Sejahtera Dengan Budidaya Daun Bawang | Villagerspost.com

Sejahtera Dengan Budidaya Daun Bawang

Daeng Abu di hamparan kebun daun bawang miliknya (dok. villagerspost.com/jamaluddin dg abu)

Hamparan kebun daun bawang milik Daeng Abu (dok. villagerspost.com/jamaluddin dg abu)

Gowa, Villagerspost.com – Daun bawang atau bahasa latinnya Allium fistulosum adalah jenis sayur yang menjadi tanaman andalan para petani yang ada di desa Kanreapia, Kecamatan Tombolo Pao, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Daun bawang adalah sayuran hijau berbentuk tangkai yang memiliki rasa bawang yang ringan.

Sayuran ini bisa dikonsumsi mentah, tapi umumnya digunakan untuk bahan masakan. Dari mayoritas petani Desa Kanreapia mereka adalah petani daun bawang, dari cara budidaya yang sederhana dan biaya yang rendah mampu menghasilkan omzet hingga puluhan juta rupiah satu kali panen.

Salah satu petani yang membudidayakan daun bawang di Kanreapia adalah Daeng Abu. Abu mengatakan, dia telah lama melihat potensi daun bawang dan memutuskan untuk membudidayakannya. “Karena dibandingkan sayuran yang lain, daun bawang hanya membutuhkan perlakuan yang sederhana, sekali tanam panen berkali–kali,” kata Abu kepada Villagerspost.com, Senin (2/1).

Abu menerangkan, pasca panen, daun bawang dapat disimpan dua atau tiga batang sebagai anakan yang akan dirawat dan kembali berkembang dan siap dipanen. Untuk membudidayakan itu, Abu mempekerjakan 10 orang pekerja yang dibayar dengan dengan sistem bagi hasil.

Dengan cara begitu, Daeng Abu hanya mengerjakan sedikit lahan untuk dirawat sendiri sisanya hanya mengawasi dan mengontrol proses perawatan pekerja yang lain. “Hasilnya sangat menguntungkan,” katanya.

Kalkulasi sederhana yang dapat diprediksi adalah, satu pekerja saja jika mampu menghasilkan 2 ton satu kali panen sudah mampu menghasilkan uang sebesar empat juta rupiah, dengan rataan harga saat ini sebesar Rp2000 per kilogram. Dengan mempekerjakan 10 orang, hasil panen rata-rata mencapai 20 ton sehingga dengan harga Rp2000 per kilogram, menghasilkan hingga Rp40 juta.

“Ini masih harga standar, karena jika dibandingkan harga di tahun 2015 harga daun bawang saat ini sudah tembus hingga 15 ribu per kilonya jadi jika hasilnya 20 ton dikali 15 ribu mampu mencapai 300 juta rupiah satu kali panen,” kata Abu.

Omzet puluhan juta tersebut masih bisa bertambah jika pertanian dijalankan dengan konsep organik. Harga pertanian organik, termasuk sayuran lebih stabil jika dibandingkan sayuran non organik. “Harga berubah–ubah diakibatkan oleh petani saat ini masih didominasi oleh petani non-organik, oleh karena itu, pertanian organik saat ini telah disosialisasikan dan mengarah kepada pasar modern dan global agar omzet hasil pertanian bisa lebih tinggi,” katanya.

Abu yakin dengan mengembangkan sayuran organik petani sayuran akan lebih sejahtera dibandingkan dengan hasil yang sudah diraih selama ini. “Belum organik saja sudah mampu mencapai omzet puluhan juta hingga ratusan juga apalagi jika konsepnya sudah organik,” pungkas Abu.

Laporan: Jurnalis warga desa Kanreapia, Gowa, Sulsel

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *