Panen Raya, Bulog tak Hadir, Harga Gabah Jatuh, Petani Menjerit | Villagerspost.com

Panen Raya, Bulog tak Hadir, Harga Gabah Jatuh, Petani Menjerit

Petani memanen padi di sawah. (dok. litbang.pertanian.go.id)

Petani memanen padi di sawah. (dok. litbang.pertanian.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Harga gabah menjelang panen raya yang diperkirakan akan jatuh pada Maret-April ini jatuh. Hal tersebut membuat para petani menjerit. Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan, dari kunjungan kerja ke wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur diketahui, harga gabah di tingkat petani jatuh di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang ditetapkan di angka Rp3.700/kilogram.

Di beberapa wilayah, seperti di Cilacap, Banyumas, Purwokerto, Bantul, Slemen, Kebumen, Sragen, dan Ngawi, harga gabah bahkan berada di bawah Rp4000 per kilogram. Di Sleman misalnya, Amran menemukan harga gabah pada saat kunjungan hanya sebesar Rp3.400/kilogram gabah kering panen (GKP). Di Sragen harga gabah Rp3.400/kg, dan di Ngawi harganya Rp3.200/kg.

Kepada para petani, Amran berjanji akan memperjuangkan kenaikan harga gabah. “Kita sudah keliling selama lima hari ini pantau langsung ke lapangan, dan harga gabah masih di bawah HPP. Kasihan ini petani yang sudah lelah meningkatkan produksi, tapi harga belum bagus,” kata Amran usai berdialog dengan sejumlah petani di Ngawi, Jawa Timur, Rabu (2/3).

(Baca Juga: Panen Raya, Mentan Minta Bulog Serap Gabah Petani)

Petani mengeluhkan, rendahnya harga gabah adalah karena tidak hadirnya Bulog yang bersedia membeli dengan harga sesuai HPP. Harga yang diharapkan petani di atas Rp4.000/kilogram.

Alhasil petani masih menumpuk gabah hasil panennya sambil menunggu harga bergerak naik. Di Desa Kawu Kecamatan Wates Kabupaten Ngawi, misalnya, Amran menemukan tumpukan karung berisi gabah kering giling yang mangkrak begitu saja sementara petani masih sibuk menggiling padi.

Sri Lestari, petani pemilik gabah itu mengaku belum menjual karena menunggu harga bagus. “Belum dijual ini, Pak. Masih menunggu harga dari tengkulak, tapi harganya jatuh sekali,” kata Sri kepada Amran.

Sri menyampaikan, harga yang ditawarkan para tengkulak hanya Rp3.000. Dirinya juga mengungkapkan, Bulog belum pernah datang dan membeli satu ton pun gabah kering giling di desanya. “Belum, belum pernah datang ke sini. Kami hanya mengandalkan menjual ke tengkulak saja,” ungkap Sri.

Selain Desa Wates, ada pula Desa Bedoro, kecamatan Sambung Macan, Ngawi, Jawa Timur, yang belum disambangi Bulog. Sugimin, salah satu petani dari Kelompok Petani Sumber Rezeki, mengeluh lantaran harga GKG hanya Rp3.200.

“Harganya rendah, padahal modalnya lebih dari itu. Kami harap harga gabah bisa naik, Pak,” keluh Sugimin kepada Mentan Amran di Desa Bedoro.

Keluhan serupa juga disampaikan Sukiman, salah seorang petani petani di Desa Bedora Kecamatan Sambung Macan, Sragen. Dia mengatakan, jatuhnya harga gabah karena Bulog tidak turun membeli gabah mereka.

“Bulog tidak pernah ada di sini, Pak. Lagipula Bulog juga tidak mengeluarkan harga untuk gabah kami,” tutur Sukiman, mengadu kepada Mentan Amran saat ditemui sang menteri Rabu (2/3) kemarin.

Mendengar keluhan itu, Amran pun memanggil Divre Bulog yang hadir. Dia meminta Bulog segera membeli gabah yang sedang dipanen petani. “Saya minta Bulog turun langsung beli gabah ke petani. Saya minta diawasi oleh Dandim dan aparat kepolisian. Pemerintah harus hadir buat bela petani dan beri solusi,” tegas Amran.

Amran berharap Bulog bisa bekerja cepat dalam menyerap gabah petani. Dia tak ingin para petani lebih memilih menjual hasil panennya ke tengkulak dibandingkan ke Bulog. “Kasihan ini, kita sudah bantu alat, benih, dan lainnya tapi harga masih membuat mereka menjerit. Bulog, tolong ini langsung dibeli, bila perlu bikin posko di sawah. TNI juga kami mintai tolong agar mengawal ini agar petani menjual gabahnya ke Bulog saja,” tegas Amran. (*)

Ikuti informasi terkait Bulog >> di sini <<

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *