Mahasiswa IPB Gelar Ngaji Kebudayaan Pertanian | Villagerspost.com

Mahasiswa IPB Gelar Ngaji Kebudayaan Pertanian

Budayawan Mohammad Sobary bersama Dr. Suryo Wiyono di acara Ngaji Kebudayaan Pertanian (dok. Departemen Proteksi Pertanian IPB)

Budayawan Mohammad Sobary bersama Dr. Suryo Wiyono di acara Ngaji Kebudayaan Pertanian (dok. Departemen Proteksi Pertanian IPB)

Bogor, Villagerspost.com – Pakar agraria Profesor Gunawan Wiradi pernah mengemukakan, pertanian adalah produk budaya manusia yang menjadi tonggak peletak dasar perkembangan peradaban manusia. Gunawan mengatakan, sejak manusia prasejarah mengenal pola hidup menetap dan bercocok tanam, sejak itulah profesi petani lahir. Budaya bercocok tanam, kata Gunawan, merupakan akar dari lahirnya budaya manusia lainnya. Karena itu, menurut akademisi yang juga aktivis gerakan kaum petani ini menegaskan, petani adalah peletak dasar peradaban.

Kesadaran dan pehaman tentang petani dan pertanian inilah yang kemudian coba diresapi kembali oleh para mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Proteksi Tanaman, Departemen Proteksi Tanaman (PTN) IPB sebagai intelektual terkait perannya dalam pembangunan pertanian dan petani. Kamis (24/3) kemarin, dengan dipandu oleh Ketua Departemen Proteksi Tanaman IPB Dr. Suryo Wiyono, staf pengajar Departemen Proteksi Tanaman Dr Widodo, para mahasiswa menggelar kegiatan Ngobrol Budaya Pertanian dengan tema tungku budaya untuk kebangkitan petani dan pertanian Indonesia.

Kegiatan “Ngaji” kebudayaan pertanian yang dihelat di kampus IPB darmaga ini menghadirkan pembicara utama budayawan Mohammad Sobary atau yang lebih dikenal dengan sapaan Kang Sobary. Dalam sambutannya, Dr. Suryo Wiyono menjelaskan, kegiatan ini sangat penting artinya bagi civitas akademika dilingkup Departemen Proteksi Tanaman danĀ  IPB secara umum karena memberikan warna lain dalam kehidupan kampus.

(Baca juga, Petani: Profesi Mulia, Peletak Dasar Peradaban Manusia)

“Diskusi terkait kebudayaan sudah jarang dilakukan. Padahal berbicara pertanian tidak bisa dipisahkan dari kebudayaan. Pertanian Indonesia sangat kaya budayanya. Unsur inilah yang menempatkan pertanian menjadi kekuatan sekaligus pembeda dengan negara lain,” kata Suryo.

Sejarah pertanian nusantara menunjukkan hal ini. “Dengan memahami hal ini maka diharapkan memiliki kepedulian yang tinggi sehingga mau kembali ke pertanian dan membangun pertanian serta petaninya,” tegasnya.

Sementara itu Dr. Widodo, pengajar PTN IPB, mengemukakan mahasiswa harus peduli pertanian. “Hari ini sepertinya ada jarak antara dunia mahasiswa dengan dunia petani. Padahal keduanya bisa menjadi satu. Jika hari ini petani sendirian menghadapi berbagai persoalan mungkin saatnya dunia kampus mendekatkan diri menjadi kawan baik petani,” ujarnya.

Sementara itu Kang Sobary yang dalam paparannya mengetengahkan topik kejujuran ilmiah dan komitmen sosial mengajak seluruh civitas akademika untuk lebih peduli pada nasib petani dan pertanian Indonesia. Menurutnya saat ini pertanian kita sedang dihadapkan pada tantangan besar yaitu adanya kuasa kapital dan kebijakan yang melemahkan petani.

“Petani menjadi kelompok masyarakat yang tak memiliki kekuatan tapi dibiarkan bertarung sendirian di pusaran kekuasaan modal dan kebijakan,” tegas Sobary.

Saat ini kapital dan kekuasaan-kebijakan telah menempatkan segala sesuatunya menjadi seragam. Dalam pertanian mulai dari benih, cara bercocok tanam hingga model pemasaran semuanya dibuat sama. “Ketika keseragaman terjadi maka kita bisa jadi telah kehilangan kekuatan yaitu kebudayaan pertanian nusantara,” tambahnya.

Menurut Kang Sobary akademisi dan mahasiswa memiliki tanggungjawab etis terhadap hal ini. Bahwa di dunia perguruan tinggi ilmu pengetahuan terus dikembangkan adalah keharusan namun jangan sampai hanya dilakukan sekadar untuk melayani kepentingan tuntutan akademik semata.

“Tetapi harus memiliki kemanfaatan dan kemaslahatan bagi masyarakat dalam hal ini petani. Disinilah pentingnya komitmen sosial diperlukan selain kejujuran dalam keilmuannya,” terangnya.

Masih menurut Kang Sobary, mahasiswa juga punya tanggung jawab etis untuk membangun komitmen sosial walaupun kadarnya berbeda dengan dosen atau peneliti. Ia mencontohkan Profesor Sayogyo sebagai “maharesi” yang mempraktikkan dan menyeimbangkan keduanya, yaitu jujur berkomitmen pada kemanusiaan dan urusan sosial lainnya.

Sobary mengajak mahasiswa untuk meneladani Prof. Sayogyo. “Ilmu yang dimiliki harus diarahkan untuk melayani kemaslahatan sebab jika tidak maka bisa jadi kita melakukan dosa sosial,” pungkas Sobary. (*)

Ikuti informasi terkait pertani nusantara >> di sini <<

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *