Pokdarwis Batudulang, Kisah Sukses Anak Muda Kelola Ekowisata | Villagerspost.com

Pokdarwis Batudulang, Kisah Sukses Anak Muda Kelola Ekowisata

Ilustrasi Badan Usaha Milik Desa (dok. kemendesa pdtt)

Jakarta, Villagerspost.com – Siapa bilang anak-anak muda di desa kalah dalam urusan mengelola bisnis dari anak-anak kota? Buktinya di Desa Batudulang, Kecamatan Batu Lanteh, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) anak-anak muda yang tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) bisa sukses mengelola ekowisata.

Kawasan ekowisata yang dikelola adalah air terjun Tiu Dua yang berada di desa tersebut. Pengelolaan wisata air terjun ini sudah dua tahun dijalankan oleh anak-anak Pokdarwis Batudulang. Ke depan, mereka akan membentuk BUMDes agar pengelolaannya lebih profesional.

“Wisata ini pertama dikembangkan oleh Pokdarwis. Kemudian kita dapat bantuan dari pariwisata, dibantu plasa-plasa sehingga dikenal oleh masyarakat luas. Pokdarwis-nya juga rajin posting-posting di facebook, sehingga orang banyak tahu,” kata Khairudin, Kasi Pemerintahan Desa Batudulang, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Kamis (13/9).

Khairudin mengatakan, wisata Tiu Dua rencananya akan dikelola secara profesional oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Untuk sementara waktu, pengelolaan wisata masih dipercayakan kepada Pokdarwis.

“Pokdarwis dulu oertama baru kita bentuk BUMDes. Baru penyertaan modal dari dana desa. Tapi sebelumnya kita akan kerja sama dulu dengan dinas pariwisata, karena ini ada unsur pariwisatanya, dan ada unsur dari kehutanan karena ini adalah kawasn hutan,” terangnya.

Tak hanya Air Terjun Tiu Dua, Desa Batudulang juga memiliki spot wisata lain yang diberi nama menara spot selfie. Spot wisata ini menyajikan pemandangan luas dari ketinggian yang sangat cocok untuk dijadikan spot selfie.

“Sebelum sampai ke Tiu Dua kan kita welewati spot selfie dulu. Kalau ke air terjun ini gratis, tapi kalau ke spot selfie bayar Rp5 ribu per orang sekaligus parkir motor. Kalau bawa mobil Rp7 ribu. Kalau air terjun ini hanya sebagai daya tarik, bonus sebenarnya. Yang penting kalau orang mau ke air terjun, kan mereka bayar parkir, beli makanan,” ujarnya.

Khairudin mengakui, omzet yang diperoleh dari dua spot wisata tersebut masih sangat kecil sekitar Rp,5 juta per tahun. Ramainya pengunjung juga masih tergantung musim seperti hari libur dan perayaan hari-hari besar saja. Ketika ramai, pengunjung bis mencapai hingga 500 pengunjung per hari.

“Kalau ke air terjun ini karena medannya masih sulit, harus melewati hutan dan jalan kaki, masih sangat sepi yang datang. Kecuali kalau beramai-ramai, makan-makan di sini (Tiu Dua). Kalau tidak ramai-ramai biasanya ndak mau,” ujarnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *