Bertanam Bawang Merah Bebas Racun Kimia | Villagerspost.com

Bertanam Bawang Merah Bebas Racun Kimia

Bawang hasil budidaya tanpa racun kimia (dok. villagerspost.com/sudargo)

Oleh: Sudargo, petani padi organik asal Desa Ronggo, Kecamatan Jaken, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Jurnalis Warga untuk Villagerspost.com

Artikel ini saya tulis, bermula dari keprihatinan saya atas berita impor bawang merah “palsu” alias bawang bombai ukuran kecil yang berwarna merah yang diimpor dari India, dan dijual di Indonesia sebagai bawang merah. Dari berita yang saya baca, impor bawang merah “palsu” ini bisa merugikan petani bawang hingga miliaran rupiah. Tentunya bagi petani bawang, termasuk saya, ini merupakan berita yang menggelisahkan.

Di sisi lain saya juga prihatin karena ada juga persepsi kalau petani bawang merah di Indonesia, terkesan “kecanduan” menggunakan bahan-bahan kimia sintetis baik itu pupuk, herbisida, fungisida maupun insektisida. Banyak rekan petani sendiri yang kurang percaya diri dan malah mengatakan, kalau tidak menggunakan bahan-bahan kimia sintetis dan sejenisnya, bawang akan sulit dibudidaya.

Ini tentu akan membahayakan bagi kelanjutan produksi bawang merah nasional. Bawang merah yang dibudidaya menggunakan bahan kimia sintetis jelas merugikan. Pertama, bawangnya sendiri tentu menjadi “teracuni” karena residu bahan-bahan kimia sintetis tentu tak mudah hilang. Kedua, bawang yang mengandung residu bahan kimia sintetis tentu tidak sehat bagi tubuh. Ketiga, penggunaan bahan kimia sintetis dalam budidaya bawang juga akan membahayakan lingkungan, udara, air, tanah, tercemar, yang juga bisa mengganggu kesehatan manusia.

Keempat, kesehatan tanah berkurang karena mikroba alami tanah yang berfungsi mengurai zat-zat yang bermanfaat bagi tanaman menjadi mati atau populasinya berkurang. Kelima, biaya budidaya bawang merah dengan menggunakan bahan kimia sintetis sebenarnya sangat mahal. Untuk menyemprotkan insektisida saja, petani bisa menghabiskan Rp400 ribu-Rp500 ribu sebulan, itu hanya untuk lahan seluas 1/4 hektare.

Hamparan tanaman bawang merah yang dibudidaya secara organis khususnya tanpa racun kimia (dok. villagerspost.com/sudargo)

Saya pun dahulu berpikiran sama dengan kebanyakan petani bawang soal ini. Namun setelah banyak menimbang kerugiannya, saya mulai beralih ke bahan-bahan organis. Mulai awal tahun 2016 saya mencoba untuk membuat pestisida nabati dan mulai bertanam bawang merah bebas racun kimia. Awalnya memang hanya untuk kebutuhan sendiri, namun karena ternyata terbukti sangat mujarab dan ramah lingkungan, pestisida alami saya ini banyak diminati kawan-kawan petani lainnya.

Bukan promosi, namun saya memang punya niat untuk mendorong para petani bawang merah lainnya untuk mulai menggunakan bahan-bahan alami dalam berbudidaya bawang merah. Petani bawang merah sebenarnya bisa memanfaatkan kekayaan alam di sekitar, apalagi kawasan seperti di daerah saya di Pati yang dekat kawasan hutan yang kekayaan hayatinya masih lumayan, untuk bisa memproduksi tak hanya pestisida namun juga pupuk hayati.

Lewat tulisan ini saya mau berbagi satu pengalaman saja yaitu terkait pembuatan pestisida nabati dari berbagai bahan yang tersedia di alam di sekitar kita. Pertama, adalah dari tanaman tuba (Derris elliptica Bth.). Seperti diketahui, tanaman tuba ini memiliki kandungan rotenona (rotenone), sejenis racun kuat untuk ikan dan serangga (insektisida).

Langkah membuatnya, tanaman tuba getahnya kita peras dan kemudian dicampur dengan perasan daun brotowali (Tinospora crispa (L.)). Campuran kedua jenis tanaman ini ternyata sangat ampuh untuk memberantas hama walang sangit, ulat, kutu loncat, wereng hijau/coklat dan lain-lain. Tak hanya manjur untuk hama tanaman bawang merah, pestisida nabati ini juga bisa diaplikasikan pada tanaman cabai, tomat, hortikultura dan tanaman padi.

Kedua, adalah dari biji bengkoang (Pachyrhizus erosus) yang dicacah dan diperas sarinya kemudian dicampur dengan mimba atau daun mimba atau (Azadirachta indica A. Juss). Campuran dua jenis tumbuhan ini kemudian difermentasi dan jika sudah terfermentasi dengan baik, bisa digunakan untuk memberantas ulat pada tanaman bawang merah, tomat, terong.

Sebenarnya masih banyak lagi bahan tumbuhan yang ada di sekitar hutan yang bisa digunakan semagai pestisida atau insektisida alami. Untuk tanaman padi, saya sendiri sudah mencoba untuk membuat dan mengaplikasikannya sejak tahun 2011 silam. Dengan membuat 10 liter insektisida alami ini, ternyata hasil tanam padi saya bagus. Lantas saya juga mulai juga aplikasikan pada tanaman cabai yang ternyata hasilnya juga sangat baik.

Hasil panen bawang merah tanpa racun kimia, sebelum dipetik dan dikeringkan, umbi bawang tampak segar dan merah alami (dok. villagerspost.com/sudargo)

Dari situ saya berinisiatif membuat lebih banyak dan saya berikan kepada kawan-kawan petani dengan harapan mereka mau mengikuti cara bertanam secara organis seperti saya. Sayang ketika itu, banyak yang tidak percaya karena saya memang hanya lulusan sekolah dasar. Namun di tahun 2016, setelah saya mengikuti pelatihan start up di IPB tentang pembenihan yang diinisasi juga oleh Gerakan Petani Nusantara (GPN), lambat laun banyak warga sekitar maupun daerah lain yang mulai melirik pestisida nabati yang saya produksi.

Dari sini, dari awalnya sekadar untuk kebutuhan sendiri, ternyata pembuatan pestisida nabati ini bisa menjadi bisnis tersendiri dan saya mampu memproduksi hingga 200 liter. Meski belum ada ujicoba secara klinis, namun di lapangan banyak teman petani baik dari Pati, bahkan dari Rembang, Blora bahkan Semarang, yang sudah membuktikan keampuhan dan sifat ramah lingkungan dari pestisida nabati ini.

Saya berharap pengalaman bertani ramah lingkungan ini bisa juga diterapkan di wilayah lain dan tidak hanya untuk petani bawang merah saja, namun petani hortikultura dan juga padi. Pertanian organis dan ramah lingkungan ini saya yakini akan berkontribusi terhadap tumbuhnya generasi yang sehat dan cerdas karena tidak terkontaminasi bahan-bahan kimia sintetis.

Selain itu, kawan-kawan petani, khususnya petani bawang merah, dengan aplikasi pestisida nabati ini juga bisa sangat menghemat biaya. Jika petani bisa memanfaatkan kekayaan alam di sekitarnya untuk menciptakan pertanian ramah lingkungan, sudah pasti masyarakat akan sehat, lingkungan juga akan sehat dan berkelanjutan.

Hanya saja, sebagai petani yang hanya lulus sekolah dasar, kadang saya bertanya-tanya, apakah upaya ini bisa menjadi sesuatu yang melanggar hukum karena memang pestisida nabati yang saya produksi memang tidak pernah melalui uji laboratorium. Karena itu, saya berharap inovasi-inovasi petani seperti saya dalam menciptakan bahan-bahan pertanian ramah lingkungan seyogyanya mendapatkan dukungan akademisi dari kampus seperti IPB atau kampus yang memiliki fakultas pertanian lainnya.

Dengan demikian, hasil inovasi petani akan lebih meyakinkan dan sah secara ilmiah sehingga bisa bermanfaat buat orang banyak. Yang jelas, kami para petani akan terus berinovasi, berkreasi menciptakan sistem bertani yang lebih baik, ramah lingkungan, tanpa harus bergantung pada negara. Hidup Petani!!!

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *