Ruang Desa, Aplikasi untuk Pembangunan Desa | Villagerspost.com

Ruang Desa, Aplikasi untuk Pembangunan Desa

Menteri Desa PDTT Eko Putro Sandjojo dan Dubes Australia Paul Grigson di peluncuran aplikasi Ruang Desa (dok. kemendesa pdtt)

Menteri Desa PDTT Eko Putro Sandjojo dan Dubes Australia Paul Grigson di peluncuran aplikasi Ruang Desa (dok. kemendesa pdtt)

Jakarta, Villagerspost.com – Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi bekerjasama dengan pemerintah Australia meluncurkan aplikasi telepon pintar Ruang Desa. Aplikasi ini adalah wadah wadah komunikasi antara aparat desa dan fasilitator desa. Lewat aplikasi ini, komunikasi antar pegiat desa akan semakin mudah.

Misalnya, untuk membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan Undang-Undang Desa, Dana Desa maupun Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Aplikasi ini akan mulai digunakan terhitung Bulan Maret tahun ini (2017).

“Melalui aplikasi mobile ini, para fasilitator dan aparat desa tidak hanya akan mendapatkan akses cepat terhadap informasi yang relevan yang mereka butuhkan, melainkan juga dibekali dengan sarana yang diperlukan untuk melaksanakan tugas mereka,” kata Mendes PDTT Eko Putro Sandjojo pada acara launching Aplikasi Ruang Desa di Jakarta, Selasa (31/1).

Dengan adanya aplikasi Ruang Desa ini, sekitar 21.000 fasilitator di tingkat kabupaten, kecamatan, dan desa yang sudah direkrut Kemendes PDTT diharapkan akan memudahkan komunikasi untuk membimbing para aparat desa dan fasilitator lokal yang baru direkrut. Selain itu, juga untuk menjawab pertanyaan dan memberikan petunjuk dalam melakukan pekerjaan sehari-hari.

Eko menyatakan, teknologi merupakan instrumen kunci yang dapat mendukung pembangunan desa. Ia menambahkan, dengan adanya Ruang Desa ini diharapkan akan membantu para fasilitator menjadi lebih efisien dan efektif dalam memberikan dukungan ke desa-desa. Utamanya, hal ini akan menyediakan data real-time bagi kementerian.

“Data ini dibutuhkan untuk menyelesaikan permasalahan yang mendesak di desa dan menentukan lokasi mana saja yang mengalami permasalahan tersebut,” terang Eko.

Pemerintah Australia mendukung Kemendes PDTT untuk peluncuran aplikasi Ruang Desa melalui bantuan teknis dari KOMPAK (Kolaborasi Masyarakat dan Pelayanan untuk Kesejahteraan). “Aplikasi ini merupakan sebuah solusi praktis baik untuk permasalahan di tingkat daerah maupun tingkat nasional. Pemerintah Australia mendukung kemitraan ini untuk memungkinkan informasi dan dukungan menjadi lebih mudah diakses oleh pemerintah desa maupun para fasilitator,” ujar Duta Besar Australia untuk Indonesia Paul Grigson.

Sebagai informasi, dashboard yang terhubung kepada Ruang Desa, memungkinkan kementerian untuk memantau dan menganalisis permasalahan di tingkat lokal untuk kemudian didiskusikan melalui aplikasi ini. Selain itu data yang diperoleh juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi lokasi yang memerlukan dukungan lebih lanjut dalam melaksanakan Undang-Undang Desa.

Melalui sebuah fitur “push notification”, kementerian juga dapat memberikan petunjuk dan pemutakhiran peraturan serta informasi secara langsung kepada para fasilitator dan pemerintah desa. Eko Sandjojo, mengatakan, aplikasi ini juga menjadi jawaban atas minimnya jumlah pendamping desa, di mana saat ini satu pendamping desa masih menangani 4 desa sekaligus.

Lewat aplikasi ini, perangkat desa, pendamping desa, dan tenaga ahli dapat saling berkonsultasi dan mendapatkan notifikasi atau informasi tentang desa hanya dengan menggunakan ponsel. “Satu pendamping menangani 4 desa, jadi tidak tentu pendamping desa ada di desa itu. Masyarakat dan pejabat desa kalau ada pertanyaan bisa langsung cepat dijawab. Selain ada jawaban digital, aplikasi ini juga bisa langsung akses ke pendamping desa di wilayahnya masing-masing,” ujarnya.

Selain itu, aplikasi ini juga akan menyediakan data real time bagi pemerintah. Hal tersebut menjadi penting agar kebijakan-kebijakan yang diberikan pemerintah terhadap desa akan lebih akurat, cepat, dan tepat. Apalagi dalam aplikasi ini, terdapat ruang khusus yang dapat memantau complain (keluhan) desa.

“Desa kita banyak, tanpa digital tidak mungkin 74.910 desa dapat data yang real time. Sehingga kalau data akurat, semoga kebijakan kita juga akurat dan cepat. Diharapkan kalau ada masalah, proses penyelesaiannya juga lebih cepat,” paparnya.

Terkait koneksi jaringan internet, Eko mengatakan, bukan lagi menjadi masalah untuk penggunaan aplikasi ini. Sebab 70 persen desa di Indonesia saat ini telah terkoneksi internet. Bahkan telah memiliki website dan e-commerce. “Yang 30 persen selebihnya tahun ini, semoga bisa dipastikan bahwa desa-desa akan terjangkau oleh internet,” ujarnya.

Adapun user (pengguna) dari aplikasi Ruang Desa adalah fasilitator (pendamping desa dan tenaga ahli) dan perangkat desa. Aplikasi ini dapat diunduh secara gratis. Sebagai tahap awal, Kemendes PDTT dan Ruangguru.com akan mengadakan pelatihan penggunaan aplikasi Ruang Desa di tiga provinsi, yakni Aceh, Nusa Tenggara Barat, dan Jawa Timur.

“Kan ini masih baru, maka 3 provinsi ini akan dijadikan model. Dari situ kalau ada masalah akan kita perbaiki. Kalau sudah sempurna akan kita perluas,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Balilatfo Kemendes PDTT M. Nurdin mengatakan, uji coba penggunaan aplikasi ini akan dilakukan akan dilakukan hingga bulan Juni mendatang. Ia berharap, aplikasi tersebut dapat bermanfaat terutama dalam menjawab pertanyaan mengenai BUMDes, perencanaan, serta pengelolaan desa.

“Ini adalah langkah awal untuk mewujudkan Nawacita membangun Indonesia dari daerah pinggiran. Dan akan terus mengalami perubahan menyesuaikan perkembangan dan masukan dari desa,” ujarnya (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *