Pemerintah Rancang Aturan Kemitraan Industri-Peternak Rakyat Bangkitkan Industri Susu Nasional | Villagerspost.com

Pemerintah Rancang Aturan Kemitraan Industri-Peternak Rakyat Bangkitkan Industri Susu Nasional

Peternakan sapi perah skala peternakan rakyat (dok. dkppjabarprov.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Susu merupakan komoditas pangan penting karena merupakan sumber protein yang baik bagi pemenuhan kebutuhan gizi balita, penguatan derajat kesehatan masyarakat dan meningkatkan kecerdasan bangsa Indonesia. Saat ini industri peternakan sapi perah terkendala beberapa masalah, mulai dari produktivitas susu sapi yang rendah, pemilihan sapi perah yang masih di bawah skala ekonomis, serta neraca susu nasional yang tidak berimbang dimana kebutuhan ada di angka 4,5 juta ton, tidak diimbangi oleh produksi lokal yang baru mencukupi 864,6 ribu ton (19%).

Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar, Direktorat Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Abdul Rochim mengatakan, pola kemitraan perlu didorong untuk membangun industri susu yang kondusif. “Pasokan Susu Segar Dalam Negeri (SSDN) saat ini belum mampu memenuhi kebutuhan, baik untuk konsumsi maupun bahan baku industri, namun bisa perlahan-lahan diatasi dengan mendorong kemitraan antara indusri pengolahan susu dengan koperasi maupun kelompok peternak,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Jumat (17/11).

Ketimpangan antara kebutuhan konsumsi susu dengan produksi nasional ini, membawa akibat pada tingginya angka impor susu. Impor susu menjadi jauh lebih besar, yaitu berada di kisaran 3,65 juta ton (81%) dalam bentuk Skim Milk Powder (SMP), Whole Milk Powder (WMP), Anhydrous Milk Fat (AMF) Butter Milk Powder (BMP). Dalam hal jumlah sapi perah, Indonesia juga jaug ketinggalan dengan negara seperti Selandia Baru

Selandia Baru memiliki populasi sapi perah mencapai 6,5 juta, saat ini populasi sapi laktasi di Indonesia tercatat masih di kisaran ± 267 ribu ekor dari total sapi perah (± 533 ribu ekor). Mayoritas pun (98, 96%) berada di Pulau Jawa dengan tren pertumbuhan stagnan-cenderung menurun.

Konsumsi susu nasional sebesar 5% pun tidak sebanding dengan peningkatan produksi susu segar dalam negeri yaitu 2%. Di lain pihak, tingkat konsumsi susu Indonesia juga masih sangat rendah. Konsumsi susu penduduk Indonesia baru mencapai sekitar 16,62 kg/kapita/tahun (setara susu segar). Angka ini termasuk yang terandah di Asia Pasifik. masih jauh di bawah negara ASEAN lainnya: Malaysia 36,2; Myanmar 26,7; Thailand 22,2; Philipina 17,8 kg/kapita/tahun.

Melihat kondisi ini,kata Abdul Rochim, pemerintah dalam hal ini Kementerian Perindustrian tengah merancang kebijakan untuk mencapai target rasio Susu Segar Dalam Negeri (SSDN) dan Susu Impor menjadi 40:60. “Target itu diupayakan akan dicapai di tahun 2021,” ujarnya.

Asisten Deputi Peternakan dan Perikanan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Jafi Alzagladi mengatakan, Permentan No. 26/2017 mengenai Penyediaan dan Peredaran Susu dan kebijakan persusuan nasional yang tengah dirancang ini adalah kebijakan persusuan yang berpihak pada kemaslahatan bersama merupakan instrumen strategis bagi ketahanan pangan nasional dan menpersempit kesenjangan sosial. Salah satunya adalah mengatur pola kemitraan antara industri dan peternak rakyat.

“Kami melihat bahwa dengan kemitraan menjadi jembatan dalam mencapai setidaknya tiga aspek, yaitu peternak sejahtera dalam usaha taninya dan pemenuhan bahan baku bagi industri pengolahan susu serta terpenuhinya konsumsi susu segar guna mewujudkan sumber daya manusia yang sehat dan berkualitas,” tegas Jafi. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *