Kawasan Ekosistem Leuser Kembali Terancam | Villagerspost.com

Kawasan Ekosistem Leuser Kembali Terancam

Perambahan di Kawasan Ekosistem Leuser di Bawan (dok. HaKa Sumatera)

Jakarta, Villagerspost.com – Kawasan Ekosistem Leuser (KEL), yang memiliki luas 2,6 juta hektare, terletak di provinsi Aceh dan Sumatera Utara dan dinobatkan sebagai salah satu “kawasan tak tergantikan” oleh International Union for the Conservation of Nature (IUCN) kembali terancam kerusakan. Pasalnya, kawasan ekosistem ini tak pernah berhenti digerus dan dirusak.

Hari ini, Jumat (24/3), konsorsium lembaga swadaya masyarakat (LSM) lingkungan mengirimkan laporan ke Pusat Warisan Dunia (UNESCO World Heritage Centre) dan mendesak intervensi untuk menghindari hancurnya kawasan tersebut. Pasalnya saat ini, di dalam KEL mega-proyek baru sedang direncanakan, walaupun hal ini melanggar peraturan pemerintah dan mengabaikan statusnya sebagai Situs Warisan Dunia.

Direktur Orangutan Information Centre (OIC) Panut Hadisiswoyo mengatakan, konsorsium LSM juga mengirimkans ebuah kritik terhadap laporan Situs Warisan Dunia yang dibuat oleh pihak pemerintah Indonesia pada hari Senin, 20 Maret 2017, kepada UNESCO WHC. Pasalnya, pemerintah Indonesia telah mengirimkan laporan mengenai Situs Warisan Dunia kepada UNESCO WHC yang jauh berbeda dengan kenyataan yang ada di lapangan.

“Kritik kami menyoroti ancaman serius terhadap hutan-hutan yang ada di KEL. Beberapa diantaranya termasuk proyek-proyek PLTA dan pembangkit panas bumi yang diajukan didalam kawasan penting, lemahnya penegakan hukum di lapangan dan kehancuran hutan yang disebabkan oleh pembangunan jalan yang membelah KEL dan memfragmentasi populasi satwa liar,” kata Panut dalam pernyataan tertulis yang diterima Villagerspost.com.

Panut memaparkan, belum pernah ada ancaman sebesar ini terhadap kawasan terakhir dimana orangutan, badak, harimau dan gajah masih hidup bersama ini. “Kami mendesak pihak Pusat Warisan Dunia untuk mengambil langkah darurat demi mencegah proyek-proyek tersebut dibangun didalam KEL,” tegas Panut.

Tak hanya itu, beberapa proyek berskala besar untuk pembangunan PLTA juga diajukan di dalam dan di sekitar Situs Warisan Dunia tersebut. Salah satunya, proyek PLTA sekitar daerah serapan air di Kluet, Tampur, dan Jambo Aye. Proyek ini, dinilai akan menghancurkan area habitat penting orangutan yang merupakan salah satu satwa terancam punah.

“Proyek-proyek ini pun tidak sesuai dengan kepentingan masyarakat Aceh. Sebaliknya, kami menganjurkan skema-skema pembangunan PLTA berskala kecil yang telah terbukti lebih efektif, lebih aman terhadap lingkungan dan berkelanjutan untuk mengatasi masalah listrik di Sumatera. Apa ada orang berakal sehat yang ingin membangun dam berskala besar yang menahan berton-ton air di salah satu daerah yang paling sering mengalami gempa bumi di dunia? Apalagi ada ratusan masyarakat yang tinggal di daerah hilirnya, yang ada hanya akan menambah bencana!” seru Panut.

Terkait proyek panas bumi, hingga kini, perusahaan Turki PT Hitay Panas Energy masih terus melobi pemerintah Indonesia untuk merezonasi “kawasan inti” sehingga mereka dapat membangun pembangkit panas bumi di jantung KEL. Proposal mereka saat ini didukung oleh Gubernur Aceh, Zaini Abdullah. Padahal, pada tanggal 30 September 2016, pihak Direktorat Jendral KSDAE (Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem) telah menegaskan melalui surat No. 537/KSDAE/sa/Kum.8/9/2016 bahwa rezonasi di kawasan inti tidak dapat dipenuhi.

Akan tetapi setelah pemilu serentak bulan lalu, gubernur Aceh terpilih, Irwandi Yusuf, telah berjanji untuk membatalkan sendiri proyek Hitay tersebut. Ketua Yayasan Hutan, Alam, dan Lingkungan Aceh Farwiza Farhan menegaskan, pihaknya sangat mendukung janji Irwandi tersebut. Akan, para pegiat lingkungan hidup tetap khawatir karena Hitay terus melakukan rapat tertutup dengan pihak KemenLHK dan pemangku kepentingan lainnya untuk memanipulasi hukum di Indonesia agar proyek tersebut dapat berjalan.

“Hal ini telah memancing beberapa kali protes publik di Aceh dan di Jakarta. Kami tidak akan hanya duduk diam melihat hutan kami dijual ke perusahaan asing dan akan terus mendorong pihak pemerintah untuk menolak proposal apapun yang merusak KEL,” tegas Farwiza.

Direktur Program Konservasi Orangutan Sumatra (SOCP) Dr. Ian Singleton menyatakan, KEL merupakan ekosistem hutan hujan terbesar di Asia Tenggara. Kawasan ini merupakan harapan terakhir bagi mamalia terancam punah seperti orangutan, gajah, badak dan harimau sumatera, dan spesies-spesies langka lainnya. Ian mengingatkan, beberapa dari satwa tersebut tidak dapat ditemukan di belahan planet lain.

“Akan sangat ironis apabila ekosistem yang begitu berharga dan tak ternilai seperti Leuser, beserta keanekaragaman hayatinya, hilang demi energi terbarukan. Walaupun kami sangat mendukung kebijakan pemerintah yang bergerak ke arah energi terbarukan, tentu saja tidak semua energi terbarukan baik apabila menghancurkan lanskap yang dilindungi, apalagi sebuah Situs Warisan Dunia UNESCO,” pungkasnya. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *