Mengatasi Serangan Patek Pada Cabai di Proses Pascapanen Dengan Ozonisasi | Villagerspost.com

Mengatasi Serangan Patek Pada Cabai di Proses Pascapanen Dengan Ozonisasi

Ilustrasi perkebunan cabai (dok. kementerian pertanian)

Kehilangan atau penurunan hasil pada budidaya cabai umumnya terjadi akibat penyakit, khususnya penyakit patek (anraknosa), atau penyakit yang disebabkan jamur (Colletotrichum capsici). Penyakit ini sering menjadi wabah pada musim penghujan, namun kejadian di musim kemarau juga bukan tidak mungkin. Patek juga bisa menyerang saat proses distribusi.

Lebih gawat lagi, patek sangat mudah menular. Cabai yang berpenyakit patek akan menulari cabai lainnya sepanjang proses distribusi. Walaupun pengumpul/pengepak telah melakukan sortasi, penyakit ini tetap kerap ditemui dan merupakan salah satu penyebab utama kehilangan hasil (losses) pada cabai. Kehilangan hasil (losses) pascapanen cabai diperkirakan mencapai 20-30 persen, dan merupakan salah satu penyebab fluktuasi harga yang ekstrem.

Untuk mencegah terjadinya kehilangan produksi cabai akibat penularan penyakit patek, khususnya pada proses pascapanen ini, Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian (BB-Pascapanen) Kementerian Pertanian, bekerja sama dengan PT Agro Indo Mandiri telah melakukan uji coba implementasi teknologi penurunan kehilangan hasil pada cabai. Ujicoba teknologi yang disebut dengan teknologi ozonisasi ini merupakan bagian dari kegiatan ASEAN Cooperation Project: Reduction of Postharvest Losses for Agricultural Produces and Products (ASEAN PHL-R) atau upaya Asean mengurangi kehilangan produksi pasca panen pada produksi pertanian.

Teknologi ozonisasi ini diterapkan dalam proses pencucian cabai di pengumpul/pengepak, sebelum cabai dikemas untuk didistribusikan. Ozonisasi ini dapat meminimalkan pertumbuhan mikroorganisme perusak cabai, termasuk patek. Selain itu, ozon juga efektif mengurangi residu pestisida dan menjaga kesegaran cabai selama penyimpanan.

Untuk mendapatkan penurunan losses yang optimal, implementasi teknologi yang dilakukan dalam kegiatan ASEAN PHL-R ini, tidak hanya ditujukan pada penekanan penyakit patek. BB-Pascapanen bersama PT. AIM telah melakukan uji coba implementasi teknologi pada titik-titik kritis rantai pasok cabai, dari Magelang, Jawa Tengah sampai Jakarta dan Tangerang.

Rantai pasok yang digunakan pun telah dirancang untuk efisiensi dan penurunan losses. Hasil panen dari petan di Magelang dikirim ke pengumpul pengepak, lalu langsung didistribusikan ke pasar induk di Jakarta dan Tangerang.

Teknologi yang diimplementasikan antara lain panen dengan panduan Bagan Warna Cabai, pengangkutan ke pengumpul/pengepak menggunakan krat sebagai pengganti karung plastik bekas pupuk, pencucian dengan ozon, pengemasan menggunakan kardus berperforasi dan transportasi ke pasar induk menggunakan mobil berpendingin.

Hasil implementasi teknologi menunjukkan hasil yang menjanjikan. Cabai lebih segar secara kasat mata, dan sangat sedikit yang rusak akibat gangguan mikroorganisme seperti antraknosa.

Teknologi ozon yang diterapkan berhasil menurunkan infestasi jamur Colletotrichum capsici. Berbeda dengan cabai yang menggunakan praktik penanganan konvensional, di mana masih ditemukan cukup banyak cabai berpenyakit.

Dikombinasikan dengan teknologi lainnya dalam paket teknologi ini, manfaat teknologi ozon akan terus diteliti dan dikembangkan oleh BB-Pascapanen dalam upaya menurunkan loses pascapanen cabai. Nantinya, hasil kegiatan ini akan didiseminasikan dan diadopsi oleh negara ASEAN lainnya.

Editor: M. Agung Riyadi
Sumber: BB Pasca Panen Kementan

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *