Mendorong Pengembangan Ekspor Lada di Luwu Timur | Villagerspost.com

Mendorong Pengembangan Ekspor Lada di Luwu Timur

Petani Lada menjemur hasil panen. Pemerintah berupaya menggenjot sektor lada untuk kembali menjadi sektor unggulan (dok. dishutbun.kaltimprov.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Kementerian Perdagangan mendorong pengembangan potensi lada di Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional (PEN), Kemendag Arlinda mengatakan, komoditas lada di Luwu Timur berpotensi menjadi komoditas ekspor unggulan daerah bila dipromosikan dengan baik. Karena itu, beberapa waktu lalu, Kemendag menggelar sebuah seminar dengan para pelaku usaha lada.

“Lada dari Luwu Timur berkualitas baik dan memiliki after-taste yang unik. Namun, masih kalah pamor dibanding lada dari daerah lain seperti lada muntok white dari Bangka Belitung. Lada Luwu Timur perlu memaksimalkan promosi dan branding, serta menjalankan mekanisme pemasaran yang tepat,” kata Arlinda, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Sabtu (11/8).

Arlinda menegaskan, seminar mengenai lada di Kabupaten Luwu Timur yang digelar Ditjen PEN Kemendag adalah untuk membangkitkan semangat petani lada di daerah tersebut. “Seminar juga bertujuan mengajak para petani lada di Luwu Timur mengembangkan produk secara ekstensif, sehingga, lada Luwu Timur dapat bersaing di tengah lesunya pasar dan saat sedang rendahnya harga lada sebagai bahan baku,” paparnya.

Seminar diikuti para pelaku usaha lada, petani lada, asosiasi lada, serta Pemerintah Kabupaten Luwu Timur. Selain seminar, dilaksanakan juga kunjungan ke lahan perkebunan lada dan gudang lada milik pedagang pengumpul di Kecamatan Towuti, Luwu Timur.

Pada tahun 2017, luas lahan pertanian lada di Luwu Timur mencapai 5.871 hektare dengan kapasitas produksi sebesar 4.323 ton. “Hasil ini sangat cukup untuk memenuhi permintaan ekspor dari pembeli luar negeri,” kata Arlinda.

Hal yang perlu menjadi fokus agar lada dari Luwuk Timur dapat menjadi salah satu penggerak peningkatan ekspor Indonesia sebesar 11% di tahun 2018 adalah inovasi dan peningkatan nilai tambah. Saat ini produk lada Indonesia banyak diekspor ke Vietnam, Amerika Serikat, Singapura, dan India.

Badan Pusat Statistik mencatat, nilai ekspor lada Indonesia ke dunia tahun 2016 sebesar US$430 juta dengan kapasitas 53.099 ton. Sementara itu, di tahun 2017 harga lada yang anjlok menurunkan nilai ekspor menjadi hanya US$236 juta dengan kapasitas 42.687 ton.

Capaian tersebut masih jauh dari potensi ekspor komoditas ini yang dapat menyentuh angka US$1 miliar, sehingga, masih banyak ruang untuk terus mendorong ekspor lada Indonesia termasuk dari Luwu Timur.

Direktur Kerja Sama Pengembangan Ekspor Marolop Nainggolan memaparkan promosi dalam taraf yang lebih tinggi adalah mendorong lada Luwu Timur mendapatkan indikasi geografis dan sertifikat organik, sehingga memperoleh harga yang lebih baik di pasar internasional. “Selanjutnya diharapkan lada Luwu Timur menjadi produk indikasi geografis agar mendapatkan pengakuan atau brand lada Luwu Timur. Hal ini dapat didorong melalui program pembinaan pelaku usaha ekspor,” kata Marolop.

Marolop juga mengajak pihak swasta dan perusahaan-perusahaan untuk mendukung pengembangan lada lewat program tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR). “Salah satunya PT Vale Indonesia, yang menyisihkan sumber dayanya sejak beberapa tahun lalu dan menyatakan siap melanjutkan dukungan kepada petani lada melalui program yang disupervisi Kemendag,” ujar Marolop.

Untuk mendapatkan branding yang baik atas lada Luwu Timur, maka para pelaku usaha lada, petani lada, dan pemerintah daerah harus mampu mempertahankan mutu produk, mengembangkan produk dengan baik, mendiversifikasi produknya, serta memiliki pemahaman atas pasar dan harga. Para pemangku kepentingan lada di Luwu Timur juga perlu menjalankan promosi dan pemasaran langsung, sehingga dapat menentukan harga sesuai dengan kualitas ladanya.

“Cara ini akan membantu melindungi harga lada dan keberlangsungan bisnis lada di Luwu Timur jika sewaktu-waktu harga lada terpuruk,” ujar Marolop.

Bupati Luwu Timur, Muhammad Thorig Husler yang hadir dalam seminar mengapresiasi upaya pengembangan komoditas lada di Luwu Timur. Thorig menyampaikan akan mendorong para pemangku kepentingan di Luwu Timur merealisasikan ekspor lada dalam waktu enam bulan ke depan, serta ikut serta dalam pameran Trade Expo Indonesia 2018 pada Oktober 2018 mendatang.

Seorang petani lada di Luwu Timur menjadi contoh sukses pengembangan lada di daerah tersebut karena menerima penghargaan petani terbaik oleh International Pepper Community (IPC) tahun 2016. “Petani bernama Baharuddin ini mampu menghasilkan 9-10 ton lada per hektare hanya dengan menggunakan pupuk organik dari kotoran kambing dan ayam,” tegasnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *