Komisi VII: Moratorium Pembangunan Pabrik Semen | Villagerspost.com

Komisi VII: Moratorium Pembangunan Pabrik Semen

Petani di kawasan Pegunungan Kendeng menolak pendirian pabrik semen (dok. simpulsemarang.org)

Jakarta, Villagerspost.com – Komisi VII DPR mendesak pemerintah melakukan moratorium pembangunan pabrik semen. Anggota Komisi VII DPR Andi Yuliani Paris mengatakan, tanpa adanya moratorium pada pabrik semen, akan mematikan perusahaan-perusahaan semen yang kebanyakan sahamnya dimiliki bangsa Indonesia.

“Berdasarkan laporan dari Direksi PT. Semen Tonasa maupun PT. Semen Bosowa, kini terjadi over suplai semen, meski pembangunan infrastruktur sedang digalakkan. Ke depan diharapkan penyerapan konsumsi semen dari kedua industri itu bisa ke sektor retail, maupun perseorangan,” kata Andi dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Senin (8/10).

Baru-baru ini, Komisi VII telah melakukan kunjungan kerja spesifik ke PT Semen Tonasa dan PT Semen Bosowa di Sulawesi Selatan. Tim Kunspek Komisi VII DPR tersebut dipimpin Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Tamsil Linrung (PKS) dengan Anggota Komisi VII DPR RI Dardiansyah dan Denny Jaya Abri Yani dari PDI-Perjuangan, Bambang Riyanto (Gerindra), Ihwan Datu Adam (Demokrat), Andi Yuliani Paris (PAN), Peggi Patricia Patippi (PKB) dan Mukhtar Tompo (Hanura).

Dari kunjungan tersebut, hal utama yang dibahas adalah terjadinya oversupply semen mencapai sebesar 30 juta ton. Terkait hal ini, anggota Komisi VII DPR Bambang Riyanto mempertanyakan langkah pemerintah yang terus membuka peluang investasi asing, khususnya China, ketika terjadi over produksi.

Untuk soal ini, kata dia, seharusnya ada koordinasi antara Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan dan kementerian terkait lainnya serta ada pembatasan investasi. “Saya khawatir kalau masuk investasi besar-besaran, mereka makan daging, tapi bangsa sendiri hanya makan tulangnya,” ujar Bambang.

Politikus Partai Gerindra itu menandaskan, masuknya pemodal asing harus memberi manfaat bagi peningkatan kesejahteraan bangsa sendiri. Sementara itu, Direksi PT Semen Bosowa Wahyu Budi Susetyo mengakui, kondisi semen sekarang dan profitnya berbeda dengan tahun 2014 lalu dan sebelumnya.

“Dulu nafasnya agak lega, sekarang ini agak kembang kempis. Dulu pemasaran kemana-mana, sekarang hanya konsentrasi di sektor tertentu,” jelasnya.

Dirut PT Semen Tonasa Subhan mengakui pernah over capacity sampai 40 juta ton. Dari sisi permintaan pada 2016 mengalami penurunan dan 2017 naik kembali sekitar 7,1 persen dan hingga Agustus 2018 naik sebesar 7 persen. Diakui pula bahwa yang banyak menyerap produksi semen adalah infrastruktur sementara di sisi retail mengalami penurunan.

“Penopang pemasaran kita adalah retail, sementara sektor ini mengalami kelesuan. Pada tahun 2016 lalu over produksinya sampai 40 juta ton, akibatnya pada tahun 2017 lalu penurunannya sampai 60 persen dari propability, sehingga berdampak pada penurunan program pemberdayaan masyarakat,” jelasnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *