Waspada Ancaman Penyakit Tilapia Lake Virus | Villagerspost.com

Waspada Ancaman Penyakit Tilapia Lake Virus

Panen ikan nila gesir hasil budidaya (dok. kementerian pertanian)

Jakarta, Villagerspost.com – Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan meminta agar para petambak mewaspadai ancaman penyakit Tilapia Lake Virus (TiLV). Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto mengatakan, penyakit ini mengancam ikan jenis Tilapia (Nila dan Mujair) baik yang dibudidayakan maupun di perairan umum.

Saat ini, cukup banyak negarayang sudah terjangkit yaitu Israel, Ekuador, Mesir dan Kolombia sedangkan di kawasan Asia Tenggara seperti Thailand dilaporkan juga telah terjangkit penyakit ini. Dengan peringatan ini diharapkan penyakit TiLV dapat dicegah masuk ke Indonesia.

“KKP terus memonitor dan mencermati perkembangan penyebaran penyakit TiLV yang sudah mulai mendekat ke Indonesia. Berbagai langkah pencegahan telah dilakukan oleh pemerintah,” kata Slamet Soebjakto, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Selasa (4/7).

Penyakit TiLV ini disebabkan oleh serangan Orthomyxo-likevirus. Di Israel virus ini diketahui menyebabkan kerusakan otak dan sistem syaraf sedangkan di Ekuador menyebabkan kerusakan hati ikan. Ciri–ciri ikan yang terserang TiLV adalah tubuh ikan seluruh atau sebagian besar terlihat berwarna hitam, bola mata membengkak,kornea mata menyusut dan cekung ke dalam. Kemudian, kulit ikan mengalami erosi,dan jika dilihat pada bagian anatomi, rongga perut terlihat membengkak.

Dampaknya akan terjadi kematian massal ikan. Persentase kematian ikan dalam suatu tempat budidaya akibat virus ini mencapai 80-100%. Di negara asal, virus ini telah menyebabkan hancurnya budidaya Tilapia yang menjadi salah satu komoditas andalan usaha bagi masyarakat setempat.

“Virus ini sangat ganas, ikan yang terserang penyakit ini hanya mampu bertahan 4–7 hari setelah terinfeksi. Melihat betapa seriusnya penyakit ini, maka pemerintah berharap pembudidaya dapat segera melaporkan kepada dinas, penyuluh atau UPT terdekat jika ada kematian massal dan tiba–tiba terhadap usaha budidaya Nila atau Mujair yang dikembangkannya,” imbau Slamet.

Penyakit TiLV pertama kali dilaporkan menyerang ikan jenis Tilapia yang ada di Danau Kinneret (Sea of Galilee) dan ikan budidaya di Israel pada tahun 2009. Beberapa tahun kemudian dilaporakan ikan Tilapia di Ekuador juga mengalami kematian massal dan diketahui bahwa ikan–ikan tersebut juga telah terjangkit penyakit TiLV.

Slamet menjelaskan, ada beberapa langkah yang diambil pemerintah untuk mengantisipasi persebaran penyakit ini. Pertama, melakukan pengetatan terhadap impor induk, calon induk maupun benih ikan Tilapia dari luar negeri khususnya dari negara–negara yang sudah terjangkit penyakit TiLV.

Kedua, mengingatkan dan terus mendorong para pembudidaya agar menerapkan prinsip–prinsip cara pembenihan maupun cara budidaya ikan yang baik dengan disiplin dan ketat. Ketiga, meminta seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) lingkup DJPB dan Dinas Perikanan Provinsi/Kabupaten/Kota melakukan surveilan serta monitoring penyakit TiLV. Keempat, untuk sementara tidak melakukan kegiatan penebaran benih Tilapia di perairan umum.

Primadona

Di Indonesia, Tilapia sangat populer sehingga ikan jenis ini menjadi salah satu komoditas utama perikanan budidaya. Tilapia memiliki berbagai keunggulan yaitu resistensi terhadap kualitas air dan penyakit relatif tinggi, tolerans terhadap berbagai kondisi lingkungan, efisien dalam membentuk protein kualitas tinggi dari berbagai bahan organik, memiliki kemampuan tumbuh yang baik serta dapat dibudidayakan di air tawar maupun payau.

Salah satu varian Tilapia yang saat ini sedang gencar digalakkan adalah ikan Nila Salin. Ikan ini cepat populer karena memiliki keunggulan yaitu mampu beradaptasi baik di air dengan salinitas cukup tinggi atau air payau. Kemampuan ini membuat ikan Nila Salin cocok untuk dikembangkan khususnya di tambak–tambak eks budidaya udang windu atau bandeng yang jumlahnya cukup luas dan sudah mulai mengalami penurunan mutu.

Sementara itu, produksi Tilapia Indonesia terus meningkat setiap tahunnya, kenaikan rata–rata produksi yaitu 17,98% per tahun sedangkan nilai produksi rata-rata naik 24,91% per tahun. Tahun 2013 produksi Tilapia sebanyak 914,78 ribu ton senilai Rp10,69 triliun, tahun 2014 naik menjadi 999,69 ribu ton senilai Rp12,38 triliun dan pada tahun 2015 mencapai 1,084 juta ton dengan nilai Rp21,23 triliun.

Ekspor Tilapia Indonesia pun sudah berhasil menyasar berbagai negara. Negara–negara kawasan Amerika yang secara rutin mengimpor Tilapia asal Indonesia yaitu Amerika Serikat dan Kanada sedangkan dari kawasan Eropa yaitu Jerman, Belanda, Prancis dan Belgia.

Selain itu, negara–negara seperti Singapura, Taiwan, Malaysia, Vietnam dan Australia juga merupakan importir Tilapia Indonesia. Volume ekspor Tilapia tahun 2015 mencapai 14.681 ton senilai US$89,7 juta dan pada tahun 2016 sebesar 11.879 ton senilai US$71,419 juta (BPS 2015, 2016). Meskipun turun, namun volume dan nilai ekspor Tilapia masih menduduki urutan ketiga komoditas hasil perikanan budidaya setelah udang dan rumput laut, namun untuk kelompok ikan menduduki posisi teratas.

“Untuk kelompok ikan, volume dan nilai produksi maupun ekspor Tilapia merupakan yang tertinggi di antara komoditas perikanan budidaya lainnya. Berdasarkan fakta ini, maka Tilapia memiliki posisi yang sangat strategis, sehingga pemerintah melalui KKP akan terus berupaya menjaga agar budidaya Tilapia maupun komoditas lainnya aman dari berbagai ancaman baik yang bersifat pathogen maupun non pathogen,” pungkas Slamet. (*)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *