Yeb Sano, Direktur Eksekutif Greenpeace Asia Tenggara | Villagerspost.com

Yeb Sano, Direktur Eksekutif Greenpeace Asia Tenggara

Yeb Saño, Direktur Eksekutif Greenpeace Asia Tenggara yang baru (dok. greenpeace)

Yeb Saño, Direktur Eksekutif Greenpeace Asia Tenggara yang baru (dok. greenpeace/christian aslund)

Jakarta, Villagerspost.com – Greenpeace Asia Tenggara hari ini mengumumkan penunjukan aktivis iklim terkemuka Naderev ‘Yeb’ Sano sebagai Direktur Eksekutif-nya. Yeb memiliki rekam jejak yang sangat baik dalam memimpin gerakan lingkungan di dunia. Greenpeace yakin dia akan memeningkatkan kinerja organisasi untuk memastikan masa depan yang lebih hijau, bersih, dan damai bagi seluruh penduduk Asia Tenggara.

Selain itu Yeb juga diyakini dapat mendorong upaya global untuk mengatasi bencana terkait perubahan iklim. Ketua Dewan Pembina Greenpeace Asia Tenggara Suzy Hutomo mengaku gembira dengan penunjukan Yeb Sano. “Dengan gembira kami menyambut Yeb Sano sebagai Direktur Eksekutif Greenpeace Asia Tenggara. Kami yakin Yeb akan meningkatkan kerja-kerja terkait mengubah sikap dan perilaku untuk melindungi dan melestarikan lingkungan dan mempromosikan perdamaian, juga melindungi bumi yang rapuh dari kehancuran. Bersama-sama kita dapat mencapai keadilan lingkungan,” kata Suzy dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Senin (1/2)

Yeb lahir di Manila, Filipina, dan telah 20 tahun mendedikasikan diri untuk menghentingan bencana perubahan iklim. Sebelum bertugas sebagai Kepala Delegasi Perubahan Iklim Filipina untuk PBB pada 2010, Yeb adalah Direktur Program Perubahan Iklim, WWF-Filipina.

Dalam kapasitasnya sebagai Pemimpin Negosiator Iklim untuk pemerintah Filipina di UNFCCC di Warsawa, 2013, ia mengungkapkan betapa pentingnya untuk bertindak cepat guna mengatasi persoalan perubahan iklim. Pada saat itu, dia mendesak negara-negara di seluruh dunia untuk memberikan komitmen iklim yang kuat dan mengikat. Guna menekankan seruannya tersebut, Yeb melakukan mogok makan bersama ribuan orang di seluruh dunia selama dua minggu sejak konferensi dibuka.

Dia juga berpidato dengan berapi-api di Warsawa. Pasalnya, beberapa hari sebelum pidato tersebut, Topan Haiyan memporak-porandakan Filipina, menewaskan lebih dari 6.000 orang. Kejadian ini tercatat sebagai salah satu badai terkuat yang pernah didokumentasikan. Dia menegaskan para pemimpin yang berada di konferensi tersebut harus serius membahas persoalan perubahan iklim.

“Banyak negara-negara miskin yang akan lebih menderita lagi apabila kita gagal bertindak. Ini adalah saatnya untuk bertindak,” kata Yeb Sano.

Yeb bergabung bersama Greenpeace dengan keyakinan bahwa krisis ekologi dunia tidak dapat diatasi melalui kekuasaan, melainkan melalui katalisasi gerakan global yang saling menghubungkan seluruh umat manusia. “Bumi sedang menghadapi ancaman yang belum pernah terbayangkan sebelumnya, dan tidak ada keraguan bahwa kita harus menemukan cara hidup baru yang sejalan dengan batas ekologi planet ini. Oleh karena itu saya memutuskan untuk berjuang bersama Greenpeace,” ujarnya.

Perjuangan ini, kata dia, tidak dapat dimenangkan dalam batasan-batasan institusi ataupun kenegaraan. “Kita semua harus berdiri bersama-sama untuk mewujudkannya. Saya senang bukan hanya karena bergabung dengan organisasi kampanye yang paling dicintai di sleuruh dunia, tetapi juga karena dengan bergabung bersama Greenpeace artinya saya bergabung dengan jutaan orang dari seluruh penjuru dunia yang membuat pekerjaan fantatis yang dilakukan organsiasi ini dapat terjadi,” pungkas Yeb Sano. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *