Produsen Pupuk Minta Subsidi Harga Gas Alam | Villagerspost.com

Produsen Pupuk Minta Subsidi Harga Gas Alam

Pupuk subsidi untuk petani (dok. purbalinggakab.go.id)

Pupuk subsidi untuk petani (dok. purbalinggakab.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Para produsen pupuk yang tergabung dalam Asosiasi Produsen Pupuk Indonesia (APPI) meminta agar pemerintah memberikan subsidi harga gas alam agar produksi pupuk semakin efisien. Hal itu disampaikan Ketua APPI Arifin Tasrif dalam pertemuan antara APPI dengan Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (15/10).

“Persoalan utama dihadapi pada pabrik pupuk bahan baku utama natural gas. Hal ini karena gas alam yang dahulu banyak ketersediannya di Indonesia, namun saat ini ketersediaan menurun sementara harga semakin tinggi,” kata Arifin seperti dikutip setkab.go.id.

Untuk itu, APPI  mengharapkan agar pemerintah membantu dalam penyediaan sumur gas alam. Arifin menyebutkan, gas alam yang merupakan bahan baku utama harus dibayar dengan dolar Amerika Serikat. Gas untuk sumur baru saat ini harganya US$7 per Million British Thermal Unit (MMBTU) dan gas untuk sumur lama US$10 MMBTU.

Hal ini dirasa memberatkan jika tidak ada subsidi dari pemerintah. “Kami mengharapkan paket ekonomi yang telah disampaikan beberapa waktu yang lal,  bisa segera terlaksana untuk menurunkan beban cost produksi,” terang Arifin.

Sebagaimana diketahui dalam Paket Kebijakan III yang diumumkan Pemerintah pada Kamis (7/10) lalu, harga gas untuk pabrik dari lapangan gas baru ditetapkan US$7/MMBTU. Sementara harga gas untuk industri lainnya (seperti petrokimia, keramik, dan sebagainya) diturunkan sesuai dengan kemampuan industri masing-masing.

Hal lain yang disampaikan pengurus APPI dalam pertemuan dengan Presiden Jokowi, adalah kendala dalam industri pupuk Indonesia yaitu usia pabrik yang menua. Arifin menjelaskan, dari 14 pabrik urea, 7 pabrik sudah berusia di atas 30 tahun sehingga butuh peremajaan untuk efisiensi dan peningkatan produksi.

“Teknolgi yang lama konsumsi energinya boros sehingga kehandalannya berkurang, kami sudah secara berangsur-angsur melakukan perbaikan teknologi untuk meningkatkan produksi,” jelas Arifin.

Ia menyebutkan, pada tahun 2015, produksi pupuk mencapai 12 juta ton, dan diharapkan 2019 bisa mencapai 19 juta ton.

“Dalam waktu dekat akan diresmikan pabrik Kaltim Lima dengan kapasitas produksi 1 juta ton. Dan kuartal pertama diharapkan pabrik Pusri 2 dengan kapasitas produksi yang sama bisa meningkat. Di Gresik pada tahun 2017, akan membangun satu pabrik lagi di Jawa Timur dengan sumber alam gas Cepu, karena keberadaan pabrik baru di Pulau Jawa akan mengurangi biaya transportasi dari kalimantan dan Sumatera ke Pulau Jawa yang mencapai Rp 50 miliar,” terang Arifin.

Kedepannya, lanjut Arifin, APPI setuju untuk  melakukan konversi dari gas ke batu bara. Saat ini, lanjut Arifin, pabrik pupuk mulai melakukan orientasi untuk melakukan penggantian sumber bahan bakarnya.

“Selain itu kami juga melaporkan tentang tol pipa gas, pemasangan pipa gas bisa meringaknan beban biaya produksi yang cukup dirasakan tinggi oleh para investor industri pupuk,” tambah Arifin.

Menurut Arifin, jenis pupuk yang bukan hanya urea yang berbahan baku nitrogen tapi juga pospat, kalium dan sulfur. Untuk pospat akan dilakukan join dengan pihak asing yang memiliki sumber daya alam yang dibutuhkan dan mampu menyediakan di sini.

Untuk kalium, akan dikelola oleh perusahaan besar, sehingga asosiasi hanya melakukan fasilitasi agar tetap bisa produksi di Indonesia. “Pihak asosiasi juga mengharapkan agar smelter  pabrik di Gresik dapat segera online, karena menghasilkan bahan baku pupuk kompon,” pungkasnya. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *