ikut memberdayakan perekonomian masyarakat desa lewat berbagai program yang mereka laksanakan bersama pemerintah desa.

Manager Kampoeng Anggrek Didik Yuli Suharyanto mengatakan, pihaknya sejak awal berdiri memang sudah membuat banyak perencanaan untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat. “Kita merencanakan bagaimana melibatkan masyarakat sekitar untuk mengembangkan wisata anggrek bahkan budidaya tanaman anggreknya,” kata Didik, saat ditemui Villagerspost.com, beberapa waktu lalu.

Untuk budidaya anggrek, kata Didik, Kampung Anggrek memiliki rencana di mana bibit-bibit yang sudah dikembangkan di laboratorium, bisa dibesarkan oleh masyarakat. “Masyarakat akan dibimbing untuk melakukan pembesaran anggrek sesuai spesifikasi yang diminta,” ujar Didik.

Untuk sektor wisatanya sendiri, pihak Kampung Anggrek sudah memiliki beberapa rencana. Pertama, mendirikan kios-kios untuk berjualan bagi masyarakat Sempu. “Itu nanti hasilnya akan dibagi ke Kampoeng Anggrek sebagian dan sebagian lagi akan digunakan untuk biaya listrik dan lain-lain,” ujar Didik.

Kedua, pihak Kampoeng Anggrek juga sudah membangun instalasi listrik untuk kelompok pasar Kampoeng Anggrek, di mana masyarakat bisa berjualan di pasar tersebut. “Kemudian selanjutnya ada santunan orang tua dan janda, di mana dananya diambil dari kotak amal,” terang Didik.

Untuk santunan ini, pihak Kampoeng Anggrek mengadakan kerja sama dengan Koperasi Pemasaran Sri Jaya. Pihak koperasi inilah yang nantinya mengelola dana yang tersedia untuk disalurkan kepada pihak yang berhak.

Selain yang sudah berjalan, Kampoeng Anggrek juga tengah menyiapkan program lainnya seperti budidaya jahe, pengelolaan cengkeh dan program ternak kelinci. Untuk yang terakhir ini, pihak Kampoeng Anggrek, kata Didik, sudah membeli 30 ekor indukan pedaging.

“Karena belum pernah ada yang beternak kelinci, kami ingin menjadikan tempat ini sebagai tempat belajar pengembangan kelinci. Dan ini sudah dihubungkan dengan BUMDes,” ujarnya.

Sebagai wahana wisata, Kampoeng Anggrek berdiri pada bulan Februari 2015 silam. Mulanya kawasan ini adalah kawasan kebun budidaya anggrek. “Jadi awalnya ingin membuat kebun budidaya anggrek karena dari pimpinan instruksinya seperti itu. Kemudian kita buatlah laboratorium kultur jaringan pertama kali pada Februari 2015.

Saat itu, kata Didik, yang dibangun adalah satu unit laboratorium kultur jaringan dan satu unit greenhouse penangkaran indukan anggrek. “Penangkaran ini untuk bahan perbanyakan. Jadi disilangkan atau dikembangkan secara vegetatif kloning. Karena membutuhkan waktu yang lama, maka kita imbangi dengan menjual re-seller,” ujarnya.

Didik mengatakan, anggrek dari kultur jaringan butuh waktu sekitar 12-15 bulan dari biji sampai berbunga untuk jenis Dendrobium dan Phaleophsis. “Itu sudah yang paling cepat. Itu botolan yang siap untuk ditanam,” katanya,

Kemudian masih memerlukan waktu sekitar 22-25 bulan lagi dari botolan menjadi tanaman kecil. “Standarnya 2,5-3 tahun untuk bisa siap jual,” katanya. Karena itu, tak heran jika perputaran bisnis anggrek 80% masih impor.

“Ternyata banyak orang yang antusias terhadap Kampoeng Anggrek. Selama tahun2015 hanya dibentuk taman-taman saja. Baru mulai 2016 diresmikan sebagai tempat wisata. Begitulah awal mula terbentuknya Kampoeng Anggrek ini,” ujar Didik.

Lahan yang ditempati Kampung Anggrek seluas 400 hektare itu sendiri mulanya adalah lahan hak guna usaha (HGU) perkebunan tebu, karet dan cengkeh. “Jadi lahan ini awalnya milik HGU dipegang oleh PT Sumber Sari Petung. Dulunya milik orang lain, tapi 2013 take over sehingga dimiliki grup usaha Saravanti. Pada tahun 2014 pertengahan mulai diversifikasi usaha perkebunan menjadi anggrek,” kata Didik.

Dari total lahan seluas 400 hektare, yang dibangun menjadi Kampoeng Anggrek sendiri mencapai total 15 hektare. Sebagai unit usaha milik swasta, Kampoeng Anggrek sendiri tadinya
berharap, dari pajak yang mereka bayarkan ke pemerintah Kabupaten Kediri, bisa mengalir menjadi pendapatan Desa Sempu di mana mereka berdiri.

Hanya saja, kata Didik, mereka tidak tahu mengapa dana dari kabupaten yang masuk ke desa ternyata kecil. “Akhirnya kami mencoba alternatif yang lain agar pajaknya langsung ke desa. Kami juga baru terbentuk jadi kami masih banyak mencari hal-hal yang dapat dilakukan termasuk membentuk kelompok tani bunga,” katanya.

Selain berbagai program tadi, pihak Kampoeng Anggrek juga melakukan pembinaan langsung ke KWT Putri Kelud secara intens. “Jadi kami menyediakan lapak untuk mereka di Kampoeng Anggrek. Apabila tanamannya cocok untuk dipasarkan maka akan kita bantu pasarkan,” katanya.

Namun belakangan, kata Didik, pihak perusahaan menilai, program ini kurang mendidik. “Kami ingin masyarakat mandiri dalam proses pemasarannya juga. Kami berharap mereka menjual secara langsung tanamannya ke konsumen sehingga berpeluang untuk melakukan transaksi besar. Karena di Kampoeng Anggrek yang datang tidak hanya pengecer, tapi ada juga grosir,” ujarnya.

Karena itu, kata Didik, pihak perusahaan kemudian membuka peluang bagi KWT untuk memasarkan sendiri ke konsumen besar. “Ke depannya harapan kita mereka akan lebih percaya diri dalam memasarkan produknya sendiri,” ujarnya.

Di luar itu, dahulu, pihak Kampoeng Anggrek sebenarnya pernah menginisiasi pembentukan tim pemandu wisata. “Kita semua di sini adalah tim teknis. Sekarang saya yang menangani hal tersebut. Apabila ada outbond-outbond, akhirnya kami menggandeng penyelenggara outbond,” ujarnya.

Terkait tim pemandu wisata, ujar Didik, pihaknya berharap wargalah nantinya yang akan membentuk tim tersebut. “Kami dapat mendampingi prosesnya. Tapi kalau tidak ada kemauan dari warganya ya susah juga,” katanya.

Peluang untuk itu, sebenarnya cukup besar. “Sering ada yang menanyakan tim pemandu paket wisata pada kami. Dulu kami pernah membentuk pemuda pemandu wisata. Memang pemandu wisata dapat uangnya per job. Jangan memandang seperti itu, kan bisa jadi pemandu wisata personal,” tegas Didik.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *