Stop Kebakaran Hutan, Lahan Gambut Harus Tetap Basah | Villagerspost.com

Stop Kebakaran Hutan, Lahan Gambut Harus Tetap Basah

Presiden Jokowi meninjau kalan Sungai Tohor (Dok. Koalisi Blusukan Asap)

Presiden Jokowi meninjau kanal Sungai Tohor (Dok. Koalisi Blusukan Asap)

Jakarta, Villagerspost.comBlusukan asap Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Sungai Tohor, Kabupaten Meranti, Riau, pada 27 November 2014 lalu, sedikit banyak berdampak positif kepada wilayah tersebut. Daerah yang dikunjungi Jokowi berhasil berperan mengatasi bencana kekeringan dan mengurangi risiko kebakaran hutan.

Juru Kampanye Politik Hutan Greenpeace Indonesia Teguh Surya mengatakan, saat ini titik api tidak ditemukan di wilayah Sungai Tohor usai implementasi komitmen pembangunan sekat kanal, meski tengah dilanda kemarau selama dua bulan terakhir. Padahal sepanjang kuartal pertama tahun lalu wilayah tersebut mengalami kebakaran hebat akibat keringnya lahan gambut.

“Sekat kanal yang dibangun atas dukungan Presiden Jokowi terbukti ampuh membuat tanah gambut tetap basah sehingga sulit terbakar. Hal ini tak hanya berhasil mengatasi persoalan kebakaran hutan, tetapi juga membantu menambah pasokan air bersih warga pada saat musim kemarau,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Selasa (24/2).

Wimar Witoelar dari Yayasan Perspektif Baru juga mengatakan, kedatangan Presiden Jokowi ke Sungai Tohor bukan hanya memberikan hasil nyata bagi masyarakat Sungai Tohor. “Tetapi juga merupakan proses yang dinantikan masyarakat untuk mengawali perbaikan dalam masalah kebakaran hutan di daerah-daerah lain di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Sebelumnya pengeringan lahan gambut melalui pembangunan kanal tak hanya membuat warga berhadapan dengan api dan asap kebakaran hutan, tetapi juga dengan bencana kekeringan akibat hilangnya pasokan air bersih. Pada tahun lalu saja warga harus membeli air untuk kebutuhan sehari-hari sebanyak minimal satu drum setiap hari dengan harga Rp30.000.

Meski demikian, hasil positif tersebut tak membuat Teguh cepat berpuas hati. Menurutnya ini adalah penanda baik bahwa sekat kanal harus dimplementasikan dalam kebijakan permanen. Selain itu sekat juga harus diaplikasikan di wilayah lain, khususnya wilayah pesisir timur pulau Sumatera yang memiliki bentang wilayah gambut luas dan dalam kondisi kritis akibat pengeringan melalui pembangunan kanal.

“Lebih jauh, pembangunan sekat kanal untuk membasahi gambut juga sejalan dengan janji Jokowi untuk memperpanjang dan memperkuat moratorium yang akan segera berakhir pada bulan 20 Mei 2015,” kata Teguh.

Sebelumnya, Presiden lulusan Fakultas Kehutanan tersebut melakukan  “Blusukan Asap” ke lokasi kebakaran lahan gambut dan hutan ke Riau, tiga bulan lalu. Melalui program yang diinisiasi oleh Yayasan Perspektif Baru, Walhi, dan Greenpeace Indonesia tersebut, Presiden melihat dan melakukan langsung penyekatan kanal di wilayah Sungai Tohor, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau.

Kunjungan tersebut juga menjawab tantangan petisi Abdul Manan tentang kebakaran hutan di Sungai Tohor melalui  platform  http://change.org/blusukanasap.

Pada kesempatan itu, Presiden Jokowi juga menginstruksikan untuk mencabut izin-izin yang terbukti merusak lingkungan. Bahkan pada ‘blusukan’ yang dilakukan pada 27 November 2014 tersebut, Jokowi turun langsung dalam penyekatan kanal yang sebelumnya dilakukan oleh warga.

Pada saat yang sama Presiden Jokowi juga berjanji akan berkunjung kembali ke Sungai Tohor tiga bulan usai kunjungan pertama guna melihat efektivitas penyekatan kanal tersebut. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *