Panen Bibit Jagung Lokal di Watukawula | Villagerspost.com

Panen Bibit Jagung Lokal di Watukawula

Anggota Kelompok Tani  Pamoru Tana, Desa Watukawula bangga memamerkan jagung lokal hasil panen (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)

Anggota Kelompok Tani Pamoru Tana, Desa Watukawula bangga memamerkan jagung lokal hasil panen (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)

Sumba Barat Daya, Villagerspost.com – Nusa Tenggara Timur, khususnya kawasan Pulau Sumba sebenarnya merupakan salah satu sentra produksi jagung nasional. Sayangnya, di tengah upaya meningkatkan produksi jagung di NTT, jagung varietas lokal justru malah nyaris menghilang karena gempuran bibit jagung hibrida.

Untuk mengembalikan pamor jagung lokal yang sebenarnya tak kalah dibandingkan dengan jagung hibrida, kelompok tani Pamoru Tana, Desa Watukawula, Kecamatan Tambolaka, Sumba Barat Daya, pun mengembangkan demplot untuk produksi bibit jagung lokal. Upaya itu dikemas lewat program “Pengembangan Pertanian Konservasi Berbasis Kakao dan Tanaman Pangan” dari Konsorsium Wee Padalu Sumba Barat Daya,dengan dukungan MCA Indonesia.

Upaya mengkonservasi jagung lokal itu ternyata tak sia-sia. Hari ini, Senin (6/2), kelompok Pamoru Tana, berhasil melaksanakan panen perdana jagung lokal mereka. Tak pelak, panen jagung lokal ini disambut gembira oleh para anggota kelompok.

“Direncanakan khusus untuk bibit, sebab secara umum di Sumba ini kita krisis bibit jagung lokal di kalangan petani,” kata Ketua Konsorsium Wee Padalu Pater Mike M Keraf, kepada Villagerspost.com.

Jagung lokal Sumba yang nyaris hilang digempur jagung hibrida (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)

Jagung lokal Sumba yang nyaris hilang digempur jagung hibrida (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)

Manajer Program Konsorsium Wee Padalu Sulis Seda mengatakan, bibit lokal unggul ini awalnya hasil penangkar benih jagung dari komunitas petani Umma Pege binaan Yayasan Pengembangan Kemanusiaan Donders(YPKD) di daerah Kodi. “Diharapkan kedepan kebutuhan benih tidak menjadi kendala,” tuturnya.

Charolina Wada Mali anggota kelompok Pamoru Tana, merasakan kegembiraan luar biasa atas hasil panen dengan pola pertanian konservasi ini. “Dengan perlakuan yang serba ramah lingkungan, tidak pakai bahan kimia sedikit pun ternyata mampu menunjukkan tingkat produksi yang maksimal,” kata Mama Oce, begitu keseharian petani ini dipanggil.

Hal senada juga disampaikan pendamping petani Desa Watukawula Jeremy Kewuan. “Sejak awal petani dibimbing bagaimana tentang analisa agro ekosistem, sehingga petani dengan pola ini mengetahui perkembangan tanaman yang dibudidayakannya,” ujarnya.

Dia berharap dengan adanya gerakan menyelamatkan bibit jagung lokal di Pulau Sumba yang di pelopori oleh Konsorsium Wee Padalu, akan menjadi titik kekuatan tersendiri dalam mewujudkan ketahanan pangan daerah.

Laporan: Rahmat Adinata, Petani Organik, Anggota Gerakan Petani Nusantara

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *