Pabrik Es Mangkrak mau Dioperasikan Lagi, Petambak Rawajitu Timur Pertanyakan Pemerintah | Villagerspost.com

Pabrik Es Mangkrak mau Dioperasikan Lagi, Petambak Rawajitu Timur Pertanyakan Pemerintah

Pabrik es yang mangkrak di Rawajitu (dok. petambak Dipasena)

Pabrik es yang mangkrak di Rawajitu (dok. petambak Dipasena)

Jakarta, Villagerspost.com – Masyarakat Rawajitu Timur, Lampung, khususnya para petambak udang di kawasan tambak eks Dipasena mempertanyakan niat pemerintah melalui Dinas Kelautan dan Perikanan Tulang Bawang, Lampung, yang ingin mengoperasikan sebuah pabrik es. Pasalnya, pabrik es itu dibangun tanpa melibatkan masyarakat dan kini mangkrak. Pabrik inilah yang akan dioperasikan lagi.

“Kewajiban melibatkan masyarakat dalam pembangunan di daerah harus menjadi perhatian khusus bagi para pemimpin di negeri ini, bukan hanya karna masyarakat lebih memahami apa yang mereka butuhkan namun juga agar anggaran belanja di daerah lebih tepat dan tidak disalahgunakan,” kata salah seorang petambak, Arie Soeharso kepada Villagerspost.com, Selasa (24/2).

Arie mengatakan, persoalan alokasi anggaran belanja daerah yang kerap menuai kontroversi ini pun, kini juga tengah hangat menjadi bahan pembicaraan di kecamatan Rawajitu Timur. “Masyarakat yang hampir kesemuanya berprofesi sebagai nelayan budidaya ini mulai angkat komentar terkait rencana DKP Tulang Bawang, yang akan mengoperasionalkan kembali pabrik es itu,” lanjut Arie.

Menurut para petambak, niat DKP Tulang Bawang untuk mengoperasionalkan kembali pabrik es itu, perlu dipantau dan diawasi dengan baik. “Pasalnya pabrik es yang dibangun pada tahun 2012 tersebut belum pernah beroperasi sekalipun,” kata Arie.

Arie mengatakan, pabrik es yang dibangun dengan anggaran sebesar Rp1,5 miliar oleh Pemda Tulang Bawang itu, hanyalah sebuah bangunan kosong berukuran 100 meter persegi yang kini kondisinya mulai rusak dimakan cuaca. “Sejak berdiri bangunan kosong (pabrik es) itu belum pernah digunakan, sebagian masyarakat pun banyak yang tidak tahu kalau itu ternyata pabrik es” ujarnya.

Dengan anggaran sedemikian besarnya, kata Arie, masyarakat menilai ada ketidakberesan dalam pengadaan pabrik es tersebut. Pasalnya semenjak budidaya mandiri ini petambak Dipasena pun sudah membangun pabrik es sendiri yang biayanya jauh lebih rendah dibandingkan milik pemerintah daerah.

Arie menambahkan, jika memang pemerintah daerah berkeinginan meningkatkan dan memajukan produksi perikanan di bumi dipasena harusnya yang dioperasikan bukan pabrik es mangkrak itu. “Perbaikan jalan poros Rawajitu sebagai infrastruktur penunjang justru paling tepat untuk dijadikan target alokasi dana anggaran pembangunan daerah,” tegasnya. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *