Kebakaran Kapal Nelayan di Benoa, Pemerintah Diminta Dorong Asuransi Beri Ganti Rugi | Villagerspost.com

Kebakaran Kapal Nelayan di Benoa, Pemerintah Diminta Dorong Asuransi Beri Ganti Rugi

Kapal perikanan bersandar di pelabuhan Benoa, Bali (villagerspost.com/m. agung riyadi)

Jakarta, Villagerspost.com – Kasus terbakarnya puluhan kapal nelayan di Pelabuhan Benoa, Bali, dinilai telah menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi nelayan. Karena itu anggota Komisi IV DPR RI Darori Wonodipuro meminta agar pemerintah mendorong pihak asuransi membayar ganti rugi kapal nelayan yang terbakar.

Kebakaran yang terjadi pada Senin (9/7) itu, telah menghanguskan setidaknya 40 unit kapal nelayan. Kebakaran tersebut terjadi pada dini hari sekitar pukul 02.00 WITA. Untuk memadamkan, kebakaran dikerahkan 11 unit mobil pemadam kebakaran.

Darori mengatakan, sebelum memberikan ganti rugi, tentunya pihak asuransi harus menyelidiki terlebih dahulu apakah ebakaran tersebut disengaja atau tidak, namun ia menilai pemerintah tetap harus membantu nelayan pemilik kapal yang terbakar tersebut.

“Bagaimana caranya agar nelayan yang kapalnya terbakar itu tetap bisa mendapat ganti rugi. Bisa dengan mendorong pihak asuransi membayar ganti rugi kapal yang terbakar atau dengan memberikan pinjaman kredit untuk pembelian kapal baru. Intinya pemerintah tetap harus membantu nelayan yang notabene merupakan masyarakat miskin,” ujar Darori,di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (10/7).

Pihak kepolisian sendiri belum bisa memastikan penyebab kebakaran tersebut. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Muhammad Iqbal mengatakan, polisi masih menyelidiki kasus ini. Sejauh ini sudah ada 13 saksi yang diperiksa, namun polisi belum bisa menarik kesimpulan.

“Tim sedang bekerja, situasi aman. Kita belum tahu ada korban jiwa, luka-luka dan lain-lain. Siapa nahkodanya siapa pemiliknya sudah diidentifikasi. 25 kapal lain belum, kondisi-nya hangus, ada yang sebagaian ada yang total,” ujarnya.

Polisi menduga puluhan kapal milik nelayan itu hangus antara terbakar dan atau sengaja dibakar oleh oknum tertentu. “Penyebab kita belum tahu. Antara dua, terbakar atau ada pembakaran,” kata Iqbal.

Meski demikian, menurut Darori, dia mendapatkan informasi, dari sekitar 40 kapal nelayan yang terbakar, hanya 15 kapal yang aktif melaut. Sisanya merupakan kapal yang “terpaksa” disandarkan, alias tidak melaut akibat adanya peraturan pelarangan penggunaan cantrang oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti beberapa waktu yang lalu.

Oleh karena itu, ia menilai pemerintah selain harus membantu nelayan mendapatkan ganti rugi dari asuransi atau memberikan pinjaman kredit bagi nelayan. Pemerintah juga diminta meninjau ulang peraturan pelarangan penggunaan cantrang atau pukat harimau yang memang sejak lama ditentang atau diprotes mayoritas nelayan Indonesia.

Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah Denpasar Wayan Puja mengatakan, diduga ada korsleting pada mesin kapal yang diletakkan di timur pelabuhan. “Diduga ada korsleting mesin pada kapal sehingga menyebabkan kebakaran,” ujarnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *