Oxfam: Bank-Bank Pembangunan Masih Danai Bahan Bakar Fosil di Asia | Villagerspost.com

Oxfam: Bank-Bank Pembangunan Masih Danai Bahan Bakar Fosil di Asia

Kehancuran bentang alam yang terjadi akibat pertambangan batubara (dok. greenpeace)

Jakarta, Villagerspost.com – Penelitian terbaru yang dirilis Oxfam mengungkapkan, tiga bank pembangunan terbesar di dunia masih saja menanamkan investasi secara besar-besaran untuk bahan bakar fosil di beberapa negara paling rentan terhadap iklim di Asia. Oxfam mendesak bank-bank ini untuk menghentikan dukungan mereka untuk proyek-proyek energi kotor dan fokus pada memulai revolusi energi bersih.

Dalam penelitian bertajuk “Menggerakkan Transisi“, Oxfam merinci bagaimana Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia, dan Bank Investasi Infrastruktur Asia menginvestasikan hampir US$5 miliar dalam bahan bakar fosil di 10 negara Asia yang tergabung dalam Forum Rentan Iklim.

Penelitian ini dilakukan hanya dua hari setelah dirilisnya laporan penting oleh Panel Antar Pemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) yang mengungkapkan dunia harus mencapai emisi nol pada tahun 2050 untuk menahan pemanasan global hingga 1,5 derajat Celcius. Negara-negara rentan iklim (Climate Vurnerable Forum–CVF) telah berkomitmen untuk menggunakan 100 persen energi terbarukan pada tahun 2050.

“Terhadap segala rintangan, negara-negara dari Forum Rentan Iklim memimpin dalam perang melawan perubahan iklim. Bank Dunia dan lembaga lain sekarang menghadapi ujian penting, apakah mereka akan terus mendanai fosil atau mereka akan memulai revolusi energi terbarukan dan membantu negara-negara ini mencapai tujuan ambisius mereka? kata Direktur Regional Oxfam Asia Lan Mercado, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Kamis (11/10).

Laporan Oxfam juga menghitung kerusakan iklim yang terkait dengan beberapa proyek berikut. Untuk setiap dolar yang diinvestasikan dalam perluasan pabrik batubara Mariveles yang diusulkan di Filipina, yang didukung oleh bank-bank klien International Finance Corporation (IFC), Asia akan mengalami kerugian sebesar US$ 10 dalam kerusakan perubahan iklim dan tambahan US$100 dalam kenaikan biaya kesehatan lokal.

Pembangkit listrik gas Riau yang diusulkan di Indonesia, yang akan dibiayai oleh ADB dan IFC, dapat menyebabkan kerugian hingga US$1,3 miliar terkait kerusakan akibat perubahan iklim di Asia.

Ketika bank-bank ini mendukung proyek-proyek energi bersih di negara-negara miskin, mereka memberikan stempel persetujuan yang sering diterjemahkan sebagai persetujuan untuk memberikan lebih banyak investasi. Lan Mercado mengatakan, hal ini penting karena negara-negara rentan berjuang lebih dari yang lain untuk menarik dolar bagi pengembangan energi terbarukan.

“Bank Dunia dan lainnya dapat membantu memulai revolusi energi bersih di negara-negara yang rentan terhadap iklim, tetapi mereka tidak dapat melakukannya sementara mendanai bahan bakar fosil di sisi lainnya,” kata Mercado.

Seperi ti diketahui, baru-baru ini, IFC yang merupakan lembaga keuangan swasta di bawah Bank Dunia menegaskan mewajibkan bank-bank klien baru mereka untuk mengungkap pendanaan yang terkait pada penggunaan batubara

IFC berkomitmen minggu ini untuk mewajibkan bank klien baru untuk mengungkapkan tautan mereka secara terbuka ke batubara dan mengatakan akan bekerja dengan mereka untuk mengurangi investasi pada energi kotor.

“Kami sudah melihat tanda-tanda kemajuan yang menggembirakan, tetapi bank-bank pembangunan ini perlu bergerak lebih cepat untuk membersihkan portofolio mereka dan berinvestasi dalam energi terbarukan untuk semua. Seperti yang ditunjukkan IPCC, kita tidak punya waktu luang,” kata Mercado.

Sebelumnya, Kepala Kantor Oxfam International di Washington Nadia Daar menyatakan dukungan pada IFC untuk segera menghapuskan pendanaan pada proyek-proyek batubara. “Batubara tidak memiliki tempat di portofolio IFC, itu sebabnya kami sangat senang melihat IFC mengambil langkah ini,” ujarnya.

“Tampaknya kebijakan baru ini hanya berlaku untuk klien baru. Kami berharap IFC akan berkomitmen untuk bekerja dengan klien saat ini untuk memastikan mereka juga mengurangi dan menjatuhkan investasi batubara,” tambahnya.

Nadia mengatakan, inisiatif pengungkapan pendanaan batubara oleh calon klien IFC ini sangat penting. “Transparansi yang lebih besar akan memungkinkan masyarakat yang terkena dampak proyek berisiko tinggi untuk melihat uang siapa yang diinvestasikan dan oleh karena itu mereka tahu perlindungan dan hak apa yang mereka berhak dapatkan,” ujarnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *