Perempuan Nelayan dan Penyelamatan Hutan Mangrove Asia Tenggara | Villagerspost.com

Perempuan Nelayan dan Penyelamatan Hutan Mangrove Asia Tenggara

Perempuan nelayan dan para nelayan lelaki di Lembata, NTT berjuang bahu membahu perbaiki kawasan mangrove yang rusak (dok. kiara)

Perempuan nelayan dan para nelayan lelaki di Lembata, NTT berjuang bahu membahu perbaiki kawasan mangrove yang rusak (dok. kiara)

Jakarta, Villagerspost.com – Peran nelayan perempuan dalam pengelolaan kawasan pesisir selama ini cenderung diabaikan negara. Padahal kontribusi nelayan perempuan dalam mengelola kawasan pesisir, misalnya dalam menyelamatkan hutan mangrove yang menjadi penyangga kehidupan di pesisir sangat besar. Karena itulah para nelayan perempuan dari Indonesia dan kawasan Asean mendesak hadirnya pemerintah melindungi mereka.

Tuntutan itu mengemuka dalam simposium bertajuk “Perempuan Nelayan dan Pengelolaan Sumber Daya Pesisir Berbasis Masyarakat” yang diselenggarakan oleh Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) dan SEAFish for Justice di Hotel GranDhika, Jakarta, hari ini, Selasa (29/12). Perempuan nelayan dari Kamboja, Malaysia, dan Indonesia bergantian mendesak hadirnya skema perlindungan dan pemberdayaan dari negara dan Asean.

Norng Limheang, perempuan nelayan dari Kamboja mengatakan, peran perempuan nelayan di Kamboja sangat besar dalam melestarikan mangrove dan memanfaatkannya untuk wisata. Dia mengatakan, 40% dari dana yang diperoleh dari pendapatan pariwisata itu dialokasikan untuk aktivitas sosial, diantaranya memperbaiki jalan dan merawat kuil.

“Dalam konteks inilah, negara harus hadir memberikan keberpihakan dan dukungannya kepada perempuan nelayan, mulai dari kebijakan, anggaran, dan implementasi di lapangan,” kata Norng.

Perempuan nelayan asal Indonesia Jumiati juga mendukung pernyataan Norng. Dia mengatakan, kepercayaan dan semangat gotong-royong merupakan kunci keberhasilan pelestarian ekosistem pesisir.

“Dari sinilah, kami mengembangkan hutan mangrove menjadi kawasan wisata. Di akhir tahun, kami mendapatkan sisa bagi hasil. Kami berharap pemerintah mempromosikan dan memamerkan wisata mangrove dan produk-produk olahannya, seperti makanan, minuman, kosmetik, dan obat-obatan,” ujarnya.

Di Indonesia khususnya, peran permpuan nelayan dalam penyelamatan ekosistem pesisir khususnya hutan mangrove memang sangat terasa. Di Langkat Sumatera Utara misalnya, para perempuan nelayan bersama dengan warga lainnya bahu membahu memperbaiki ekosistem mangrove yang rusak akibat pembangunan tambak dan lahan perkebunan sawit.

Sejak tahun lalu, para perempuan nelayan langkat menanami kawasan yang sudah rusak dengan 15.000 bibit mangrove. Indonesia memiliki luasan lahan hutan mangrove mencapai 4,2 juta hektare. Sayangnya kini sekitar 1,8 juta hektare diantaranya mengalami kerusakan. Salah satunya adalah di kawasan Langkat.

Sejak tahun 2008 lahan mangrove di kawasan itu rusak akibat adanya alih fungsi untuk salah satunya perkebunan sawit. Alih fungsi lahan ini selain merusak kawasan mangrove juga memicu terjadinya konflik antara warga nelayan dengan pihak perusahaan. Aktivitas konversi Hutan Kawasan Ekosistem Mangrove yang telah terjadi sejak 2008 di Register 8/L Kecamatan Brandan Barat, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara.

Para perempuan nelayan bersama nelayan dan warga mencoba mengembalikan lahan mangrove yang terlanjur rusak. Namun perjuangan mereka tak mudah karena pihak perusahaan kembali merusak upaya perbaikan yang dilakukan masyarakat pesisir Langkat. Terakhir, pada 9 Juli 2013, sebanyak 200 ribu bibit dari 700 ribu bibit yang disiapkan untuk melengkapi penanaman mangrove seluas 1.200 ha di Register 8/L rusak dan mati karena disiram bahan kimia.

Namun semua itu tak menyurutkan langkah dan semangat para nelayan, khususnya perempuan nelayan untuk terus berjuang memperbaiki kawasan mangrove di Langkat. Masyarakat nelayan termasuk kaum perempuan di tiga kecamatan yaitu Babalan, Sei Lepan dan Brandan Barat, rutin melakukan upaya penanaman kembali lahan mangrove yang rusak.

Upaya itu tidak sia-sia karena saat ini ikan-ikan kembali berkembang biak dan para nelayan pun memetik buahnya. “Salah satu indikasinya adalah meningkatnya penghasilan nelayan tradisional dari Rp500 ribu per bulan menjadi Rp2,5 juta per bulan,” kata Sekretaris Jenderal KIARA Abdul Halim kepada Villagerspost.com.

Tajruddin Hasibuan, Presidium KNTI Wilayah Sumatera mengatakan, pada perkembangannya, masyarakat pesisir 3 kecamatan di atas telah menyelamatkan kawasan ekosistem mangrove seluas 1.200 hektare yang sebelumnya dikonversi untuk perkebunan kelapa sawit oleh UD Harapan Sawita. Dari jumlah itu, lahan mangrove yang sudah berhasil direhabilitasi sedikitnya mencapai 525 hektare.

Selain melakukan rehabilitasi mangrove dan mendorong penegakan hukum, KIARA bersama KNTI memperkuat kapasitas masyarakat untuk mengolah mangrove menjadi aneka produk ekonomi, seperti makanan, minuman, obat-obatan dan kosmetik.

Menilik fakta betapa besar peran perempuan nelayan dalam menyelamatkan ekosistem pesisir termasuk hutan mangrove, wajar kiranya jika para perempuan nelayan se-Asean menyerukan kehadiran negara untuk lebih memajukan peran mereka demi terciptanya kesejahteraan masyarakat pesisir. “Pemerintah harus mengambil peran lebih dalam memajukan kepentingan perempuan nelayan,” kata Siti Hajar, perempuan nelayan dari Malaysia.

Seruan para perempuan nelayan ini diharapkan dapat didengar dan diwujudkan pemerintah masing-masing negara. Pasalnya dalam simposium tersebut juga hadir perwakilan pemerintah masing-masing negara Asean seperti utusan Kedutaan Besar Kamboja di Jakarta.

Dari pemerintah Indonesia, hadir utusan dari Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta Kementerian Perdagangan. Selain itu hadir pula utusan dari Kementerian Perindustrian dan Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan.

Sebagai bagian dari simposium ini, para perempuan nelayan se-Asean juga akan memamerkan produk-produk olahan mangrove, daur ulang sampah, dan pelatihan mengolah ikan pada esok hari, Selasa (30/12). Acara itu bakal dihelat di Plaza Blok-M Square, mulai pukul 09.00–16.00 WIB. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *