Kebijakan Sawit IndoAgri Masih Rentan Eksploitasi dan Deforestasi | Villagerspost.com

Kebijakan Sawit IndoAgri Masih Rentan Eksploitasi dan Deforestasi

Perusakan hutan untuk perkebunan sawit (dok. greenpeace)

Perusakan hutan untuk perkebunan sawit (dok. greenpeace)

Jakarta, Villagerspost.com – Upaya revisi kebijakan kelapa sawit yang dikeluarkan IndoAgri, anak perusahaan makanan raksasa Indonesia Indofood, yang menjadi mitra utama PepsiCo mendapat kritik keras. Rainforest Action Network (RAN), International Labor Rights Forum (ILRF), dan Organisasi Perjuangan dan Penguatan Untuk Kerakyatan (OPPUK) menilai kebijakan baru ini tak menyelesaikan masalah utama seperti ancaman deforestasi, eksploitasi pekerja dan penggunaan pekerja anak.

Sebagaimana diketahui, IndoAgri, dan perusahaan induknya Indofood, telah mengalami banyak terjangan tahun lalu, setelah ditemukan adanya eksploitasi pekerja anak yang terungkap di salah satu perkebunan mereka di Sumatera Utara, Indonesia. Karena ituah IndoAgri mengeluarkan kebijakan baru terkait rantai pasokan sawitnya. Hanya saja, langkah itu hanya dinilai sebagai langkah untuk sekadar meredam konflik.

Beberapa LSM menemukan adanya kelemahan yang terdapat pada kebijakan terbaru perusahaan tersebut. Mereka menilai, usaha IndoAgri untuk merespons pelanggaran yang tercatat di seluruh kegiatan operasinya telah gagal. Kebijakan baru ini masih terdapat celah untuk terjadinya deforestasi, pelepasan emisi karbon dalam skala besar dan pelanggaran hak asasi manusia––meninggalkan pertanyaan pada reputasi PepsiCo sebagai mitra bisnis mereka, pada waktu yang sama ketika PepsiCo mengumumkan nilai keuntungan laba kuartal yang besar kepada investor.

“Bentuk window dressing seperti ini tidak akan mengelabui pelanggan IndoAgri, pemodal ataupun LSM yang telah berkomitmen untuk memegang teguh akuntabilitas perusahaan yang berdampak pada pekerja, masyarakat, dan lingkungan kita,” ujar Robin Averbeck, juru kampanye senior RAN, dalam pernyataan tertulis yang diterima Villagerspost.com, Jumat (17/2).

Pada akhir 2016, PepsiCo, Nestle, dan Wilmar disebut sebagai mitra usaha bersama Indofood dalam laporan bertajuk “Harga Manusia untuk Kelapa Sawit Berkonflik: Kaitan Terselubung Indofood, PepsiCo’s pada Eksploitasi Pekerja di Indonesia“. Laporan itu mengungkap catatan kasus-kasus eksploitasi pekerja anak di perkebunan milik Indofood Sumatera Utara, Indonesia.

Direktur Eksekutif OPPUK Herwin Nasution mengatakan, para pekerja perkebunan IndoAgri terus mengalami banyak pelanggaran atas perlindungan tenaga kerja, termasuk bekerja di bawah sistem upah yang tidak adil ketika pekerja harus mencapai target yang sangat tinggi untuk mendapatkan penghasilan yang sangat rendah. Sistem ini menciptakan kelas pekerja kasat mata yang tidak mendapatkan manfaat apapun dan hanya mendapatkan upah berupa kemiskinan.

“IndoArgi harus berusaha segera mengambil tindakan transparan untuk mengatasi catatan eksploitasi pekerja perkebunan kelapa sawit miliknya di Indonesia,” ungkap Herwin.

Sementara itu, Direktur Legal dan Kebijakan Senior ILRF Eric Gottwald mengatakan, salah satu kesalahan kritis yang terdapat di kebijakan terbaru IndoAgri adalah kegagalan untuk mengadopsi mekanisme keluhan yang dapat dipercaya, yang sejalan dengan standar internasional yang ditetapkan dalam Prinsip-prinsip Bisnis dan Hak Asasi Manusia PBB. “IndoAgri malah hanya membuat komitmen tidak jelas yang akan memungkinkan perusahaan untuk memilih dan menentukan mekanisme keluhan mana yang akan digunakan,” ujar Eric.

Kebijakan ini dilihat sebagai usaha terakhir yang dilakukan oleh IndoArgi untuk meredam kritik setelah keluhan formal diajukan untuk menghentikan aktivitas dua anak perusahaan perkebunan sawit Indofood––PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (Lonsum) dan PT Salim Ivomas Pratama Tbk (Salim Ivomas)––dari Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) atas pelanggaran hak-hak pekerja yang menyalahi sistem standar sertifikasi dan hukum Indonesia. Baik IndoAgri maupun Indofood, belum mengakui atau mengatasi pelanggaran yang sudah tercatat.

“Sinyal kebijakan ini membungkus pendekatan ‘bisnis seperti biasa’ bagi IndoAgri dan mitranya PepsiCo, yang akan terus mengambil keuntungan terhadap pengorbanan hutan hujan Indonesia dan hak atas penduduknya,” kata Robin Averbeck.

Dia mengatakan, PepsiCo mungkin memberikan sinyal keuntungan yang tinggi kepada para investornya hari ini, namun kaitan perusahaan ini dengan pelanggaran hak asasi manusia dan deforestasi atas Kelapa Sawit Bermasalah akan terus menodai reputasi perusahaan dan akan menimbulkan risiko besar bagi investor. Untuk diketahui, pemodal dari Indofood terdiri dari: Citibank yang berbasis di Amerika Serikat, Bank Eropa HSBC, Rabobank, Standard Chartered, BNP Paribas dan Deutsche Bank; termasuk bank Jepang Grup Keuangan Sumitomo Mitsui, Bank Mizuho dan Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ

“Penting bagi para pemodal dan investor PepsiCo dan Indofood untuk tetap akuntabel, meminta Indofood untuk bertindak transparan dalam menangani dampak buruk perusahaan mereka terhadap manusia dan bumi dengan memperbaiki kekurangan yang terdapat dalam kebijakan terbarunya,” pungkas Averbeck. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *