Setahun Ebola: Hati dan Rumah adalah Kunci Melakukan Terobosan | Villagerspost.com

Setahun Ebola: Hati dan Rumah adalah Kunci Melakukan Terobosan

Seorang ibu dan anaknya menikmati bantuan air bersih dari Oxfam terkait respons ebola di Sierra Leone (Tommy Trenchard/Oxfam)

Seorang ibu dan anaknya menikmati bantuan air bersih dari Oxfam terkait respons ebola di Sierra Leone (Tommy Trenchard/Oxfam)

Jakarta, Villagerspost.com – Pendekatan berlebihan secara nyaris ekslusif hanya pada soal pengobatan sejak awal merebaknya wabah Ebola, ternyata malah menghambat langkah maju gerakan melawan penyebaran wabah tersebut. Oxfam–konfederasi dari 17 organisasi yang bekerja di 94 negara bersama mitra dan kaum rentan untuk menghapuskan kemiskinan– menyatakan, pemerintah dan lembaga donor termasuk oxfam telah mengambil langkah yang tidak seimbang di masa awal respons atas merebanya Ebola dan harus melakukan upaya lebih dalam kerja melibatkan komunitas atau masyarakat.

Menandai peringatan satu tahun mewabahnya Ebola, Oxfam mengatakan, solusi teknikal seperti penambahan tempat tidur, pekerja medis, dan lebih banyak obat, meskipun vital namun tidak akan pernah memadai untuk mengatasi persebaran wabah tersebut. Agensi menekankan, bahwa perawatan dan pencegahan penyakit tersebut sama-sama diperlukan dan harus dilakukan bersamaan.

“Kita masih berada di jalan yang panjang menuju kepada angka nol kasus, namun sudah menuju ke arah yang positif dan tidak dapat meninggalkan usaha ini. Kemajuan ini tidak dapat terjadi tanpa adanya usaha medis yang penuh keberanian, namun apa yang telah terjadi di jantung dan rumah-rumah mereka yang terpapar risiko Ebola sudah menjadi sesuatu yang juga krusial,” kata Sue Turrell, Head of Oxfam’s Ebola Response, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Minggu (22/3).

Sue mengatakan, saat masyarakat merasa terlibat penuh, paham benar apa yang harus mereka lakukan agar tetap aman dan dibantu untuk melakukan hal-hal yang mereka tahu akan efektif, gelombang dukungan akan beralih untuk melawan Ebola. “Jika penekanan yang lebih besar dalam pelibatan masyarakat sudah dilakukan jauh sebelum ini maka lebih besar kecenderungan jumlah yang meninggal karena Ebola akan lebih sedikit,” ujarnya.

“Dengan mengingat bahwa hal ini telah menjadi krisis yang belum pernah diprediksi sebelumnya, tentu tidak mengejutkan jika mereka yang terlibat dalam usaha penyembuhan masih dalam fase belajar. Di Oxfam, kita berjuang di bagian awal dari krisis untuk membantu menyeimbangkan kebutuhan untuk melindungi staf kita dan memberikan apa yang dibutuhkan masyarakat, dan kita harus cepat menyesuaikan pekerjaan kita agar dapat membantu melakukan perubahan,” tegas Sue.

Ebola memutarbalikkan semua aspek kehidupan, bagaimana orang merawat keluarganya, tetangganya, pasangannya, jenazahnya, dan bahwa tubuh mereka sendiri. Untuk meyakinkan masyarakat agar mengubah pandangan mereka terkait isu-isu ini dan memahami penyakitnya, pendekatan yang memberikan pemahaman dan penuh kesukarelaan sangatlah penting.

Agensi menyatakan bahwa umumnya pendekatan pelibatan masyarakat dan ‘buy-in’ telah dikenali sebagai bagian penting dari respons Ebola oleh pemerintah dan agensi pemberibantuan. “Tanpa adanya aspek penerimaan masyarakat akan perlawanan terhadap Ebola, misalnya perawatan, pemakaman yang aman, menelusuri jejak kontak, maka tujuan akan sulit tercapai dan efektif,” kata Sue.

Oxfam melakukan sebuah studi antropologis di akhir tahun kemarin yang hasilnya menyatakan bahwa persepsi negatif dan rasa takut terhadap usaha respons Ebola memberikan kontribusi pada ketidakpatuhan dan resistensi di sejumlah daerah. Berdasarkan wawancara formal dan informal, focus group discussion (FGD), kunjungan situs, dan pengamatan partisipatif, ditemukan bahwa pengalaman terdahulu orang Liberia terhadap respons Ebola memunculkan ketidakpercayaan pada agen pemerintahan, rasa takut terhadap orang asing dan fasilitas ambulans dan medis yang semuanya mengarah kepada kebergantungan mereka pada pengobatan rumahan untuk mengatasi penyakit tersebut.

Agensi tersebut mengatakan, tantangan untuk mencapai target Zero alias Nol Kasus Ebola tidak akan mudah dan membutuhkan peran pemerintah dan agensi untuk memberikan prioritas kepada keterlibatan masyarakat dan koordinasi pada level distrik/kecamatan. “Juga memerlukan menjaga kapasitas untuk dapat merawat penduduk di tempat hingga kita mencapai target Zero Ebola,” ujar Sue.

Memandang ke depan, Oxfam mengatakan, jaringan masyarakat atau komunitas yang telah terbangun dlam respons atas Ebola telah memberikan landasan untuk mengatasi masalah kesehatan dan sosial dari masalah kolera dan malaria, hingga ke masalah kewajiban bersunat bagi perempuan saat Ebola sudah berhasil dienyahkan. Oxfam berharap keterlibatan komunitas juga akan membawa kepada keterlibatan masyarakat dalam memutuskan dan merencanakan keperluan seputar pemulihan di tingkat pemerintah lokal dan dalam pengambilan keputusan terkait hal yang mempengaruhi hidup mereka. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *