Yosep Leribun: Integrasi Pertanian-Peternakan Lewat Kampung Ternak | Villagerspost.com

Yosep Leribun: Integrasi Pertanian-Peternakan Lewat Kampung Ternak

Yosep Leribun dengan kendaraan pengangkut ternak milik usaha "Kampung Ternak" (dok. yosep leribun)

Yosep Leribun dengan kendaraan pengangkut ternak milik usaha “Kampung Ternak” (dok. yosep leribun)

Jakarta, Villagerspost.com – Feses atau kotoran ternak seperti ayam dan babi bagi kebanyakan orang hanya merupakan kotoran tak berguna. Paling jauh, dimanfaatkan untuk menjadi pupuk kandang. Namun di tangan Yosep Leribun, kotoran ayam dan babi justru bisa menjadi perekat bisnis pertanian dan peternakan.

Bagaimana bisa? Pemuda kelahiran Wae Moto, Manggarai Barat Nusa Tenggara Timur ini, punya pemikiran yang cukup unik untuk memanfaatkan limbah kedua hewan ternak itu. Yosep yang merintis usaha peternakan ayam broiler dan babi sejak tahun 2012, melihat feses ayam bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak babi. “Fases ayam masih mengandung protein karena pencernaannya tidak sempurna,” kata Yosep.

Maka Yosep pun mengolah kotoran ayam yang difermentasi dengan pakan hijau untuk menjadi pakan ternak babi miliknya. Praktik ini ternyata membuahkan hasil dan bisa menekan biaya produksi. Sebaliknya, kotoran babi digunakan untuk menyuburkan pakan hijau dan sayuran.

Tak dinyata dengan memanfaatkan bahan-bahan yang ada, Yosep tak hanya mengembangkan bisnis peternakan tetapi juga membantu pengembangan bisnis sayuran. Bisnis pemuda kelahiran 23 Juni 1988 ini pun berkembang pesat. Di tahun 2012 dia hanya bermitra dengan 5 orang teman muda dari kampung berbeda. Di tahun 2016, Yosep sudah bisa bermitra dengan 26 orang yang sebagian besar terdiri dari keluarga muda.

Di awal bisnisnya, Yosep harus bekerja keran membantu kawan-kawannya itu. “Saya yang mendanai dan memberi pelatihan, para mitra yang merawat dan yang menjual, hasilnya 30% balik modal. Dari julmlah itu 30 % untuk saya dan 40% untuk mitra,” ujarnya.

Seiring perkembangan usahanya, di tahun 2014 akhir itu pula Yosep membangun sentra peternakan “Kampung Ternak” untuk memelihara ternak ayam broiler, ternak babi, ikan lele dan penjualan obat–obatan. Selain dari modal pribadi, “Kampung Ternak” dibangun berkat dana dari beberapa anak muda yang termotivasi dalam bidang pertanian dan peternakan, dengan sistem bagi modal.

Tahun 2015, Yosep direkrut sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat yang bergerak dalam bidang pengembangan perekonomian masyarakat desa sebagai project manager. “Kesempatan ini saya pakai untuk memotivasi anak muda untuk membuka usaha dibidang pertanian dan peternakan dengan dibantu dana dari LSM,” ujarnya.

Dari situ, Yosep berhasil menggalang dana dari donatur untuk membawa 15 orang peternak kecil/pemula untuk studi banding beternak babi di Klungkung, Bali. Lewat pengalaman di LSM ini pula, dia mengembangkan integrasi antara peternakan dan pertanian, khususnya sayuran.

Yosep berpendapat, agribisnis adalah bidang menjanjikan untuk dijalani. Anak-anak muda dapat menuangkan kreativitas dan ide baru dunia agribisnis. Dengan beternak yang terintegrasi dengan pertanian, Yosep ikut mengubah mindset anak-anak muda untuk bisa memanfaatkan dan mengelola secara kreatif lahan–lahan potensial yang tidak digunakan. “Bertani dan berternak itu kekinian serta prospektif untuk masa depan kita,” ujarnya.

Usaha Yosep juga semakin berkembang seiring semakin kaya pengalamannya. “Tahun 2016, kandang ayam broiler yang bermitra dengan saya sebanyak 37 kandang. 80 ekor induk babi dan 3 kolam lele pembesaran,” ujarnya.

Pelan-pelan, dia mampu mewujudkan visinya untuk mewujudkan bisnis peternakan yang terintegrasi dengan pertanian untuk masyarakat menengah ke bawah, serta mewujudkan agrobisnis yang berbasis jejaring dan keanggotaan di kalangan peternak dan petani kecil. Lewat visinya ini, Yosep ingin mewujudkan misi untuk memperoleh penghasilan dari peternakan dan pertanian baik bagi dirinya maupun bagi para peternakan yang menjadi mitra.

Meski begitu, Yosep mengakui masih ada kendala yang dia hadapi dalam mengelola bisnisnya ini. “Selai Kendanla dana, saya memulai usaha bermodalkan dengkul alias saya bukan dari latar belakang pendidikan pertanian atau peternakan tentu memiliki tantangan tersendiri terutama dari segi penanggulangan risiko penyakit pada hewan,” katanya.

Untuk menghadapi hal tersebut, dia pun mengajak seorang teman yang memilik basic ilmu peternakan untuk bekerja sama. “Keahliannya saya hitung sebagai modalnya dalam kerja sama ini,” ujarnya.

Kendala berikutnya, kandang–kandang tersebut dikelola oleh anak–anak muda baik yang sudah berkeluarga mapun yang belum berkeluarga.  “Tantangan awal yang saya dapatkan ialah keengganan mereka untuk beternak, sebab pandangan umum dalam masyarakat di daerah saya bahwa tamatan sarjana atau sejenisnya harus kerja di kantoran, terlepas seberapa besar pendapatan yang diperoleh,” katanya.

Yosep berharap, dengan terpilih sebagai Duta Petani Muda 2016, dia bisa semakin kuat untuk meyakinkan teman–teman di daerahnya bahwa pertanian dan peternakan itu kekinian. “Bertani dan beternak bukan pilihan akhir ketika kita hopeless karena tidak diterima sebagai karyawan kantoran tetapi sebaliknya menjadi pilihan yang menjanjikan dan prospektif untuk masa depan kita,” pungkasnya.

Ikuti informasi terkait pemilihan Duta Petani Muda >> di sini <<

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *