Mafia Air, Sea Games dan Ironi Krisis Air Sawah Indramayu | Villagerspost.com

Mafia Air, Sea Games dan Ironi Krisis Air Sawah Indramayu

Kelangkaan Air Sawah Indramayu YouTube play
Indramayu, Villagerspost.com – Kemegahan pelaksanaan ajang pesta olahraga terbesar se Asia Tenggara, Sea Games 2018, ternyata membawa ironi tersendiri bagi para petani di Indramayu, khususnya di Kecamatan Losarang, Kandanghaur, Terisi dan Gabuswetan. Bagaimana tidak? Dipergunakannya Bendung Rentang, yang selama ini menjadi sumber air sawah bagi petani di empat kecamatan itu sebagai lokasi ajang olahraga dayung Sea Games 2018, berdampak pada kurangnya debit air yang masuk ke saluran irigasi.┬áSudah begitu, situasi krisis air ini malah dimanfaatkan mafia air, untuk meminta uang dari petani agar blok-blok sawah mereka bisa dialiri air.

Debit air di Bendung Rentang memang terpaksa digilir kepada para petani di empat kecamatan itu, agar tidak surut dan bisa digunakan untuk ajang latihan dan lomba dayung di Sea Games mendatang. Namun dampaknya, beberapa kawasan pertanian seperti di desa Muntur, Desa Manggungan, dan Rancahan, menjadi wilayah palng rawan karena jaraknya yang jauh dari Bendung Rentang, sehingga hingga kini belum mendapatkan jatah air.

Zaenal Mutaqien, petani muda Desa Muntur, yang juga jurnalis warga untuk Villagerspost.com melaporkan, ratusan hektare sawah di kawasan Kemisan, Desa Manggungan bahkan sudah ada yang puso. Ribuan hektare lainnya terancam gagal panen jika air tak juga dialirkan.

Lahan sawah yang mengalami puso alias gagal panen di Losarang Indramayu akibat krisis air (dok. villagerspost.com/zaenal mutaqien)

Dipergunakannya Bendung Rentang untuk ajang Sea Games ini dibenarkan oleh Kepala UPT Pengairan Lorasarang Darsono. “Benar air dari Rentang dipakai untuk ajang Sea Games 2018,” ujarnya. Hal itu, kata dia, membuat areal persawahan di empat kecamatan di Indramayu tersebut, terutama Losarang menjadi tidak maksimal, pasalnya jarak antara Bendung Rentang dengan pintu air 21 di Plasah, memang terlalu jauh.

Sebenarnya, sudah ada pergiliran pembagian air yang disusun pihak UPT Pengairan. Namun penjawalan itu tidak berjalan baik karena debit air yang kecil dan jarak terlalu jauh. Pintu air 20-21 misalnya, dijadwalkan teraliri air pada Jumat (6/7), namun ternyata pada tanggal tersebut, air belum juga mengalir.

Saat dilakukan sidak oleh pejabat dari Kementerian Pertanian, Selasa (10/7) lalu, air memang sudah mengalir ke irigasi Cibuaya, namun pintu air 21 sudah ditutup karena sudah bukan gilirannya wilayah Losarang lagi. Air baru dijadwalkan untuk dialirkan lagi pada Sabtu (14/7) besok.

Krisis air sawah di Indramayu ini sendiri dilaporkan telah mengancam 3000-an hektare sawah di keempat kecamatan itu. Musim tanam II kali ini, petani terancam gagal panen jika masalah air tidak terpecahkan.

Jadwal penggiliran air untuk penyelamatan musim tanam ii di emat kecamatan di Indramayu yang tak terlaksana dengan baik (dok. villagerspost.com/zaenal mutaqien)

Ironisnya, seperti dilaporkan Zaenal, pada hari ini, Jumat (13/7) air yang sudah masuk ke Bendung Pangkalan, justru malah dialirkan ke arah laut dan bukannya dipakai mengariri persawahan di Losarang, yang sudah terlanda kekeringan parah. Hal ini menimbulkan banyak pertanyaan dari petani di Losarang.

“Masya Allah, kok bisa begitu, wilayah Kandang Haur, Losarang, lagi kekurangan air dan hampir gagal panen, ini kok airnya malah dibuang ke laut?” tanya Muhammad Syafei, seorang petani dari Losarang.

Kecurigaan adanya mafia irigasi juga sempat menyeruak di kalangan petani. Kecurigaan ini menyeruak ketika ada inisiatif seorang kuwu (kepala desa-red) dari kawasan Kecamatan Losarang yang bersedia membayar sejumlah uang tertentu ke oknum petugas agar air dialirkan sampai pintu air 19 dan 21 agar saluran ke kawasan Losarang terairi.

Namun transaksi gagal dilakukan karena salah satu Danramil di kawasan itu langsung turun tangan menangkap orang suruhan oknum pengairan yang hendak menerima uang dari kuwu tadi. Kabarnya nama oknum mafia air itu juga sudah sampai ke tangan Dandim Indramayu, namun untuk penindakan diserhkan ke pihak PUPR Indramayu.

Laporan/Foto/Video: Zaenal Mutaqin, Petani Muda Desa Muntur, Losarang, Indramayu, Jurnalis Warga untuk Villagerspost.com

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *