Mendag: Tol Laut Turunkan Harga Pangan di Indonesia Timur | Villagerspost.com

Mendag: Tol Laut Turunkan Harga Pangan di Indonesia Timur

Presiden Jokowi meninjau kapal ternak KM Camara 1 yang menjadi bagian dari program tol laut (dok. ksp.go.id)

Presiden Jokowi meninjau kapal ternak KM Camara 1 yang menjadi bagian dari program tol laut (dok. ksp.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Menteri Perdagangan Thomas Lembong menilai program tol laut yang dicanangkan Presiden Joko Widodo telah berhasil mengurangi disparitas harga yang luar biasa, khususnya antara Indonesia bagian Barat dengan Indonesia bagian Timur. Lewat program itu, para pedagang dan pengusaha dimudahkan untuk mengangkut komoditas perdagangan ke wilayah Indonesia Timur.

Dampaknya, pemanfaatan tol laut yang telah diluncurkan sejak empat bulan yang lalu itu, berhasil menciptakan penghematan-penghematan ongkos angkut. Dampaknya, harga-harga barang pangan terutama di wilayah Papua mengalami penurunan yang cukup signifikan.

(Baca juga: Jokowi Minta Mentan dan Mendag Jaga Stabilitas Harga Pangan)

“Sejak diluncurkannya tol laut dan digunakan oleh pedagang, harga kedelai turun 14%, harga minyak goreng turun 21%, dan harga daging ayam misalnya turun sampai 35%,” kata Thomas Lembong, usai mengikuti Rapat Terbatas (ratas) mengenai dwelling time dan tol laut di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (29/3) sore.

Selaras dengan berjalannya tol laut, Thomas Lembong mengungkapkan, pihak Kemendag juga memiliki program Gerai Maritim untuk mengoordinasikan pedagang untuk memanfaatkan sarana tol laut untuk mengangkut barang-barang ke Indonesia bagian timur. “Sudah mulai kelihatan pembenahan disparitas harga,” kata Tom, sapaan Mendag.

Menteri Perdagangan memaparkan, yang dibutuhkan oleh pedagang dan pengusaha terkait dengan tol laut ini adalah kepastian jadwal pelayaran. “Ongkos sebetulnya sangat-sangat secondary, karena disparitas harganya begitu luar biasa. Jadi dengan mudah sebetulnya pedagang/pengusaha bisa membiayai ongkos tambahan asal ada kepastian,” terang Tom Lembong.

Thomas mengungkapkan perdagangan atau usaha itu merupakan upaya berkala bukan sporadis sehingga para pedagang mempunyai omzet yang konsisten. “Yang dibutuhkan pedagang dan pengusaha adalah kepastian jadwal bahwa pasti ada kapal yang berlayar dan itu dampaknya sekarang sudah mulai kelihatan diharga-harga pangan di bagian Papua,” pungkasnya. (*)

Ikuti informasi terkait harga pangan >> di sini <<

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *