Menebar Virus Organik di Katiku Wai | Villagerspost.com

Menebar Virus Organik di Katiku Wai

Lahan sayuran milik anggota petani pro iklim desa Katiku Wai, Sumba Timur, NTT (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)

Lahan sayuran milik anggota petani pro iklim desa Katiku Wai, Sumba Timur, NTT (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)

Sumba Timur, Villagerspost.com – Program Strategic Planning and Action to strengthen climate Resilience of Communities in Nusa Tenggara Timor province (SPARC) kembali menyapa Sumba Timur. Kali ini, program untuk menebar “virus” pertanian organik ramah lingkungan itu menyapa di Desa Katiku Wai.

Para pendamping lapangan mengunjungi kelompok petani pro iklim di desa yang terletak di kaki Gunung, Wanggameti, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur itu, selama beberapa hari pada pekan kemarin. Mereka tetap bersemangat meski harus menempuh jalan yang rusak dan naik-turun. “Jalannya parah banget,” kata pendamping lapangan Titus Umbu Ray.

Namun rasa lelah akibat perjalanan yang menantang itu terbayar begitu melihat semangat dan antusiasme masyarakat saat mengikuti sekolah lapang hortikultura dan padi pola SRI. Mereka sangat aktif terlibat dalam setiap sesi latihan yang difasilitasi para pendamping lapangan.

Terbukti demplot-demplot sayuran milik kelompok tampak subur menghijau. “Hanya penanggulangan hama dan penyakit yang harus Kami pahami,” ujar bapak Yakob, ketua kelompok petani Katiku Wai, kepada Villagerspost.com.

Menyemai benih padi dengan pola System of Rice Intensification (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)

Menyemai benih padi dengan pola System of Rice Intensification (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)

Karena itu, Yakob tampak antusias melakukan praktik pembuatan pestisida organik. “Rupanya bahan bahan pestisida sudah ada dan mudah cara buatnya. Selama ini kami tidak pernah tahu,” katanya lagi setengah terheran-heran.

Memasuki pelatihan praktik langsung padi pola SRI anggota proklim lebih kaget lagi, sebab lahan demplot padi luasnya 25 are hanya butuh benih 2,5 kg saja. Lalu sistem semainya pun harus pakai bale bambu, tidak seperti biasanya semai di lahan sawah.

“Mana cukup benih untuk lahan sawah seluas ini…?” Bisik seorang petani kepada temannya setengah tak percaya.

Praktik padi dimulai dari seleksi benih padi sehat, dengan bahan: benih padi, garam dan telur serta alat pendukung lainnya. Kemudian dilanjutkan pada pembuatan bale untuk persemaian padi pola SRI. “Baru kali ini ada program ke masyarakat petani ada praktik langsung dengan hal-hal baru bagi kami di Katiku Wai,” Ucap Yakob.

Ikuti informasi terkait pertanian organik Sumba Timur >> di sini <<

Laporan: Rahmat Adinata, Petani Organik, Anggota Gerakan Petani Nusantara, Sumba Timur, NTT

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *