Ketua DPR Pertanyakan Beda Data Produksi Jagung Nasional | Villagerspost.com

Ketua DPR Pertanyakan Beda Data Produksi Jagung Nasional

Jagung untuk bahan baku pakan ternak. (dok. kemendagri.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Data produksi pangan nasional kembali mengundang perdebatan antara Kementerian Pertanian dan DPR. Kali ini yang menjadi persoalan adalah data produksi jagung nasional. Pihak Kementerian Pertanian menyebutkan produksi jagung sebanyak 27 juta ton. Data tersebut berbeda jauh dengan yang dirilis oleh United States Department of Agriculture (USDA/Kementerian Pertanian Amerika Serikat) yang menyebutkan produksi jagung Indonesia hanya 10,5 juta ton.

Ketua DPR Bambang Soesatyo pun mempertanyakan perbedaan data produksi jagung yang sangat jauh berbeda ini. “Perbedaannya sangat jauh. Maka saya mendorong Komisi IV DPR RI agar Kementan memberikan data produksi berdasarkan kajian terhadap produksi jagung di seluruh wilayah Indonesia, agar diketahui jumlah produksi jagung yang sebenarnya,” kata pria yang akrab disapa Bamsoet ini, di Jakarta, Senin (30/7).

Bamsoet juga meminta pihak Kementan menjelaskan kepada DPR soal adanya perbedaan data produksi jagung antara kementan dengan USDA. Bamsoet juga mendorong Komisi IV DPR dan Komisi XI DPR agar Kementan dan Badan Pusat Statistik (BPS) untuk duduk bersama dan melakukan pengolahan serta evaluasi terhadap data produksi tanaman pangan, terutama jagung.
“Harus dipastikan jumlah produksi jagung kita yang sebenarnya, sehingga dapat dijadikan data yang tepat dalam setiap pengambilan kebijakan terkait dengan sektor pangan,” kata politikus Partai Golkar itu.

Ia menekankan kepada Komisi IV DPR agar Kementan lebih mengutamakan pemenuhan kebutuhan serta menekan harga jagung di pasar dalam negeri. Saat ini persediaan jagung mengalami peningkatan. Menurut data dari Kementan, produksi jagung tahun 2018 mencapai 28,6 juta ton, dari tahun sebelumnya 27,95 juta ton.

“Selain validasi data bersama BPS, DPR RI minta agar Kementan bisa memgendalikan harga pangan. Salah satunya dengan membuat regulasi agar harga jagung tidak dipermainkan oleh para spekulan,” pungkasnya.

Sebelumnya Perencana utama Direktorat Pangan dan Pertanian, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Nono Rusono juga sudah meminta agar Badan Pusat Statistik segera mengeluarkan data produksi jagung untuk mengevaluasi data produksi yang telah ada.

Nono mengatakan, jika berpegang pada data Kementan bahwa poduksi jagung nasional tahun 2017 mencapai 27,9 juta, maka seharusnya sudah melebihi kebutuhan nasional, namun nyatanya tren harga jagung terus meningkat. Dia mengungkapkan

Menurut Nono, data produksi jagung tahun 2017 yang dikeluarkan oleh Kementerian Pertanian sebesar 27,9 juta ton. Sementara, bila produksi jagung sebanyak ini, maka angka ini sudah melebihi kebutuhan di Indonesia. kebutuhan jagung pada 2017 sebesar 22,4 juta ton. Kebutuhan paling besar ditujukan untuk pakan ternak atau sekitar 50%, untuk konsumsi langsung sebesar 10%, untuk industri makanan sebesar 20%-30% dan yang tercecer sekitar 3%.

Nono mengatakan, ada kontradiksi antara data produksi yang dikeluarkan Kementan dengan tren kenaikan harga jagung yang berpengaruh pada harga pangan lain seperti telur dan daging ayam.

“Memang agak aneh dengan harga jagung naik Jadi ini perlu ada peninjauan dengan data yang ada. Karena tidak sinkron antara suplai yang tinggi dengan harga. Harusnya suplai meningkat harga turun, tapi ini suplai meningkat harga jagung tinggi. Ini akan berpengaruh pada produk pangan lainnya,” kata Nono, Selasa (24/7).

Nono mengatakan, BPS harus merilis data produksi jagung sebagai pembanding karena merupakan badan yang independen. “Data yang dikeluarkan BPS itu kita anggap independen dan apa adanya. Sementara Kementan kan pelaksana program, sementara dia yang mengeluarkan data itu, ya sebaiknya yang mengeluarkan data adalah BPS,” ujarnya.

“Bappenas pun akan menunggu data produksi yang akan dikelurkan oleh BPS. Nantinya data tersebut akan digunakan untuk membuat program dan beragam perencanaan terkait pangan,” pungkasnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *