Regenerasi Petani Ala Karang Taruna Semangat Muda | Villagerspost.com

Regenerasi Petani Ala Karang Taruna Semangat Muda

Kaum ibu dan anak muda melakukan panen biji semangka di desa Anyar, Lombok Utara, NTB (dok. villagerspost.com/Deni Irawan)

Kaum ibu dan anak muda melakukan panen biji semangka di desa Anyar, Lombok Utara, NTB (dok. villagerspost.com/Deni Irawan)

Bayan, Villagerspost.com – Panen biji semangka yang dilakukan warga Desa Anyar, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat bulan lalu, memperlihatkan sebuah fenomena menggembirakan. Bukan soal hasil panen yang melimpah, melainkan prosesi panen yang biasanya hanya diikuti oleh kaum ibu berusia paruh baya, kini diikuti juga oleh anak-anak muda. Anak-anak muda yang tergabung dalam kelompok karang taruna “Semangat Muda” itu, memang tengah merintis upaya untuk terjun ke dunia pertanian. Dunia yang sejak lama tak lagi diminati oleh anak-anak muda.

Ketua Karang Taruna “Semangat Muda” Raden Kertabayun mengakui, sekarang ini Kebanyakan generasi muda khususnya di desa Anyar lebih menyukai hal-hal yang bersifat teknologi, kreasi, seni, dan olahraga dibandingkan harus berpanas–panasan di tengah sawah atau mengikuti jejak orang tua sebagai petani.

“Sampai saat ini masyarakat setempat masih menganggap bertani merupakan pekerjaan kotor, tidak keren dan hanya pantas  dilakukan oleh masyarakat kelas bawah,” katanya ketika dihubungi Villagerspost.com, beberapa waktu lalu.

(Baca juga: Dicari! Duta Petani Muda Ujung Tombak Kedaulatan Pangan 2016)

Hal itu, kata Raden, bisa dilihat dari kurangnya minat anak muda di desa itu, memilih jurusan pertanian, peternakan dan kehutanan setelah lulus dari sekolah menengah atas. “Seolah-olah bekerja di sektor pertanian tidak memberikan penghidupan yang cerah,” keluhnya.

Ini merupakan sebuah ironi bagi desa Anyar yang sebenarnya subur untuk mengembangkan pertanian. Secara geografis, desa Anyar  merupakan daratan terendah di seluruh wilayah Kecamatan Bayan, dengan ketinggian 0–500 meter dari permukaan laut. Sebagian wilayahnya landai dengan tingkat kemiringan 5–35 derajat. Jika dilihat dari aspek klimatologis, desa Anyar termasuk dalam katagori iklim subtropis yang sesuai untuk pengembangan lahan pertanian.

Desa Anyar memiliki luas wilayah 996 hektare. Dari luas tersebut, yang dimanfaatkan untuk lahan persawahan setengah teknis mencapai seluas 450,40 ha, sawah tanah kering 121 ha, tegalan/ladang 10,86 ha, pemukiman 35,85 ha dan lahan untuk perkebunan rakyat seluas 353,25 ha. Dengan kondisi luas wilayah sepeti ini sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani dan buruh tani. Total penduduknya hingga bulan Januari 2014 mencapai 7587 jiwa dengan tingkat pendidikan masyarakat yang beragam mulai dari sekolah dasar sampai sarjana strata 2.

Melihat kondisi yang ideal untuk mengembangkan usaha pertanian inilah, kelompok karang taruna “Semangat Muda” berupaya melakukan regenerasi petani, agar ada anak-anak muda yang mau terjun ke bidang pertanian di desa itu. “Di tengah minimnya perhatian dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya sektor pertanian, kini kita harus optimis dan bersemangat dalam memajukan pertanian di desa Anyar,” tegas Raden.

Aksi konkret yang mereka lakukan untuk menumbuhkan minat generasi muda terjun ke bidang pertanian adalah dengan membangun usaha pertanian yang dimulai sejak tahun 2015 lalu. Para anggota karang taruna “Semangat Muda” mengembangkan perkebunan semangka, melon, dan labu ‘Golden Mama’ yang merupakan varietas baru dari buah labu jenis waluh.

Terkait pilihan mengembangkan labu ‘Golden Mama’, Raden menjelaskan, labu ini memang memiliki banyak keunggulan. Diantaranya adalah lebuh cepat berbuah daripada labu pada umumnya. Kemudian rasa labu ini juga relatif lebih manis dan nutrsinya juga lebih baik daripada labu biasa sehinga lebih disukai konsumen.  “Labu ini sudah berbuah di usia 1,5 bulan dan siap dipanen pada usia dua bulan,” ujarnya.

Meski memiliki banyak keunggulan, harga labu ‘Golden Mama’ terhitung murah yaitu sekitar Rp20 ribu per buah. Hanya saja, kara Raden, mengembankan tanaman labu jenis ini juga tak mudah karena harus bisa mengatasi masalah cuaca yang kerap berubah dan juga hama ulat yang menyerang buah.

Toh dengan kerja keras dan perawatan yang baik, labu ini bisa dikembangkan dengan baik. “Bahkan dibandingkan dengan yang ditanam di Jawa, di Lombok Utara ini jumlah buah perbatangnya lebih banyak,” katanya.

Sukses dengan membangun bisnis pertanian, karang taruna “Semangat Muda” kini juga sudah mulai membina petani untuk belajar menyilangkan tanaman diantaranya tanaman semangka untuk mendapatkan benih semangka yang berkualitas. Selain itu mereka mendirikan posko karang taruna yang di jadikan tempat diskusi dan sekaligus tempat memasarkan hasil panen. “Posko ini di buat dengan harapan dari tempat ini muncul ide-ide kreatif untuk membuat inovasi baru untuk kemajuan desa,” ujar Raden.

Dia juga berharap, kreativitas ini bisa ditularkan di daerah lain yang memiliki potensi yang sama. “Artinya, apa yang dilakukan karang taruna ini patut mendapat dukungan para penentu kebijakan,” pungkasnya.

Dihubungi terpisah, kepala desa Anyar Ritanom berharap semangat generasi muda untuk berkarya di bidang pertanian ini bisa terus terjaga. “Mudah-mudahan program ini bisa berjalan sesuai dengan yang diharapkan kemudian mampu menginspirasi banyak orang, karena pertanian merupakan  salah satu basis ekonomi kerakyatan dan sebagai penentu ketahanan dan kedaulatan pangan,” kata Ritanom.

Dia menegaskan, antara pemuda dan pertanian tidak dapat dipisahkan karena pemuda berperan penting dalam meningkatkan kreativitas dalam bertani. Selain dari para pemuda, peran masyarakat khususnya pemerintah kabupaten Lombok Utara yang mempunyai slogan “Tioq Tata Tunaq” (tumbuh, atur, menyayangi) ini sangat berpengaruh besar dalam membina generasi muda untuk melakukan sesuatu yang bermakna.

“Jika kita telusuri lebih jauh masih banyak potensi-potensi desa yang belum diberdayakan dengan maksimal mulai dari kekayaan alam, sumberdaya manusianya, serta sumber-sumber ekonomi lainnya,” ujar Ritanom. Karena itu, menurutnya, menjadi suatu kewajiban bersama bagi masyarakat desa untuk memulai menyusun program-program jangka menengah dan jangka panjang yang tepat sasaran untuk dijadikan visi bersama dalam mewujudkan desa yang mandiri.

“Dalam rangka mensukseskan program pemerintah untuk mewujudkan desa yang mandiri, masyarakat khususnya beberapa generasi muda yang ada di desa Anyar harus bersemangat dalam membangun desanya,” pungkas Ritanom.

Laporan: Deni Irawan, Petani Muda, Mahasiswa Program S2 Ilmu Penyakit Tanaman Institut Pertanian Bogor.

Ikuti informasi terkait petani muda >> di sini <<

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *