Tips Kades Ponggok Bangun BUMDes Beromzet Rp12 Miliar | Villagerspost.com

Tips Kades Ponggok Bangun BUMDes Beromzet Rp12 Miliar

Menteri Desa PDTT Eko Putro Sandjojo meninjau BUMDes Tirta Mandiri, Desa Ponggok (dok. kemendesa pdtt)

Jakarta, Villagerspost.com – BUMDes Tirta Mandiri Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Klaten, Jawa Tengah boleh jadi merupakan BUMDes tersukses se-tanah air. Bagaimana tidak? BUMDes yang berdiri 15 Des 2009 itu, kini sudah memiliki 13 unit usaha dan meraih omzet sebesar Rp12 miliar.

Tak heran jika BUMDes Tirta Mandiri, kini menjadi tempat belajar banyak aparat desa yang ingin belajar mengelola BUMDes. BUMDes Tirta Mandiri menjadi fenomenal lantaan Desa Ponggok sendiri sebenarnya bukan sebuah desa yang dianugerahi sumberdaya alam yang kaya.

Kepala Desa Ponggok Junaedhi Mulyono mengatakan, saat dia pertama kali menjadi kepala desa, dia sempat kebingungan untuk bisa mengembangkan desanya. “Ponggok dulu masih tertinggal, potensinya belum tergali. Dulu tahun 2007 ketika kami awal menjadi Kepala Desa kami bingung, Ponggok ini banyak air, tapi kami bingung mau mengolahnya seperti apa,” ujar Mulyono, di depan perwakilan 81 BUMDes se-Jawa Tengah dan DIY yang hadir di acara BUMDes Talk, Selasa (14/11).

Kegiatan BUMDes Talk itu sendiri digelar oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi bersama Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UGM di Solo sejak kemarin. Lewat acara ini, para pengelola BUMDes se Jateng dan DIY bertandang ke Desa Ponggok, untuk melihat dan bertukar pengalaman langsung terkait keberhasilan BUMDes Tirta Mandiri.

Mulyono mengatakan, untuk mengembangkan BUMDes, hal yang pertama dibutuhkan selain potensi adalah permasalahan dan data. Dalam hal ini ia meminta kerjasama dari LPPM UGM untuk mengirimkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik di desanya hingga tiga tahun berturut-turut.

Adapun KKN pertama fokus pada penelitian permasalahan desa seperti kemiskinan, pengangguran, dan sebagainya. Selanjutnya KKN ke dua fokus pada potensi desa, kemudian KKN ke tiga fokus pada pemberdayaan ekonomi.

“Akhirnya kami dulu berpikir bagaimana mengolah ini seperti skripsi. Ada tantangan, banyak pengangguran, banyak rentenir, akhirnya kami bersurat ke UGM minta diadakan KKN tematik. Kami ajak untuk penelitian masalah yang ada. Karena kalau mau pengembangan, maka data yang diperlukan,” terang Mulyono.

Dia mengakui, menjadikan BUMDes berhasil bukanlah pekerjaan yang mudah, sehingga butuh komitmen besar untuk menjalankannya. Maka tidak heran jika banyak desa yang kebingungan dalam mengelola BUMDes. “Nah ini harus dikembalikan ke tujuan visi dan misi desa. Dari sini kita akan ketemu potensi desa mau diolah seperti apa,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama BUMDes Tirta Mandiri Joko Winarno mengatakan, BUMDes yang telah memiliki 13 unit usaha tersebut telah dikelola secara profesional. Tahun 2015 BUMDes tersebut mampu meraih omzet Rp6,2 miliar, tahun 2016 Rp10,3 miliar, dan tahun 2017 hingga Oktober lalu mencapai Rp12 miliar.

“Pengelolaan kami sudah dalam bentuk holding dan dikelola secara profesional. Potensi sekecil apapun kalau dikelola secara optimal akan menghasilkan hal yang luar biasa,” ujarnya.

Umbul Ponggok sendiri, kata Joko, adalah kawasan wisata kolam desa yang telah mendapatkan rata-rata sebanyak 50.000 pengunjung per bulan. Sehingga dari keuntungan tersebut, Desa Ponggok pun membuat program satu rumah satu sarjana.

Lewat program itu, satu anak dari setiap rumah akan dibiayai kuliahnya oleh desa hingga menjadi seorang sarjana. Selain itu, perangkat desa juga mampu menjamin pembiayaan kesehatan warganya. “Dari sisi kesehatan, kalau ada warga yang sakit sudah tidak lagi mikir biaya. Pemerintah desa sudah mengcover semua,” ujar Joko.

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *