Kematian Gajah Bunta Diselidiki KLHK dan Polda Aceh | Villagerspost.com

Kematian Gajah Bunta Diselidiki KLHK dan Polda Aceh

Anak gajah ditemukan mati di Taman Nasional Tesso Nilo (dok. wwf.or.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Kasus kematian gajah bernama Bunta yang kedapatan tewas dan gadingnya hilang di Desa Bunin, Kecamatan Serbajadi, Aceh Timur, pada 9 Juni lalu, tengah diselidiki pihak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Polda Aceh. Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) KLHK Wiratno, mengatakan kematian gajah Bunta diketahui oleh mahout (pawang gajah) bernama Saifudin pada saat akan dimandikan.

Mengetahui gajah jantan berusia 27 tahun ini mati, Saifudin pun segera melapor kepada Ketua Conservation Response Unit (CRU) yang segera melaporkan kasus ini ke Kepala BKSDA Aceh dan Polsek Serbajadi. Kuat dugaan Bunta dibunuh dengan sengaja untuk diambil dagingnya.

Saat ditemukan, kondisi gading gajah telah hilang sebelah yang diduga diambil dengan cara dibelah di bagian pipi. Dari pemeriksaan tim dokter hewan diketahui Bunta mati diracun yang dioleskan pada buah kuini. “Berdasarkan hasil nekropsi, kematian Bunta sendiri diperkirakan karena diracun. Hal ini diperkuat dengan ditemukannya sisa mangga (kuini) dan pisang yang diduga diberi racun di lokasi kejadian,” kata jelas Kepala Balai KSDA Aceh, Sapto Aji Prabowo.

Terkait kasus ini, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar juga akan segera memanggil pihak CRU Serbajadi, Aceh Timur, Aceh. Pemanggilan tersebut terkait dengan kematian gajah benama Bunta yang mati dibunuh di tempat konservasi tersebut.

Siti mengatakan pihaknya akan secara serius mengecek terkait pembunuhan satwa yang dilindungi tersebut. Apalagi, tempat konservasi tersebut, juga mendapatkan bantuan dana dari pihak swasta.

“Secara keseluruhan di Aceh itu kan memang tempat satwanya di sana ada pusat tempat konservasi gajah sebanyak 7 conservation of respond unit (CRU) jadi unit ini untuk mengatasi mitigasi konflik di Aceh timur, Utara dan Pidi, Aceh jaya, Aceh barat, Aceh Selatan, biayanya oleh USAID, oleh Astra juga. Jadi biayanya dari mitra,” tutur Siti, Rabu (13/6).

CRU Serbajadi merupakan satu dari tujuh CRU yang ada di seluruh Aceh. Enam CRU lainnya adalah CRU Cot Girek di Aceh Utara, CRU Mila, Pidie, CRU Peusangan di Bener Meriah, CRU Sampoiniet di Aceh Jaya, CRU Alue Kuyun di Aceh Barat, dan CRU Trumon di Aceh Selatan.

Pengelolaan CRU Trumon bekerja sama dengan USAID Lestari, CRU Sampoiniet bekerja sama dengan PT Astra Agro Lestari, sedangkan lima CRU lainnya didukung oleh Pemerintah Aceh sebagai bentuk kontribusi dalam mitigasi konflik satwa, khususnya gajah.

Soal penyebab kematian Bunta, Siti Nurbaya membenarkan gajah tersebut mati diracun. “Sudah dilakukan pengambilan sampel jantung, limpa, usus, ginjal. Hasil pemeriksaan di Puslabfor Medan, ditemukan buah kuini beracun di dalam usus gajah tersebut,” ungkap Siti.

Siti juga membenarkan, pembunuhan gajah Bunta dilakukan untuk mengambil gadingnya. Setelah Bunta mati, pelaku memotong pipi gajah untuk diambil gading. “Pemburu mengambil gading dari gajah tersebut. Sementara sisa patahan gading yang tertinggal sudah diamankan, yakni sepanjang 46 centimeter,” tambahnya.

Gubernur Aceh Irwandi Yusuf menegaskan, pihaknya mendukung penuh pengungkapan kasus kematian Bunta. Dia menegaskan, akan memberikan hadiah uang sebesar Rp100 juta bagi siapapun yang bisa memberi informasi pelaku pembunuhan gajah Bunta. “Hadiah Rp 100 juta dari Gubernur Aceh bagi yang dapat memberikan informasi akurat yang dapat mengarahkan aparat penegak hukum untuk menangkap pelaku pembunuhan gajah jinak yang bernama Bunta di Aceh Timur,” tulis Irwandi, di akun facebook miliknya, Rabu (13/6).

Irwandi menegaskan, akan melindungi kerahasiaan si pemberi informasi. Informasi soal pembunuh Bunta, bisa dikirimkan ke email pribadi sang gubernur albiruny@gmail.com. Irwandi juga meminta pelaku menyerahkan diri. “Kepada pelaku diharapkan segera menyerahkan diri kepada yang berwenang atau akan ditangkap dengan risiko yang tidak dapat diperkirakan,” tegasnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *