Selandia Baru Dukung Program One Village One Product | Villagerspost.com

Selandia Baru Dukung Program One Village One Product

Pembentukan Badan Usaha Mili Desa (BUMDes) salah satu cara agar desa mampu memasarkan produk unggulannya (dok. kemendesa pdtt)

Pembentukan Badan Usaha Mili Desa (BUMDes) salah satu cara agar desa mampu memasarkan produk unggulannya (dok. kemendesa pdtt)

Jakarta, Villagerspost.com – Pemerintah melalui Kementeria Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) telah meluncurkan program one village one product (satu desa satu produk). Lewat program itu, pemerintah berharap setiap desa akan mampu menghasilkan produk unggulan yang bisa menggerakan ekonomi desa. Program ini pun mendapatkan sambutan positif, salah satunya dari Selandia Baru.

Duta Besar Selandia Baru Trevor Matheson menegaskan, negaranya mendukung program one village one product. Trevor berjanji akan membantu pemerintah untuk mewujudkan program itu. “New Zealand akan mendukung terselenggaranya rencana tersebut,” kata Trevor saat melakukan pertemuan dengan Menteri Desa PDTT Eko Putro Sandjojo, di kantor Kemendesa PDTT, Jakarta, Kamis (25/8).

(Baca juga: Produk Unggulan Desa Harus Ditata)

Dalam kesempatan itu, Trevor menyampaikan, Selandia Baru dan Indonesia sebelumnya juga pernah bekerjasama baik di bidang pendidikan, pertanian, dan penanggulangan bencana. Selandia Baru juga turut berpartisipasi saat penanggulangan bencana tsunami di Aceh beberapa waktu silam. “Selain itu, New Zealand juga telah melakukan beberapa kegiatan di Papua,” ujarnya.

Terkait hal tersebut Mendes PDTT, Eko Sandjojo menerangkan, desa-desa di Indonesia adalah desa unik yang masing-masing memiliki karakter berbeda. Dengan demikian, maka potensi dan kekuatan ekonomi di setiap perdesaan pun berbeda.

Dalam bidang pertanian lanjut Eko, masalah yang dihadapi masyarakat desa adalah tidak fokusnya produksi pada satu produk tertentu. Kendala lain, adalah tidak adanya infrastruktur pasca panen sehingga produk hasil pertanian tidak bertahan lama.

“Oleh karena itu perlu diadakan program one village one product agar lebih fokus dalam menangani produksi pertanian. Kemudian sistem pengolahan hasil pertanian pasca panen juga perlu diperbaiki,” terang Eko.

Selain itu menurut Eko, Kementerian Desa juga ingin mengubah paradigma di mana desa selama ini hanya diberi bantuan berupa uang. Menurutnya, paradigma tersebut akan diubah dengan menggalakkan program Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Melalui BUMDes, desa dapat mengolah, memasarkan dan mengelola produk unggulannya secara mandiri.

“Papua bisa menjadi contoh yang bagus karena tidak hanya pembangunan infrastruktur, namun kita juga harus sensitif terhadap budaya masyarakatnya. Kementerian Desa juga memiliki program transmigrasi dan sangat peduli dengan transmigran lokal di Papua, yaitu masyarakat asli Papua itu sendiri,” ujarnya.

Permudah Perdagangan Online

Sebelumnya, Eko Sandojo juga mengatakan, program satu desa satu produk akan mempermudah aktivitas perdagangan online (e-commerce) produk desa. Dengan begitu, jaringan pasar perdesaan akan menjadi semakin luas.

“Program desa online bisa kita kaitkan dengan E-Commerce, tapi kalau tidak ada produk unggulan dalam 1 kecamatan atau minimal 1 desa, untuk kita E-Commerce juga susah. Saya ingin ke depan desa akan membantu kota, bukan kota membantu desa,” ujarnya.

Eko mengatakan, lebih dari separuh masyarakat Indonesia saat ini berada di desa, dan banyak diantaranya yang masih hidup di bawah garis kemiskinan. Menurutnya, terdapat 74.754 desa di Indonesia yang jika diberdayakan, akan memberikan dampak ekonomi yang luar biasa untuk bangsa.

“Tugas kita cuma satu, adalah bisa meningkatkan taraf hidup desa. Ada daerah yang masih tertinggal, meskipun ada juga yang sudah mulai berkembang dan maju. Sudah saatnya kita tidak hanya fokus pada infrastruktur tapi sudah waktunya kita melakukan pemberdayaan ekonomi juga,” ujarnya.

Menurut Eko, aliran dana yang masuk ke desa baik dana desa dari APBN maupun Alokasi Dana Desa (ADD) dari pemerintah daerah, dapat dimaksimalkan untuk mendatangkan income (pendapatan) ke desa. Salah satu upaya adalah melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

“Selanjutnya dengan perusahaan swasta dan BUMN (Badan Usaha Milik Negara), bagaimana swasta dan BUMN ini bisa investasi ke desa dalam bentuk pasca panen. Kita upayakan agar bagaimana industri bisa masuk ke desa. Atau desa bisa bikin pelatihan yang bisa bekerja di luar desa, sehingga bisa membawa income masuk ke desa,” terangnya. (*)

Ikuti informasi terkait produk desa >> di sini <<

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *