Padang Lamun Melayang, Dugong Terancam Hilang | Villagerspost.com

Padang Lamun Melayang, Dugong Terancam Hilang

Satu individu Dugong tengah mencari makan di kawasan padang lamun (dok. wwf/jurgen freund)

Satu individu Dugong tengah mencari makan di kawasan padang lamun (dok. wwf/jurgen freund)

Jakarta, Villagerspost.com – Di Indonesia barangkali tak banyak yang tahu soal hewan bernama Dugong. Apatah lagi soal nasibnya yang kini terancam punah karena habitat hidupnya, yaitu padang-padang lamun banyak yang menghilang akibat terjadinya kerusakan lingkungan. Padahal Dugong (Dugong dugon) merupakan jenis mamalia laut yang dilindungi dan merupakan salah satu spesies dari 20 spesies prioritas yang menjadi target penting Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Secara Nasional, Dugong dilindungi melalui UU No.5 Tahun 1990 tentang konservasi sumber daya hayati dan ekosistemnya serta UU No. 31 Tahun 2004 tentang perikanan. Sedangkan secara internasional, Dugong telah terdaftar di dalam “Global Red List of IUCN” sebagai “Vulnerable to extinction” atau rentan terhadap kepunahan. Dugong juga telah masuk dalam Appendix I CITES (the Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora)yang berarti bagian tubuh Dugong tidak dapat diperdagangkan dalam bentuk apapun.

Dugong memang memiliki ancaman kehidupan yang tinggi. Secara alami Dugong memiliki masa reproduksi yang lambat. Dibutuhkan waktu 10 tahun untuk menjadi dewasa dan 14 bulan untuk melahirkan satu individu baru pada interval 2,5-5 tahun. Ancaman lainnya yaitu tertangkapnya Dugong secara tidak sengaja oleh alat tangkap perikanan (bycatch), perburuan masif untuk pemanfaatan daging, taring serta air mata Dugong yang disinyalir memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi.

Hal inilah yang mendorong digelarnya Simposium Nasional Dugong dan Habitat Lamun 2016, yang berlangsung tanggal 20-21 April, di IPB International Convention Center. Simposium yang mengambil tema “Inisiatif Bersama untuk Pelestarian Populasi Dugong dan Habitat Lamun di Indonesia” itu diprakarsai bersama oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan bekerjasama dengan WWF Indonesia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dan Institut Pertanian Bogor (IPB).

Dalam simposium hari pertama, Rabu (20/4), Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Brahmantya Setyamurti Poerwadi mengatakan, ancaman terhadap populasi Dugong terus meningkat dan membutuhkan perhatian mendesak untuk sebuah upaya terpadu antara pihak yang terkait serta pendekatan model konservasinya. “Data dan sejumlah informasi pendukung dibutuhkan sebagai landasan ilmiah untuk menetapkan arah kebijakan jangka panjang serta merumuskan pengelolaan Dugong dan habitatnya di Indonesia,” ujarnya.

Laju kerusakan lamun di Indonesia, khususnya padang lamun, juga berkontribusi terhadap meningkatnya ancaman terhadap kepunahan Dugong. Luas padang lamun di Indonesia diperkirakan mencapai 31.000 km2. Namun data dari Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2O-LIPI) menyatakan sejauh ini, baru 25.752 ha padang lamun yang tervalidasi dari 29 lokasi di Indonesia.

Besaran populasi Dugong yang ada di perairan Indonesia sampai dengan saat ini juga belum dapat dipastikan karena masih terbatasnya survei dan kajian populasi yang telah dilakukan. Sedangkan peristiwa keterdamparan Dugong telah banyak tercatat di pelbagai lokasi pesisir nusantara.

Kerusakan padang lamun yang menjadi habitat hidup Dugong ini mendapat perhatian khusus dari Kepala Pusat P2O-LIPI Dirhamsyah. Dia menegaskan, kondisi habitat lamun sangat mempengaruhi keberadaan Dugong, sehingga penyebaran hewan ini terbatas pada kawasan pantai tempat tumbuhan lamun dapat berkembang.

“Habitat Dugong sangat perlu dijaga agar tidak mengancam populasi mamalia laut ini. Kelestarian Dugong sangat terkait erat dengan keberadaan padang lamun,” kata Dirhamsyah.

Dia menegaskan, melihat fenomena penurunan populasi Dugong di Indonesia, sangat diperlukan pertukaran data dan hasil kajian yang terkait dengan Dugong dan habitatnya. “Selain itu, pertemuan antara perumus kebijakan, akademisi, peneliti dan praktisi yang memahami Dugong dan habitat lamun sangat perlu dilakukan agar dapat menyusun rekomendasi penyelamatan populasi Dugong dan habitat lamun,” tambah Dirhamsyah.

Direktur Program Coral Triangle WWF Indonesia Wawan Ridwan menyatakan, minimnya data dan informasi sebaran populasi Dugong dengan tingkat ancamannya menyebabkan otoritas pengelola sulit untuk menentukan prioritas rencana aksi konservasi. “Simposium Nasional Dugong dan Habitat Lamun menjadi dasar untuk memperoleh informasi dan status terkini untuk upaya konservasi ke depan,” ujarnya.

Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB Dr. Ir. Luky Adrianto, M.Sc menambahkan bahwa aksi konservasi terhadap Dugong dan habitat lamun di Indonesia perlu dikaitkan dengan peran dan fungsi strategis lamun dalam menyediakan sumber daya ikan secara berkelanjutan. “Di sanalah, kita bisa berperan sebagai pionir serta menggagas aksi konservasi yang lebih komprehensif dengan melibatkan nelayan dan pemangku kepentingan lain di kawasan pesisir, khususnya melalui Seagrass-Ecosystem Approach to Fisheries Management (Seagrass-EAFM),” ujarnya.

Saat ini, upaya konservasi Dugong dan habitatnya di Indonesia tidak hanya dilakukan oleh pemerintah tetapi juga didukung oleh sejumlah lembaga internasional. Diantaranya adalah United Nation Environment Programme-Conservation Migratory Species (UNEP-CMS) yang bekerjasama dengan Mohamed bin Zayed Species Conservation Fund (MbZ) melalui program Dugong and Seagrass Conservation Project (DSCP).

DSCP merupakan program regional yang dilaksanakan di tujuh negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Sri Lanka, Mosambik, Madagaskar, Timor Leste dan Vanuatu. Selain konservasi Dugong, Kementerian Kelautan dan Perikanan juga mendorong daerah agar menginisiasi ekosistem padang lamun sebagai habitat kunci Dugong untuk menjadi Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD).

Lewat simposium Dugong ini, para ahli untuk bersama para pihak akan menyusun pedoman monitoring lamun dan Dugong. Di forum ini juga disajikan empat makalah kunci yang mewakili topik simposium untuk dipaparkan. Empat topik makalah yang didiskusikan bersama para pembuat kebijakan, akademisi, peneliti dan praktisi, adalah (1) kelembagaan dan jejaring konservasi Dugong-lamun, (2) biologi dan populasi Dugong, (3) distribusi dan habitat pakan, serta (4) ancaman dan pemanfaatan berkelanjutan.

Ada empat tujuan dari penyelenggaraan Simposium Nasional Dugong dan Habitat Lamun 2016 ini. Pertama, mengumpulkan informasi terkini mengenai aspek biologi, ekologi, ancaman, dan pemanfaatan Dugong serta habitat lamunnya di Indonesia. Kedua, menentukan status terkini tentang populasi dan pengelolaan Dugong serta habitat lamunnya.

Ketiga, menginisiasi dan memperkuat jejaring pemerhati Dugong di Indonesia, yang terdiri dari perumus kebijakan, akademisi, peneliti, dan praktisi. Keempat, menyusun rekomendasi dan panduan teknis mengenai metode survei serta monitoring populasi Dugong. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *