Populasi Kritis, Konservasi Badak Perlu Pendekatan Baru | Villagerspost.com

Populasi Kritis, Konservasi Badak Perlu Pendekatan Baru

Badak Sumatera (dok. kehati.or.id)

Badak Sumatera (dok. kehati.or.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Populasi Badak di Indonesia baik Badak Sumatera (Dicerorinus sumatranus) maupun Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) sudah mendekati titik kritis. Sebuah pendekatan konservasi baru perlu dilakukan agar kedua species yang berharga itu tidak mengalami kepunahan.

“Untuk menyelamatkan Badak Sumatera yang semakin kritis, perlu adanya pendekatan konservasi berbasis spesies seperti yang dilakukan pada Badak Jawa,” ujar Program Koordinator Proyek Ujung Kulon WWF-Indonesia Yuyun Kurniawan, dalam pernyataan tertulis yang diterima Villagerspost.com, Kamis (22/9).

Badak Jawa dan Badak Sumatera adalah mamalia besar yang keberadaannya terancam punah. International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) memasukkan kedua spesies itu dalam daftar merah IUCN untuk kategori kritis (critically endangered).

Saat ini , untuk Badak Sumatera diperkirakan hanya tersisa kurang dari 100 individu berdasarkan kesimpulan para ahli dalam pertemuan PHVA (Population and Habitat Viability Assessment) pada tahun 2015 lalu. Sementara, Badak Jawa, berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di habitat terakhirnya di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) sebanyak 63 individu.

Dari jumlah 63 indvidu itu, populasi jantan mencapai 36 individu dan betina 27 individu. Rendahnya populasi Badak Jawa disebabkan beberapa hal seperti tingkat reproduksi yang rendah, penurunan kualitas genetik, ancaman penyakit, ancaman ketersediaan pakan, persaingan ruang pakan dengan satwa lain (banteng), potensi bencana alam, dan perburuan. Masalah lain yang dihadapi adalah pertumbuhan Langkap (Arenga obsitulia) yang sangat cepat sehingga menahan laju tumbuhnya pakan Badak Jawa di satu-satunya habitat mereka di Ujung Kulon.

Meski begitu, kondisi Badak Jawa masih dinilai lebih baik dari Badak Sumatera. Yuyun menjelaskan, meskipun diperkirakan jumlah populasi Badak Sumatera relatif lebih besar dari populasi Badak Jawa, tetapi keberadaannya tersebar dalam sub-sub populasi yang kecil. Dengan demikian, peluang pertumbuhan populasi Badak Sumatera relatif lebih rendah dibandingkan dengan Badak Jawa.

“Jika tidak dilakukan upaya-upaya proaktif untuk mengkonsolidasikan sub-sub populasi yang kecil tersebut, maka ancaman kepunahan lokal Badak Sumatera sangat mungkin terjadi,” terang Yuyun.

Seperti diketahui, berdasarkan data WWF, jumlah populasi Badak Jawa pada tahun 1970 hanya ada 47 individu. Angka ini kemudian naik menjadi 51 individu pada tahun 1981. Pada tahun 2014 diketahui jumlahnya mencapai 57 individu, dan tahun ini total 63 individu. Peningkatan jumlah individu ini membuktikan, upaya konservasi berbasis spesies perlu dilakukan juga untuk meningkatkan populasi Badak Sumatera.

Konservasi berbasis spesies adalah kegiatan konservasi yang dilakukan berdasarkan pertimbangan jenis tertentu yang ada di dalam ekosistem tersebut. Kegiatan ini lebih fokus pada penyelamatan satwa tertentu yang statusnya sudah kritis atau punah secara lokal.

Direktur Konservasi WWF Indonesia Arnold Sitompul mengatakan, upaya konservasi Badak Sumatera di Indonesia harus dilakukan dengan mengedepankan inovasi baru yaitu mendorong program pembiakan semi alami yang lebih aktif. “Kondisi populasi di alam sudah sangat kritis oleh karenanya, perlindungan habitat saja tidak cukup untuk menyelamatkan Badak Sumatera,” kata Arnold.

“Sementara itu, untuk Badak Jawa, manajemen habitat harus segera dilakukan dengan lebih agresif, melalui langkah-langkah pengendalian langkap yang merupakan spesies invasif dan sudah sangat menggangu habitat asli badak,” lanjutnya.

Pemerintah Indonesia mencanangkan target pertumbuhan populasi sebesar 10% untuk 25 satwa dilindungi pada kurun waktu tahun 2015 – 2019, termasuk di dalamnya Badak Sumatera dan Badak Jawa. Untuk Badak Jawa, target ini hampir terpenuhi, sayangnya tidak untuk Badak Sumatera.

Diperkirakan populasi Badak Sumatera tahun 1974 berjumlah antara 400-700 individu namun dalam 10 tahun belakangan laju kehilangan populasinya mencapai 50 persen.  Bahkan di salah satu kantong populasinya di Kerinci Seblat, Badak Sumatera sudah tidak ditemukan lagi sejak tahun 2008.

Karena itu, dalam rangka peringatan World Rhino Day, yang jatuh pada tanggal 22 September, WWF Indonesia mengadakan serangkaian acara, seperti di Ujung Kulon dan di Aceh. Di Aceh, WWF akan mengadakan Global March for Rhino, di sekitar Mesjid Raya Baitul Rahman, Banda Aceh.

Sementara di Ujung Kulon, WWF akan berpartisipasi pada  serangkaian acara yang diselenggarakan oleh Balai TNUK, dengan tema “Bersama Kita Bisa, Selamatkan Badak Jawa” yang dipusatkan di Desa Taman Jaya, Kecamatan Sumur, Pandeglang. Acara ini akan dihadiri oleh Bupati Pandeglang, dan juga akan dilakukan penandatangan deklarasi “Merayakan Keanekaragaman Hayati”.

Acara berupa edukasi tentang konservasi badak di sekolah-sekolah sekitar Taman Nasional Ujung Kulon, Kota Pandeglang dan Suaka Margasatwa Cikepuh, Sukabumi. Acara itu dilaksanakan atas kerjasama dengan Balai Taman Nasional Ujung Kulon, Pemerintah Daerah Pandeglang, Yayasan Badak Indonesia, Yukindo, Himpunan Mahasiswa Lestari Alam (HIMALA) Universitas Mathla’ul Anwar, ALABAMA, AKSI, Pagar Kulon.

Ikuti informasi terkait konservasi >> di sini <<

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *