Menteri Pertanian Asia Pasifik Sinergikan Pembangunan Desa-Kota | Villagerspost.com

Menteri Pertanian Asia Pasifik Sinergikan Pembangunan Desa-Kota

Penyaluran air bersih kepada desa di musim kemarau (dok. karangasemkab.go.id)

Penyaluran air bersih kepada desa di musim kemarau (dok. karangasemkab.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Para menteri pertanian Asia-Pasific sepakat untuk memperkuat ketahanan pangan dengan mensinergikan pembangunan antara pedesaan-perkotaan. Kesepakatan itu tertuang dalam pertemuan tingkat menteri forum Kerjasama Ekonomi Asia-Pasific (Asia Pacific Economic Cooperation–APEC), di Piura, Peru yang berlangsung tanggal 26-27 September kemarin.

Dalam pertemuan the Fourth Food Security Ministerial Meeting (FSMM4) itu terungkap, selama ini ada tiga hal yang menghambat ketahanan pangan. Pertama adalah, rendahnya akses pasar untuk produk pangan. Kedua, perubahan iklim. Ketiga, pembangunan pedesaan–perkotaan yang tidak bersinergi. Karena itulah sinergitas pembangunan desa-kota menjadi salah satu titik tekan dalam pertemuan ini.

Para menteri negara anggota APEC yang terdiri dari 21 anggota sepakat untuk mengatasi masalah tersebut melalui kerangka kerja sama yang disebut “Strategic Framework For Rural-Urban Development and Food Security”. Terkait kesepakatan ini, Duta Besar RI untuk Peru Moenir Ari Soeananda mengatakan, Indonesia akan mensinergikan pembangunan di pedesaan secara holistik.

“Indonesia juga mengusulkan agar seluruh pemerintah APEC terus membantu petani dan nelayan kecil untuk meningkatkan ketahanan pangan,” ujar Moenir dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Jumat (30/9).

Selain itu, menurut Moenir, Indonesia juga akan merevitalisasi fungsi lahan di daerah pedesaan untuk kegiatan bertani dan menjaga ekosistem lingkungan. “Lebih lanjut, Indonesia mengajak seluruh ekonomi APEC untuk mengutamakan tujuan SDGs terkait pengentasan kemiskinan dan ketahanan pangan dalam agenda pembangunannya,” terang Moenir yang juga bertindak selaku Ketua Delegasi RI mewakili Menteri Pertanian.

Tanpa ketahanan pangan, kata Moenir, permasalahan sosial seperti kemiskinan dan kelaparan akan menjadi hambatan besar untuk mencapai pertumbuhan yang berkualitas dan inklusif sebagaimana yang dicitakan oleh seluruh bangsa. Indonesia sendiri yang pada masanya pernah mencapai swasembada pangan, sangat merasakan tantangan pertumbuhan penduduk yang tinggi dan meningkatnya arus urbanisasi yang memperlemah ketahanan pangan.

“Karena itu, pemerintah Indonesia saat ini sedang fokus untuk kembali mencapai swasembada dengan program Upaya Khusus Pajale (Padi, Jagung dan Kedelai),” terang Moenir.

Melalui “Strategic Framework For Rural-Urban Development and Food Security”, Moenir yakin akan memberi akses pasar lebih luas di wilayah Asia Pasifik bagi komoditas pertanian dan perikanan Indonesia. Akses ini dipercaya akan berdampak pada pembangunan pedesaan.

Kemudahan lintas perdagangan produk pangan memiliki peran dalam meningkatkan ketahanan pangan, namun berdasarkan prediksi WTO pertumbuhan perdagangan tahun 2016 hanya akan mencapai 1,7%. Angka ini lebih rendah dari angka prediksi pertumbuhan ekonomi dunia yang di angka 3,4% (IMF, 2016).

Kegagalan untuk mengantisipasi perubahan iklim mengakibatkan terjadinya kegagalan panen di beberapa wilayah APEC. Dan pertumbuhan desa dan kota yang tidak bersinergi mengakibatkan permintaan pangan lebih besar dari pada produksinya. Berdasarkan data APEC, jumlah penduduk Asia Pasifik yang tinggal di wilayah urban saat ini mencapai 60%.

Untuk itu, dalam kerangka kerja sama strategis tersebut, APEC sepakat untuk membuat aksi nyata dalam membangun rural-urban secara bersinergi dengan tujuan meningkatkan ketahanan pangan. “Aksi nyata akan dilakukan secara holistik dan menyeluruh mencakup aspek ekonomi untuk meningkatkan perdagangan, penanggulangan dampak perubahan iklim, antisipasi dinamika dampak perubahan sosial dan reformasi struktural,” pungkas Moenir. (*)

Ikuti informasi terkait pembangunan desa >> di sini <<

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *