Kampung Indian: Pemberdayaan Ekonomi Warga Desa Sempu Lewat Olahan Nanas | Villagerspost.com

Kampung Indian: Pemberdayaan Ekonomi Warga Desa Sempu Lewat Olahan Nanas

Gerbang masuk Kampung Indian, Desa Sempu, Ngancar, Kediri (dok. villagerspost.com/m. agung riyadi)

Kediri, Villagerspost.com – Selain Kampoeng Anggrek, satu obyek wisata yang juga tak kalah menarik yang hadir di Desa Sempu adalah Kampung Indian. Sebagai unit bisnis swasta yang hadir di sebuah desa, Kampung Indian juga hadir untuk memberdayakan perekonomian warga Desa Sempu, salah satunya lewat pengembangan usaha olahan nanas yang digarap bersama BUMDes Sempu Mandiri.

Staf Corporate Social Responsibility (CSR) Kampung Indian Mashuri mengatakan, sejak awal berdirinya, Kampung Indian memang ingin menjalankan sebuah wahana wisata tanpa meninggalkan masyarakat atau pun meninggalkan satu kesatuan dengan masyarakat .

“Harus sedikit banyak bisa mewarnai sendi kehidupan masyarakat jadi istilah kita bilang apabila kita mencari madu itu jangan lupa dengan rumah tawonnya,” kata Mashuri, saat ditemui Villagerspost.com, beberapa waktu lalu.

Karena itu, sejak awal berdiri, Kampung Indian sudah bekerja sama dengan pihak Desa Sempu untuk melakukan pemberdayaan masyarakat. “Salah satunya kita bekerja sama dengan BUMDes melaksanakan pelatihan awal pembuatan sari nanas,” kata Mashuri.

Tak hanya pelatihan, pihak Kampung Indian juga memberikan bantuan awal berupa peralatan seperti mesin pemeras nanas, alat memasak dan mesin untuk mengemas produk yang sudah jadi. “Pihak BUMDes menyediakan tempat sekaligus orangnya,” ujar Mashuri.

Kampung Indian berdiri di atas lahan seluas 5600 meter persegi, di area bekas lahan perkebunan. Sebagai lokasi wisata, Kampung Indian menawarkan wahana bernuansa internasional tanpa meninggalkan lokalitas budaya. “Kami memiliki spot untuk selfie, penyewaan tenda. Sejak awal kita menjual konsep wisata dengan custom Indian. Ada wahana kolam renang, rumah Indian dan lainnya. Kita baru 8 bulan berdiri tapi pengunjungnya sudah banyak,” jelas Mashuri.

Dia bercerita, rata-rata pengunjung wahana wisata Kampung Indian ini mencapai 2000 orang per bulan. Dengan potensi yang cukup besar mengundang wisatawan, Kampung Indian, kata Mashuri, memang ingin obyek wisata ini juga ikut menghidupi masyarakat sekitar.

Pelatihan pembuatan olahan sari nanas adalah salah satu upaya yang dikembangkan pihak Kampung Indian bersama BUMDes Sempu Mandiri untuk menghidupkan perekonomian masyarakat desa. Kini produksi sari nanas oleh pihak BUMDes sudah berjalan dan sudah mulai mendapatkan tempat di pasaran meski skalanya masih kecil.

“Pihak Kampung Indian tidak mau ketika kita mengadakan satu jenis pelatihan itu tidak sampai ke arah produksi, minimal ke arah produksi yang sifat peningkatan ekonominya ada dari potensi lokal ini khususnya anak-anak dan kita tidak mau melebar sampai kemana-mana bahkan sampai melebar ke produk-produk lain,” kata Mashuri.

Untuk pengembangan produk, Kampung Indian memang ingin fokus pada olahan nanas yang memang menjadi andalan Desa Sempu. “Kita mengedepankan pemberdayaan dengan nanas sebagai bahan potensi lokal yang ada kita harus eksplore semua,” ujarnya.

Terkait olahan nanas, selain sari nanas, pihak Kampung Indian dan BUMDes Sempu Mandiri, akan mengembangkan pula pembuatan coktail nanas, dan nanas rica-rica. Pelatihan untuk pembuatan produk itu pun sudah berjalan. Ke depan, Kampung Indian dan BUMDes juga akan mengembangkan produk dodol nanas, sirup nanas, jelly nanas, soda nanas, dan manisan kering.

“September nanti kita juga sudah merencanakan mengeringkan nanas dengan sistem vakum. Jadi sesuatu yang baru yang ada di sekitar Desa Sempu nantinya akan muncul,” tambah Mashuri.

Untuk produk-produk ini, pihak Kampung Indian juga akan membantu pemasaran dan promosi produk. “Kampung Indian dibuat sebagai wadah promosi produk kita atau main key dalam mempromosikan sari nanas. Kalau kita berbicara tentang Sempu atau Indian ya pasti bicara tentang nanas. Kita membuat branding bersama,” papar Mashuri.

Selain itu, Kampung Indian juga membuka kesempatan masyarakat untuk membuat kerajinan pernak-pernik etnik Indian. Misalnya pembuatan topi Indian, baju Indian, hiasan dinding bernuansa Indian dan lain-lain. Meski pembuatannya bisa dilakukan di rumah masing-masing warga, kata Mashuri, pihak Kampung Indian akan membantu memasok bahan baku.

“Karena bahan bakunya sulit didapat dan hanya bisa didapat apabila ada channel dari kita. Jadi barang didatangkan dari sini, kemudian diambil dari kantor, dibawa pulang, terus dibuat, terus dengan ongkos lalu ditaruh di sini lagi. Jadi hanya ada ongkos pembuatan saja,” ujar Mashuri.

Dengan berbagai usaha ini, Kampung Indian dan pihak BUMDes berupaya agar seluruh masyarakat menikmati kemajuan ekonomi dari potensi wisata. “Yang tidak mampu bikin sari nanas, bisa membuat kerajinan, atau nanti jenis usaha lain, kita tidak ingin ada warga yang mengatakan ‘aku kok tidak kebagian’’,” ujar Mashuri.

Selain itu, Kampung Indian juga membuka lapak-lapak untuk warga desa agar bisa berdagang. “Jadi semua warga akan mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan pendapatannya di sini. Apabila semua warga bekerja sama dan sinergi tidak menutup kemungkinan Desa Sempu akan menjadi desa terkaya di Kediri,” pungkas Mashuri.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *