Puji Setiono: Penyuluh Desa, Mitra Pemberdayaan Petani Desa Sempu | Villagerspost.com

Puji Setiono: Penyuluh Desa, Mitra Pemberdayaan Petani Desa Sempu

Buah labu madu terkena serangan lalat buah (dok. villagerspost.com/m. agung riyadi)

Kediri, Villagerspost.com – Puji Setiono boleh jadi adalah orang paling banyak dicari di seantero pedesaan di Kecamatan Ngancar, Kediri, Jawa Timur. Maklum sebagai petugas penyuluh lapangan (PPL), Puji adalah mitra para petani tempat mereka bertanya banyak hal tentang ihwal pertanian. Tak tanggung-tanggung, dia mengampu 4 desa di seluruh Kecamatan Ngancar.

“Jadi saya memang harus pandai-pandai membagi waktu, terkadang saya sudah ada janji dengan satu kelompok tani di satu desa, tetapi kalau mendadak ada panggilan dari desa lain yang penting karena misalnya ada serangan hama, terpaksa janji saya batalkan, saya dahulukan yang kena serangan hama,” katanya kepada Villagerspost.com yang menemuinya beberapa waktu lalu.

Khusus di Desa Sempu, Puji memang pegang peranan cukup penting dalam ikut menyukseskan program-program pemberdayaan ekonomi masyarakat, khususnya masyarakat miskin dan rentan, yang diselenggarakan oleh pemerintah Desa Sempu. Maklum, kebanyakan program pemberdayaan yang dilakukan adalah mencakup bidang pertanian. Tak hanya mengampu penyuluhan untuk petani nanas, Puji juga harus membimbing para petani sayuran dan juga belakangan, warga yang ikut program pemanfaatan pekarangan dengan menanam labu madu.

Menjalani semua tugas itu nyaris sendirian, Puji memang cukup kerepotan juga. Dalam program penanaman labu madu misalnya, sejak diinisiasi di awal Februari 2018, Puji baru sempat sekali memberikan bimbingan terhadap para petani. “Ini kan program awal. Awalnya saya juga konsen juga dari perusahaan benihnya, saya memberikan pelatihan di awal,” katanya.

Namun setelah itu, selain menjalani kesibukan melayani petani di empat desa, Puji terpaksa absen karena harus mengikuti pendidikan dan latihan selama 1 bulan penuh di wilayah lain. “Jadi saya full tidak ada pendampingan,” ujarnya.

Alhasil, karena belum berpengalaman, banyak tanaman labu petani yang hasilnya belum maksimal. “Saya juga baru tahu kalau banyak yang rusak. Tetapi ini (menanam labu madu-red) yang dibudidayakan kan barang baru, satu itu persoalannya di situ,” ujar Puji.

Yang kedua, khusus program labu madu, tugas pendampingan yang dibebankan kepada Puji adalah mendampingi komunitas RT/RW. Sementara, dalam tugas pokok dan fungsinya, Puji harus melakukan pendampingan terhadap kelompok tani. “Dan itu perkembangan rutinnya di kelompok tani,” katanya.

Alhasil, Puji memang harus lebih dulu melayani kelompok-kelompok tani sesuai dengan tugasnya selaku PPL. Selain itu, Puji juga melakukan pendampingan terhadap KWT Putri Kelud yang mengembangkan usaha budidaya bunga.

Terkait budidaya labu madu sendiri, kata dia, memang cukup sederhana agar bisa memberikan hasil yang maksimal. “Kalau labu madu sebenarnya tanaman yang gampang. Itu dia bisa tumbuh di daerah sini bagus,” kata dia.

Namun dia mengakui, pengetahuan warga yang ikut program budidaya labu madu ini memang belum merata, karena tak banyak warga yang memiliki pengalaman bertani hortikultura. Kebanyakan, petani terbiasa menanam nanas yang perawatannya tidak terlalu memerlukan perhatian khusus. “Kita ubah memang harus ubah mindset berkait budidaya labu madu yang memang berbeda dengan budidaya nanas. Kan kalau nanas itu kita taruh benih kita tunggu dua tahun gampang panen,” katanya.

Berbeda dengan nanas, labu madu memerlukan sedikit perhatian seperti memerlukan air, pemupukan, dan juga pengobatan untuk mengusir hama, termasuk lalat buah dan penyakit seperti buah gugur atau gogrok. Tata cara penanaman juga harus benar supaya memberikan hasil maksimal.

Untuk jarak tanam, kata Puji, antar tanaman harus diberi jarak 1×1,5 meter. Kemudian, sebelum tanam, bibit harus disemai dulu dan selama masa persemaian harus diberikan pemupukan dan insktisida. “Agar nanti tidak terserang hama, utamanya itu lalat buah dan semut,” kata Puji.

Mengenai cara pemberian insektisida, setelah benih diletakkan di media tanam, benih disemprot dengan insektisida. Kemudian setelah usia benih 1 minggu-10 hari, benih dipindahtanamkan ke lahan. Untuk pindah tanam di lahan sendiri tahap pertama adalah pengolahan tanah, tanah harus dibajak atau dicangkul setelah itu dikasih pupuk kandang atau bokashi dengan dosis 1 pohon diberi sebanyak 10kg/pupuk kandang.

Setelah tanam, selama masa penanaman, pemupukan dilakukan dengan menggunakan pupuk NPK mulai usia tanaman 21 hari dan setiap 21 hari berikutnya dipupuk lagi dengan dosis per tanaman 10 gram, dan kemudian ditingkatkan atau ditambah lagi seberat 5 gram. Dengan teknik perawatan seperti ini, kata Puji, petani tidak akan perlu keluar modal terlalu besar untuk perawatan tanaman.

“Tidak terlalu besar. Untuk modal, analisis per satu tanaman itu untuk biaya benih 2100 rupiah tapi untuk sampai tanaman produksi, biayanya 3500 rupiah per tanaman,” kata Puji.

Dengan modal sedemikian, dan perawatan yang baik, Puji mengatakan, labu madu bisa memberikan hasil yang menguntungkan. Untuk satu tanaman dengan perawatan yang benar bisa menghasilkan 3-4 buah dengan berat total 6 kilogram. Bahkan, kata dia, di lingkungan petani yang biasa bertanam sayuran seperti timun, tanaman labu madu bisa menghasilkan 6-8 buah bisa 1 tanaman.

“Tetapi katakanlah, maksimal 3-4 buah, berat 6 kilogram, kalau harganya per kilogram 8 ribu rupiah kan per pohon sudah menghasilkan 48 ribu rupiah, rasionya masih menguntungkan,” katanya.

Selain itu, kata Puji, labu merupakan tanaman yang unik. “Artinya kalau harga jatuh maka ia memiliki daya simpan yang cukup lama, bisa sampai setahun, bisa dijual menunggu harga baik,” kata Puji.

Syarat penyimpanannya, kata dia, supaya awet, buah labu mulai di umur 90 hari bisa disimpan. “Untuk penyimpanan sendiri tidak boleh terkena air. Bagaimana biar tidak lembab atau terkena air? Kita nanti bawahnya kasih jerami, atau kalau bisa dipara-para, digantung, lebih bagus. Ketika harga sedang tinggi, baru dijual,” ujarnya.

Untuk bisa memahami teknik bertanam labu madu yang benar, kata Puji, petani dengan pengalaman nol, cukup tiga kali pelatihan, sudah mampu melakukan praktik bertanam dengan benar. Pelatihan pertama mencakup pembenihan. Kedua, pemupukan dan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT). Ketiga, pengelolaan pasca panen. “Menguasai tiga materi itu saya yakin mereka mampu,” katanya.

Terkait masalah pendampingan, Puji mengatakan, untuk saat ini bersama pihak desa mereka tengah mengupayakan untuk merekrut penyuluh pendamping. “Kita baru ada satu orang, sedang saya latih dulu, nanti pendamping ini yang akan lebih banyak memberikan penyuluhan dan pendampingan untuk labu madu,” kata Puji.

Ke depan, kata Puji, agar pendampingan di desa-desa lain maksimal, dia juga akan bekerja sama dengan pemerintah desa setempat untuk merekrut pendamping swadaya. “Rencananya sebenarnya paling efektif satu desa tiga orang, agar ada spesifikasi, ada yang di labu, ada yang budidaya bunga untuk KWT, dan lainnya,” ujarnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *