Long March Petani Kendeng Lawan Pabrik Semen | Villagerspost.com

Long March Petani Kendeng Lawan Pabrik Semen

Gugusan karst di pegunungan Kendeng, Pati, Jawa Tengah (dok. omah kendeng)

Gugusan karst di pegunungan Kendeng, Pati, Jawa Tengah (dok. omah kendeng)

Jakarta, Villagerspost.com РSejumlah 2000 petani di lereng pegunungan Kendeng Utara melaksanakan aksi Long March Ngrungkebi Bumi Mina Tani yang dimulai pada Kamis (19/5) malam. Aksi yang dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional 2016, juga merupakan simbol perlawanan petani atas rencana pendirian pabrik dan pertambangan karst Kendeng untuk bahan baku semen oleh PT Indocement di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Aksi tersebut dilaksanakan oleh petani yang tergabung dalam Jaringan Masyarakat Peduli  Pegunungan Kendeng (JM-PPK)

Salah seorang perwakilan JM-PPK Gunretno mengatakan, aksi ini muncul dari kesadaran, panggilan moral dan hati nurani yang tidak ingin masa depan anak cucu terwarisi lingkungan yang rusak dan menyengsarakan hidup mereka kelak. Selain itu, long march ini juga sebagai bentuk usaha untuk mempertahankan slogan Kabupaten Pati sebagai “Bumi Mina Tani”.

“Dengan slogan tersebut pemerintah daerah Pati seharusnya berpihak pada para kaum tani yang telah membuat daerah tersebut menjadi lumbung pangan selama ini, bukan berpihak pada industri pertambangan yang akan merusak sumber air untuk pengairan irigasi dan kehidupan warga,” kata Gunretno dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Jumat (20/5).

Aksi long march ini sendiri menempuh perjalanan sejarak 20 kilometer sembari membawa obor. Aksi dimulai dari petilasan Nyai Ageng Ngerang di Kecamatan Tambakromo, sebagai lokasi yang akan terdampak dari rencana pendirian pabrik dan pertambangan karst oleh Indocement. Sedangkan finish perjalanan di Alun-alun Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

(Baca juga: Cacat Hukum Tukar Guling Lahan PT Semen Indonesia)

Long march ini juga berkaitan dengan rencana PT Sahabat Mulia Sakti (SMS), anak perusahaan dari PT Indocement Tunggal Prakarsa, yang hendak melakukan ekspansi pembangunan pabrik semen dan penambangan di wilayah Kecamatan Kayen dan Kecamatan Tambakromo, Kabupaten Pati. Warga telah melakukan gugatan atas terbitnya izin pabrik dan penambangan tersebut dan putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang pada tanggal 17 November 2015 telah memenangkan gugatan mereka.

Tapi warga belum bisa bernafas lega karena Pemda Kabupaten Pati dan PT SMS telah naik banding di Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PTTUN) Surabaya. Gunretno menerangkan, berkaitan dengan kasus gugatan izin lingkungan PT SMS yang sedang dalam proses di Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PTTUN) Surabaya, dia berharap dengan aksi long march ini warga bisa mengingatkan majelis hakim yang menyidangkan, memeriksa, dan akan memutus kasus pabrik  semen di Kabupaten Pati.

Gunretno menegaskan, hakim harus memegang prinsip-prinsip keadilan, serta saat pengambilan keputusan nanti tidak hanya mempertimbangan keputusannya dengan semata mengacu pada berkas-berkas tertulis saja, melainkan perlu juga melihat bukti di lapangan dan dampak terhadap kehidupan petani dan lingkungan di masa yang akan datang. “Kami yang hidup sehari-hari di lokasi rencana pabrik semen tersebut meyakini bahwa dari sudut manapun pertimbangannya, sungguh tidak layak jika di Kecamatan Tambakromo dan Kayen didirikan pabrik semen,” kata Gunretno.

Gunretno mencontohkan, dari segi kepadatan penduduk saja, Kecamatan Tambakromo lebih padat jika dibandingkan dengan kepadatan penduduk Kecamatan Sukolilo. Di Sukolilo beberapa waktu lalu rencana pembanguna pabrik semen gresik digagalkan setelah melihat kondisi kepadatan penduduk yang tidak memungkinkan pembangunan pabrik. Dia menilai, para hakim harus memegang teguh prinsip keadilan dan berpihak pada fakta dan kebenaran.

Salah satunya demi tujuan kelestarian alam pegunungan Kendeng yang harus tetap terjaga, demi keberlangsungan kehidupan dan keberlanjutan ekosistem. “Keadilan dan ketukan palu dari majelis hakim yang berkeadilanlah yang dapat membantu dan menyelamatkan kelestarian pegunungan Kendeng dari ancaman bencana sosial, ekonomi dan ekologis,” lanjut Gunretno.

Apalagi, kata dia, penghasilan kabupaten Pati sebagian besar berasal dari pertanian. Berdasarkan keterangan dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Pati, pendapatan domestik bruto (PDB) Pati 54% dari pertanian.

“Sungguh ironis jika 35% dari Kayen dan Tambakromo yang selama ini pertaniannya sangat produktif akan menjadi pertambangan. Lahan pertanian Pati berdasarkan BPS makin berkurang. Artinya jika pertambangan jalan, tidak ada upaya serius pemerintah mempertahankan lahan pertanian, tapi justru sengaja mematikan kehidupan petani.” jelas Gunretno.

Selain itu, kata dia, dalam dokumen analisa mengenai dampak lingkungan (amdal), jelas 60% lebih masyarakat menolak pertambangan. “Tawaran kesejahteraan pemerintah dan perusahaan belum tentu terwujud. Sebaliknya kesejahteraan warga dari bertani sudah terbukti mencukupi kehidupan sehari-hari bahkan lahan bisa diwariskan untuk anak-cucu mereka. Untuk pembuktian, kami meminta majelis hakim sidang lapangan. Membuktikan langsung kebohongan data dalam Amdal,” tambah Gunretno.

Ahli speleologi (ilmu yang mempelajari gua termasuk proses pembuatannya, struktur, fisik, sejarah dan aspek biologis) dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dr. Cahyo Rahmadi sebelumnya juga memberikan keterangan selaku ahli dalam persidangan di PTUN Semarang. Dalam keterangannya Cahyo mengatakan, pertambangan semen di pegunungan karst Kendeng Utara berpotensi memutus fungsi karst sebagai pendistribusi air melalui goa.

Jika distribusi air terputus menyebabkan mata air hilang dan pemulihan seperti sediakala sangat sulit. Cahyo menjelaskan, kawasan karst merupakan bentang alam di batuan mudah larut seperti batu gamping. Proses memakan waktu puluhan ribu tahun, karst memiliki jaringan goa sebagai “pipa” air alami yang menghubungkan zona resapan, zona simpanan dan mata air yang penting bagi masyarakat di kawasan itu.

“Aktivitas tambang yang menghilangkan lapisan tanah pucuk dan lapisan epikarst (karst permukaan) akan memutus jaringan air bawah tanah. Akhirnya menyebabkan fungsi karst sebagai akuifer air bersih bagi masyarakat sekitar hilang,” imbuh Gunretno mengutip keterangan Cahyo.

Dia mengatakan, akan sulit memulihkan kawasan karst yang ditambang. Hilangnya tanah pucuk dan lapisan epikarst hanya menyisakan batu gamping yang memiliki sedikit lubang-lubang pelarutan. Dampaknya, air hujan sulit terserap dan berpotensi menjadi aliran liar di permukaan. Dalam keterangannya selaku ahli, Cahyo juga menunjukkan hasil penelitian geoteknologi LIPI yang membandingkan laju serap batu gamping belum dan sudah ditambang, serta direklamasi dengan batugamping ditambang tetapi tidak direklamasi.

Hasilnya, direklamasipun tidak mampu mengembalikan separuh dari nilai laju serap batu gamping yang telah ditambang dibanding batu gamping asli ditambang. Walaupun direklamasi, kemampuan karst tidak bisa kembali maksimal dan tidak mungkin diperbaharui lagi. “Ekosistem karst bernilai penting. Sudah tentu gangguan pada keseimbangan komponen biotik dan abiotik di karst akan mengganggu kehidupan manusia itu sendiri,” kata Gunretno mengutip keterangan Cahyo.

Guretno kembali menegaskan, dengan Long March Kendeng ini, sekali lagi kami ingin menghidupkan slogan “Pati Bumi Mina Tani” dengan cara mempertahankan Pegunungan Kendeng. “Kendeng wajib dilestarikan¬† untuk mendukung misi Nawacita Presiden Joko Widodo, yakni terwujudnya kedaulatan pangan. Jika kawasan karst ini ditambang maka akan berdampak pada rusaknya keseimbangan ekosistem, hilangnya sumber air dan sungai bawah tanah yang selama ini digunakan warga untuk pertanian, ternak, dan kebutuhan hidup sehari-hari,” pungkasnya (*)

Ikuti informasi terkait masalah pembangunan pabrik semen >> di sini <<

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *