Mengenal Penyakit Blas dan Penanganannya | Villagerspost.com

Mengenal Penyakit Blas dan Penanganannya

Hamparan sawah yang terkena serangan blas (dok. departemen proteksi tanaman ipb)

Hamparan sawah yang terkena serangan blas (dok. departemen proteksi tanaman ipb)

Bogor, Villagerspost.com – Penyakit blas sejatinya sudah lama dikenal sebagai salah satu penyakit yang menyerang tanaman padi. Kepala Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor Dr. Ir. Suryo Wiyono mengatakan, penyakit blas diperkirakan muncul sejak tahun 5000 SM di Asia yang merupakan kawasan asal munculnya tanaman padi.

Dalam perjalanannya penyakit yang disebabkan oleh jamur Pyricularia oryzae ini menjadi ancaman serius bagi tanaman padi di banyak negara. Epidemi blas pernah terjadi di China tahun 1634, Jepang tahun 1704, Italia (1828), Amerika Serikat (1876) dan India (1913). “Blas punya potensi menjadi epidemi dalam skala luas atau pandemi. Kita tidak harapkan itu terjadi di sini,” kata Suryo kepada Villagerspost.com, Senin (3/10).

(Baca juga: Blas Mengganas, Swasembada Beras Terancam Bablas)

Di Indonesia sendiri sebelum 2007 blas belum menjadi penyakit penting pada tanaman padi. Sebelum tahun itu, blas dikenal sebagai penyakit yang menyerang padi gogo. Namun antara tahun 2001-201, serangan blas meningkat hingga 12 kali lipat dan menjadi ancaman serius. “Tahun ini sudah menjadi OPT (organisme pengganggu tanaman) utama padi,” terang Suryo.

Terjadinya duplikasi lingkungan tanaman padi gogo pada padi sawah akibat teknik budidaya yang tak selaras alam menjadi penyebab blas menyerang padi sawah. pola pertanian dengan menggunakan pupuk kimia tak seimbang, herbisida, fungisida, dan pestisida telah membuat lingkungan sawah menjadi serupa dengan lingkungan padi gogo yaitu kadar kalium (K) tersedia lebih rendah, nitrogen (N) dalam bentuk NO3 karena air terbatas, penggunaan pupuk N berlebihan, dan Mikroba menguntungkan dalam tanah tidak berkembang baik karena bahan organik kurang.

Penyakit blas pada padi sawah dapat menyerang pada semua fase pertumbuhan, malahan pada benih padi pun sudah mulai terinfeksi penyakit blas. Dari data International Rice Research Institute (IRRI), pada tahun 1975 sudah ada 250 ras/varian genetis penyakit blas. Penyakit ini memang mampu untuk dengan cepat membentuk ras baru.

Saat kondisi lingkungan mendukung satu siklus penyakit blas hanya membutuhkan waktu 1 minggu dan sangat mudah menyebar lewat udara, siklus ini dimulai dari spora jamur yang menginfeksi tanaman kemudian menghasilkan bercak daun pada tanaman padi dan siklus ini berakhir sampai bersporulasi untuk menyebarkan spora yang baru lewat udara.

Bercak kecoklatan pada daun yang menjadi ciri khas serangan blas (dok. departemen proteksi tanaman ipb)

Bercak kecoklatan pada daun yang menjadi ciri khas serangan blas (dok. departemen proteksi tanaman ipb)

Satu bercak pada daun yang terinfeksi akan tumbuh dan menghasilkan spora jamur baru sampai ratusan hingga ribuan dalam satu malam. Mudahnya jamur Pyricularia oryzae melakukan mutasi menjadi penyebab blas sangat tahan terhadap penggunaan fungisida.

Gejala dan Cara Penanganan

Blas bisa menyerang pada daun, batang, malai dan padi. Pada serangan di daun, blas menyerang pada fase vegetatif dengan gejala munculnya bercak-bercak berwarna kelabu atau putih dan memiliki tepi berwarna kecoklatan atau coklat kemerahan.

Blas yang menyerang leher, menyerang pada fase generatif. Gejala khasnya adalah membusuknya ujung tangkai malai. Tangkai malai yang busuk membuat tangkai malai mudah patah yang mengakibatkan bulir padi tidak terisi dan menjadi kosong. Pada gabah yang sakit juga bisa anda deteksi dengan timbulnya bercak–bercak kecil yang bulat.

Banyak petani tidak mengenali gejala serangan blas dan dikira wereng coklat. Bahkan, menurut Suryo, para penyuluh lapangan pun sering terkecoh dari jauh kelihatan seperti serangan wereng. Karena itu petani yang salah identifikasi kerap menggunakan pestisida untuk mengatasi masalah serangan blas. Padahal selain tak membawa hasil, penggunaan pestisida juga berkorelasi dengan semakin parahnya serangan blas.

Bagaimana cara mengatasinya? Direktur Klinik Tanaman Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian IPB Dr. Ir. Widodo mengatakan ada beberapa cara untuk mengatasinya.

Yang terutama, kata Widodo adalah mengembalikan jerami ke lahan paling sedikit setengah dari total yang ada dan tidak dibakar tetapi dibusukkan. Mengapa tidak dibakar? Membakar jerami, kata Widodo, akan menghilangkan unsur penting yang dibutuhkan tanah.

Nitrogen akan hilang, unsur phospat berkurang 25%, kalium berkurang 20%, dan sulfur hilang 5-10%. Mikroba di tanah pun terpengaruh kehidupannya. Padahal unsur-unsur seperti kalium, phopspat, silika dan mikroba sangat penting mengembalikan keseimbangan unsur hara tanah, sehingga memperkecil peluang blas untuk tumbuh.

Kedua, adalah mengolah lahan secara benar dengan dua kali pengolahan.  Ketiga, tidak menggunakan pupuk N (nitrogen) dengan dosis berlebihan (ikuti dosis anjuran setempat). Keempat, menggunakan benih yang sudah jelas asal-usulnya, terbukti bisa beradaptasi (teruji) di lokasi setempat dan terjamin kesehatannya.

Kelima, perlakuan benih dengan bakteri pemicu pertumbuhan tanaman (Plant Growth Promoting Rhizobacteria atau PGPR) yang jelas asal-usulnya dan sudah teruji. Keenam, menghindari stres tanaman akibat kekurangan air dan penggunaan herbisida.

Ketujuh, penyemprotan dengan teh (ekstrak) kompos dari kotoran ternak kaki empat (ruminansia) minimal pada saat persemaian 2,4,6 minggu setelah tanam (MST) dan setelah masak susu. Kedelapan, melakukan pengamatan secara intensif mulai persemaian sampai umur 6 MST dan jika ditemukan gejala, frekuensi penyemprotan teh kompos ditingkatkan. (*)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *