Mencari Solusi Larangan Cantrang | Villagerspost.com

Mencari Solusi Larangan Cantrang

Nelayan memperbaiki jaring cantrang (dok. kkp.go.id)

Nelayan memperbaiki jaring cantrang (dok. kkp.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Penolakan para nelayan atas pemberlakuan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No 2 Tahun 2015 tentang Larangan Penggunaan Pukat Hela (trawal) dan Pukat Tarik (Seine Nets) di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia, masih terus terjadi. Komisi IV DPR pun meminta agar beleid yang dikeluarkan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti itu dikaji ulang.

Ketua Komisi IV DPR RI Edhy Prabowo menegaskan, setahun setelah dikeluarkannya Permen itu, permasalahan seputar nelayan tetap tak kunjung selesai. “Dulu kita mengingatkan Peraturan Menteri No. 1 dan 2 Tahun 2015, itu semua dikaji dulu, termasuk petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknisnya,” kata Edhy saat memimpin Tim Kunjungan Spesifik Komisi IV DPR RI ke Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Kejawanan, Cirebon, Jawa Barat, Rabu (20/4).

Para nelayan tak bisa melaut lantaran terganjal peraturan itu. Namun para nelayan tradisional juga tak punya pilihan alat tangkap lain karena minimnya sosialisasi dan tidak ada penggantian alat tangkap ikan dari Pemerintah.

Salah satu perwakilan nelayan, Herman, menyuarakan keberatannya dengan penerapan Permen KP No. 2 Tahun 2015. Pasalnya, dari 30 ribu alat tangkap yang dimiliki nelayan, sebagian besar tidak masuk dalam kategori Permen itu, dalam artian tidak ramah lingkungan.

“Kami tanyakan kepada KKP, apa solusinya. Namun sampai sekarang tidak ada jawaban. Sehingga banyak nelayan saya yang menganggur,” tegas Herman.

Didik Haryanto, dari Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Indramayu malah mengatakan, akibat adanya Permen ini, ada penangkapan kepada nelayan dari aparat keamanan, karena penggunaan alat tangkap yang dianggap tidak ramah lingkungan. “Bagaimana nelayan mau nyaman melaut, kalau masih ada Permen ini,” imbuh Didik.

Edhy Prabowo mengakui, alat tangkap yang dimiliki nelayan saat ini, sebagian besar dianggap tidak ramah lingkungan. “Kebanyakan para nelayan itu keberatan dengan isi Permen yang menurut nelayan sangat memberatkan,” ujarnya.

Politisi F-Gerindra itu mengingatkan, KKP sebagai pihak yang menaungi masyarakat nelayan, seharusnya dapat menjadi pembina, bukan malah menjadi musuh nelayan. Ketika KKP menerbitkan Permen itu, seharusnya ada solusi yang diberikan, misal dengan penggantian alat tangkap nelayan.

Apalagi, Komisi IV DPR juga telah menggelontorkan kenaikan anggaran untuk KKP. “Anggaran KKP sudah kita berikan dua kali lipat lebih besar dibanding tahun sebelumnya. Harusnya lebih bagus. Sebelumnya Rp5 triliun, sekarang mencapai Rp11 triliun. Kalau sudah begitu, harusnya untuk mengganti alat tangkap nelayan itu, tidak sulit. Jika kita memberikan alat tangkap ke nelayan, ini secara tidak langsung memberikan lapangan kerja,” papar Edhy.

Politisi asal dapil Sumatera Selatan juga masih belum memahami maksud dari alat tangkap ikan yang diatur dalam Permen KP No 2 Tahun 2015 itu. Menurutnya, jika memang alat tangkap ikan itu perlu diatur, harus ada kejelasan, alat tangkap seperti apa yang dimaksud.

“Soal alat tangkap saja ini masih simpang siur. Misalnya cantrang, lalu cantrang yang seperti apa. Ada yang bilang cantrang tidak ramah lingkungan. Lalu seperti apa cantrang yang ramah lingkungan. Kalau memang alat tangkap tidak ramah lingkungan tidak diperbolehkan, harusnya KKP memikirkan penggantinya dan itu harusnya tidak sulit,” tegas Edhy.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *