Menjahit Masa Depan di Tengah 8 Tahun Blokade Gaza | Villagerspost.com

Menjahit Masa Depan di Tengah 8 Tahun Blokade Gaza

Rumah-rumah yang hancur akibat pemboman Israel atas Gaza (dok. oxfam.org.au)

Rumah-rumah yang hancur akibat pemboman Israel atas Gaza (dok. oxfam.org.au)

Jakarta, Villagerspost.com – Pabrik penjahitan pakaian “The Houso” dimulai dari usaha kecil. Abu Hasan Houso membuka pabrik itu di tahun 1990 hanya dengan beberapa mesin jahit, dan kemudian mewariskannya kepada anak lelakinya Hasan dan melihat perusahaan itu tumbuh menjadi perusahaan yang cukup besar. Di tahun 2006, The Houso mempekerjakan 40 pekerja dengan 55 mesin jahit, mengekspor hasil produksi mereka ke Israel yang merupakan pasar penting bagi perusahaan-perusahaan di Gaza.

“Kami mengekspornya setiap hari, perdagangan dahulu sangay mudah dan dinamins,” kata Hasan yang kini berusia 40 tahun dalam surat elektronik yang diterima Villagerspost.com, Sabtu (11/7). “Namun di tahun 2007 semuanya berubah menjadi mimpi buruk,” lanjutnya.

Israel melakukan blokade terhadap Gaza. Blokade tersebut sangat membatasi pergerakan penduduk dan juga barang dari Gaza. Pabrik tersebut kemudian terpaksa ditutup. “Perbatasan tiba-tiba ditutup dan kami harus berhenti bekerja sepenuhnya,” kata Hasan.

“Ini adalah pukulan berat bagi kami secara ekonomi dan personal. Saya harus melepaskan semua pekerja. Sangat menyakitkan melihat 40 keluarga kehilangan satu-satunya sumber pemasukan,” kata Hasan.

Hasan dan saudara-saudaranya kemudian juga mengambil pekerjaan biasa untuk bisa mendapatkan uang untuk menghidupi keluarga mereka, tetapi kesempatan kerja sangat langka. Mereka perlahan semakin tergantung pada bantuan untuk memenuhi kebutuhan dan menambal pendapatan mereka yang sangat kecil. “Sangat sulit mengatakannya, tetapi kami semakin sangat tergantung pada bantuan,” katanya.

Saat ini, setelah 8 tahun blokade Gaza berlangsung, tingkat pengangguran di Gaza melonjak menjadi yang tertinggi di dunia, berdasarkan laporan terbaru Bank Dunia. Lebih dari 40 persen penduduk dan lebih 60 persen kaum muda menganggur. Sekitar 80 persen penduduk Gaza menerima bantuan internasional.

Pabrik milik Hasan sendiri tetap tutup hingga tahun 2013. “Kami memutuskan untuk membuka sebagian dan mencoba untuk bekerja bagi pasar lokal,” kata Hasan, yang kini bekerja dengan keenam saudaranya dan tak ada pekerja lainnya.

“Tetapi keuntungannya hanya cukup untuk memberi makan keluarga kami,” ujarnya.

Konflik yang berlangsung sejak setahun silam telah membuat keluarga itu sangat menderita. Pabrik mereka-dan rumah mereka di sebelahnya, mengalami kerusakan akibat pemboman dan 20 mesin jahit hancur total.

Proyek terbaru Oxfam, didanai Disasters Emergency Committee (DEC) dan bekerja dengan rekan dari Ma’an Development Center, saat ini mencoba untuk membantu pabrik penjahitan pakaian milik keluarga Hasan dengan mempekerjakan 60 pekerja untuk memproduksi baju seragam sekolah untuk anak-anak setempat. Ini adalah bagian dari proyek yang lebih besar untuk menolong penduduk untuk memulihkan kembali penghidupan mereka pasca konflik, dimana saat itu banyak usaha kecil hancur.

Gaza penuh dengan pengusaha dan orang seperti Hasan bisa melakukannya hanya jika mereka diberikan kesempatan untuk itu. Untuk saat ini pabrik Hasan masih tergantung pada bantuan dari luar tetapi jika blokade dibuka, bisnis seperti yang dimiiliki Hasan akan bisa berjalan lagi secara mandiri (*)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *