Petani Indramayu Tolak Ajakan Tanam Padi Tiga Kali | Villagerspost.com

Petani Indramayu Tolak Ajakan Tanam Padi Tiga Kali

Suasana pertemeuan antara pihak Kodim Indramayu denga petani se Kecamatan Lelea di kantor Desa Lelea, indramayu (dok villagerspost.com/tarsono)

Indramayu, Villagerspost.com – Ajakan pihak Komando Distrik Militer (Kodim) Indramayu kepada petani dari desa-desa di Kecamatan Lelea, Indramayu untuk melaksanakan tanam padi tiga kali atau Indek Pertanaman (IP) 300 pada tahun ini, ditolak para petani. Penolakan itu disampaikan para petani dalam rapat koordinasi antara pihak Kodim Indramayu yang diwakili oleh Mayor Hudi Marsudi dengan para kepala desa dan para petani dari desa se-Kecamatan Lelea, di kantor Desa Lelea, Indramayu, Kamis (3/8).

Dalam kesempatan itu, Mayor Hudi meminta para petani di Kecamatan Lelea untuk melaksanakan IP300. “Ayo tanam padi lagi, kami sudah MoU dengan Mentan dan kami akan bantu alat pertanian, bibit, pestisida, pupuk dan alsintan,” ajak Mayor Hudi.

Sayangnya, para petani merasa keberatan dengan ajakan tersebut. Salah seorang perwakilan perangkat desa Soeharto mengatakan, keberatan petani tanam tiga kali adalah karena rentan dengan serangan hama dan penyakit. “Kalau tanam tiga kali saya tidak setuju, karena tahu sendiri panen sekarang kena kerdil atau klowor dan siklus hidup hama wereng akan terus berputar, ngumpreng di situ (bahasa jawa: berdiam di satu wilayah),” ujarnya.

Para perwakilan kelompok tani dari desa-desa di Kecamatan Lelea juga menyampaikan keberatan serupa. “Nunuk tidak setuju karena musim gaduh banyak hama dan penyakit hasil panen saja ada yang 2-3 ton per hektare, ada juga 4-5 ton per hektare,” kata Dadi, perwakilan dari Desa Nunuk. Selain itu, kata Dadi, untuk memutus rantai hama padi, usai musim tanam kedua, para petani Desa Nunuk biasanya menanam semangka. “Kalau tanam padi tiga kali kami tidak bisa tanam semangka,” katanya.

Hal senada disampaikan perwakilan Desa Tunggul Payung. “Desa Tunggul Payung alasan tidak mau tanam tiga kali, karena daerah saya tadah hujan biaya musim gaduh saja banyak beli bbm (bahan bakar minyak) untuk mengambil air dari sungai ke sawah. Terus karena kebiasaan petani di saya setelah musim gaduh maka tanam palawija,” ujar petani dari Desa Tunggul Payung.

Kepala Desa (Kuwu) Desa Lelea Raidi pun menyatakan keberatan yang sama. “Saya tidak setuju karena tetua desa lelea sangat kental dengan adat sebelum sedekah bumi belum bisa tanam padi jadi saya masih manut tetua saya,” ujarnya.

Para petani memang keberatan dengan pola tanam tiga kali karena rentan serangan hama dan penyakit. Salah seorang petani yang ikut dalam pertemuan itu mengatakan, sebaiknya pihak pemerintah dan aparat peka dengan keluhan petani. “Kami sudah susah dengan hama dan penyakit yang selama ini membuat petani kehilangan pendapatan,” ujarnya.

“Pak tolong biarkan lahan kami istirahat untuk memutus mata rantai hama dan penyakit,” demikian komentar petani bernama Sunaryo.

Para petani sendiri mengaku memahami ajakan pihak Kodim Indramayu untuk menggenjot produksi pertanian. Namun, pola ini dinilai petani berisiko karena rantai hama dan penyakit tidak terputus sehingga malah berisiko gagal panen. “Ajakan pak Dandim memang ajakan yang bagus tapi petani Kecamatan Lelea tidak mau untuk tanam tiga kali,” kata moderator pertemuan.

Menanggapi penolakan itu, pihak Kodim mengatakan akan menyampaikan keberatan para petani kepada pihak Dandim. “Ya sudah bapak-bapak, hasil pertemuan ini akans aya sampaikan ke atasan saya,” ujarnya. (*)

Laporan/Foto: Tarsono, Petani Muda Pengamat Cuaca Desa Nunuk, Indramayu, Jurnalis Warga untuk Villagerspost.com

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *