Mengatasi Serangan Wereng Coklat | Villagerspost.com

Mengatasi Serangan Wereng Coklat

Hamparan tanaman padi yang mengalami kerusakan akibat serangan wereng coklat (dok. pertanian.go.id)

Dalam minggu-minggu ini serangan wereng coklat mengancam pertanaman padi di tanah air. Wilayah persawahan seperti di Indramayu, Subang, Karawang, misalnya, mengalami serangan cukup parah sehingga terjadi penurunan produksi padi.

Berdasarkan penelitian terkini di IPB, diketahui ada beberapa faktor pendorong terjadinya ledakan wereng, yaitu:

– Penggunaan pestisida yang salah dan eksesif. Sejumlah 70% petani padi di Jawa menggunakan pestisida yang sebenarnya bukan untuk padi, yang bisa memacu resurjensi (menurunnya kepekaan hama, penyebab penyakit dan/atau gulma terhadap Pestisida tertentu–kebal), yaitu kelompok organoposfat dan pyrethroid konvensional. tahun 1991 petani Karawang menyemprot pestisida 3x per musim, namun sekarang ini meningkat menjadi 12x per musim. Ecosystem resilience melemah.
– Tidak dikembalikannya jerami, pakan alternatif predator kurang, sehingga predator tidak berkembang.
– Penggunaan fungisida yang juga sangat intensif— membunuh cendawan endofit (cendawan yang hidup dalam jaringan tanaman, tanpa menimbulkan gejala penyakit pada tanaman inangnya)– yang memberikan ketahanan padi terhadap hama.
– Ketersediaan Kalium yang rendah, petani memberikan pupuk K hanya dalam pupuk majemuk NPK, sementara jerami sebagai sumber K tidak kembali.
– Sawah yang tidak bisa dikeringkan.

Lantas bagaimana cara mengatasi serangan hama wereng coklat ini, berikut adalah saran pengendalian secara alami yang tidak merusak lingkungan dan tidak memperparah serangan wereng:

– Pengembalian jerami
– Menghindari pemakaian pestisida hingga padi umur 30 hari
– Tidak menggunakan pestisida gol organoposfat dan pyrethroid konvensional
– Hindari penggunaan fungisida
– Pemupukan Kalium yang cukup dengan pupuk buatan maupun pengembalian jerami
– Sawah tidak tergenang terus (untuk saat ini sulit dilakukan karena curan hujan yang tinggi)
– Bioimunisasi — perlakuan benih dengan PGPR (plant growth promoting rhizobacteria dan cendawan endofit)
– Agens hayati seperti Beauveria (cendawan entomopatogen yaitu cendawan yang dapat menimbulkan penyakit pada serangga), Lecanicillium dipakai seawal mungkin
– Bagi pertanaman yang sudah terserang: keringkan sawah, buat lorong-lorong agar matahari masuk, bisa diaplikasi agensi hayati atau buprofezin. Insektisida efektif kalau wereng masih instar (periode pergantian kulit) 1-2 atau baru menetas, jadi sangat penting untuk melakukan pemantauan. Pemantauan pada daerah terserang 2 hari sekali, tidak mengikuti standar seminggu sekali.

Mudah-mudahan tips ini ada manfaatnya.

Tips dari: Dr. Ir. Suryo Wiyono, pakar penyakit tanaman, Ketua Departemen Proteksi Tanaman Institut Pertanian Bogor

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *