Thailand Minat Tingkatkan Investasi Perikanan | Villagerspost.com

Thailand Minat Tingkatkan Investasi Perikanan

Usaha perikanan budidaya (dok kkp.go.id)

Usaha perikanan budidaya (dok kkp.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Thailand menyatakan minatnya untuk meningkatkan investasi di bisnis perikanan di Indonesia. Hal itu diungkapkan Delegasi DPR RI yang dipimpin Andika Pandu Puragabaya yang melakukan pertemuan bilateral dengan Parlemen Thailand di Bangkok, Rabu (18/11).

Menurut Andika, kerja sama di sektor perikanan menjadi perhatian khusus Thailand. Saat ini, kerja sama perikanan antara kedua negara memang tengah mengalami kendala, yang menurut salah satu anggota Parlemen Thailand disebabkan oleh sektor swasta yang bekerja masing-masing.

Namun saat ini, Thailand sudah melakukan revisi UU sehingga ada jaminan bahwa penangkapan ikan tidak dilakukan secara illegal. Thailand mengharapkan agar kerja sama perikanan dengan Indonesia dapat ditingkatkan kembali.

“Thailand menyatakan kesiapannya untuk meningkatkan investasi di Indonesia, khususnya di sektor perikanan,” kata Andika seperti dikutip dpr.go.id, Kamis (19/11).

Minat Thailand ini dinilai selaras dengan keinginan Kementerian Kelautan dan Perikanan yang mengharapkan adanya pertumbuhan ekonomi sektor perikanan dan kelautan di Indonesia agar dapat menyentuh angka 12%.

“Kita harus tumbuh 12 persen lho, Pak Rizal. Tidak bisa tumbuh di bawah 12 persen lagi. Kalau ini tidak terjadi, bangsa ini saat tua tidak memiliki apa-apa dan akan kelimpungan,” ujar Susi saat menerima Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramli di kantornya, Jakarta, Rabu (18/11) seperti dikutip kkp.go.id.

Susi mengatakan, saat ini secara demografi, Indonesia sudah mulai beranjak tua. Dengan usia rata-rata sekitar 30-40 tahun saat ini. Kondisi ini membuat Indonesia hanya memiliki waktu sekitar 25-35 tahun untuk memasuki usia tua.

Jika tidak ingin memiliki utang di masa tua tersebut, maka pertumbuhan ekonomi harus di atas 12 persen. Karena saat Indonesia berusia tua maka sudah tidak produktif lagi sehingga semuanya akan mulai berkurang, termasuk sumber daya.

Pertumbuhan tersebut, lanjut Susi, hampir tidak mungkin diperoleh dari pertanian karena banyaknya lahan persawahan yang sudah beralih fungsi. Sementara pertumbuhan dari sektor kehutanan semakin sulit karena hutan kini sudah banyak terbakar. Apalagi mining (pertambangan)yang tidak dapat diperbaharui dan kini statusnya sudah hampir habis.

“Satu-satunya yang memungkinkan pertumbuhan 12 persen ini ya dari sektor perikanan laut dan budidaya. Ini semua masih terus diperbaharui karena ikan akan beranak dan bertelur (berkembang biak). Jika pengelolaannya salah, ya habis juga,” tuturnya.

Dalam kesempatan tersebut, Susi menyampaikan sedikit kegembiraannya atas pertumbuhan ekonomi sektor kelautan dan perikanan yang kini menyentuh angka 8,8 persen berdasarkan perkiraan Badan Pusat Statistik (BPS) Bulan Juni atau Semester 1 tahun 2015. Di akhir tahun 2014, pertumbuhan ekonomi sektor perikanan menyentuh angka 8,9 persen. Namun saat Semester 1 di 2014 dan kuartal 3, pertumbuhannya hanya 6,6 persen.

Menurut Susi, pertumbuhan sektor kelautan dan perikanan ini salah satunya dipengaruhi kegiatan pemberantasan illegal fishing dan kebijakan moratorium bekas kapal asing yang dilakukan oleh pihaknya. Sebelum kegiatan penenggelaman kapal-kapal illegal fishing ini dilakukan, pertumbuhan perikanan Indonesia itu rata-rata cuma 6 persen. Padahal saat itu tidak ada headwinds (gangguan ekonomi).

“Growth-nya 8,8 persen itu baru data sementara, belum masuk semua. Sekarang ada headwinds, pertumbuhannya itu 8,9 persen seharusnya 10 persen. Pertanian dari 6 persen turun ke 3 persen. Kita dari 6 persen naik ke 8 persen, pada saat headwinds. Kalau nanti pertumbuhan global tidak mengalami perlambatan itu bisa saja 12 persen,” tutupnya. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *