Perempuan Desa Bisa Jadi Agen Perdamaian | Villagerspost.com

Perempuan Desa Bisa Jadi Agen Perdamaian

Suasana acara Festival Toleransi Rakyat (dok. wahid foundation)

Jakarta, Villagerspost.com – Direktur Wahid Foundation Yenny Zannuba Wahid mengatakan, Perempuan desa bisa menjadi agen perdamaian. “Karena itulah Wahid Foundation mengajak kaum perempuan untuk membangun kemandirian ekonomi, membangun usaha bersama, untuk merekatkan toleransi dan meminimalkan konflik,” kata Yenny pada acara Festival Toleransi Rakyat (Peace Festival 2018) yang digagas Wahid Foundation, yang berlangsung sejak tanggal 9-11 Februari lalu.

Putri mantan Presiden RI Keempat Abdurrahman Wahid ini menegaskan, semua warga negara Indonesia berhak hidup di negeri ini tanpa memandang suku, agama, atau warna kulitnya. “Negara mengakui hak tiap warganya dengan setara. Kerukunan dan kedamaian yang akan membuat Indonesia menjadi besar,” tegas Yenny.

Acara Festival Toleransi Rakyat sendiri digelar atas kerja sama Wahid Foundation, Kementerian Desa Pembangunan Desa Tertinggal dan Transmigrasi, serta UN Women. Festival dibuka dengan rangkaian peragaan busana (fashion show) yang diikuti 23 orang ibu-ibu kampung dampingan Wahid Foundation, pameran produk desa binaan, stand-up komedi, dan tampilan musik akustik.

Selain peserta fashion, pembukaan festival ini juga dihadiri oleh puluhan perempuan dari berbagai daerah binaan Wahid Foundation, tamu undangan, kalangan media, dan pengunjung umum. Acara ini adalah bagian dari program Wahid Foundation yang disebut Women Participation for Inclusive Society (WISE), yang mengajak kaum perempuan untuk mencoba sesuatu yang baru.

“Jika kita mencoba sesuatu yang baru, akan muncul dua kemungkinan, gagal atau berhasil. Jika gagal kita akan tetap di tempat, tapi kalau berhasil akan luar biasa,” ujar Yenny.

Diamenambahkan, kaum perempuan memiliki potensi luar biasa namun kurang dihargai. “Walau perempuan-perempuan ini berasal dari desa, namun mereka adalah sosok perkasa yang memiliki kekuatan besar. Kekuatan ini perlu dibangkitkan sehingga mereka bisa menjadi inspirasi bagi warga desanya,” kata Yenny.

Dalam kesempatan ini, Yenny juga mengungkapkan hasil survei Wahid Foundation tentang perdamaian. Hasilnya? Perempuan Indonesia adalah orang-orang yang sangat toleran dan anti radikalisme.

Survei ini, kata Yenni, digelar di seluruh wilayah Indonesia, melibatkan responden pria dan wanita. “Ini sungguh luar biasa. Perempuan adalah makhluk yang toleran. Mereka memberikan kesempatan bagi orang lain untuk hidup dengan damai,” tegasnya.

Yenny Wahid mengatakan, menggerakkan desa damai tidak bisa dengan serta merta meminta kesadaran masyarakat untuk mengedepankan asas perdamaian. Namun juga harus dibarengi dengan upaya-upaya untuk mengatasi ketimpangan, salah satunya dengan memaksimalkan sumber daya yang dimiliki oleh desa.

“Yang menjadi kekaguman kami justru banyak sekali kebajikan yang justru bersumber dari desa. Desa punya banyak nilai-nilai yang bisa diaplikasikan oleh masyarakat kota, tentang bagaimana desa selama ini menjaga perdamaian,’ ujarnya.

Yenny mengatakan, dari 30 desa binaan Wahid Foundation, sebanyak 9 desa telah melakukan deklarasi desa damai. Desa dalam hal ini diberi kebebasan untuk merumuskan apa yang menjadi kebutuhan desanya untuk dapat menciptakan desa damai.

“Kita ingin perdamaian ini menjadi sebuah komitmen bersama. Dengan inilah dunia melihat dan akan terinspirasi. Indonesia mampu mengelola perbedaan. Di sini etnis apapun boleh tampil, dijamin oleh aturan-aturan kita. Indonesia adalah negara yang banya dicontoh oleh negara lain. Bahkan banyak negara yang ingin belajar terhadap desa-desa di Indonesia,” ujarnya.

Selanjutnya, Yenny berpesan kepada para peserta fashion show dan seluruh hadirin agar menjadi penyebar perdamaian di daerah masing-masing. Perempuan tidak hanya cantik parasnya, tapi juga cantik hatinya. “Itulah program yang kita jalankan selama ini, yakni perempuan yang bisa memperjuangkan kohesi sosial,” tandasnya.

Pada ajang yang sama, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Eko Putro Sandjojo mengatakan, perdamaian di desa adalah kunci bagi percepatan pembangunan. “Saya yakin pembangunan di desa hanya bisa berjalan dengan baik kalau perdamaian di desa bisa berjalan dengan baik,” ujarnya.

Ia berharap seluruh elemen masyarakat dapat membantu desa-desa yang masih terbelenggu kemiskinan. Karena menurutnya, kemiskinan dan ketimpangan akan menjadi pemicu rusaknya budaya perdamaian. Dirinya pun mengapresiasi upaya Wahid Foundation yang telah menginisiasi gerakan desa damai. Ia juga meminta lembaga-lembaga lain mendorong perdamaian di desa.

“Pak Presiden dalam tiga tahun ini telah memberikan dana desa Rp127 Triliun. Ditambah tahun 2018 dana desa yang turun sebesar Rp60 Triliun. Ini diharapkan dapat mengurangi ketimpangan,” ujarnya.

Eko melanjutkan, dana desa tahun 2018 memberikan perhatian khusus terhadap desa-desa miskin dengan mengubah formula pembagian dana desa yakni menurunkan porsi yang dibagi rata ke seluruh desa dari 90 persen menjadi 80 persen dan 10 persen afirmasi menjadi 20 persen. Dengan demikian, desa dengan kondisi miskin akan mendapatkan anggaran dana desa paling banyak tahun ini. (*)

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *